alexametrics
29.4 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Dalam Lima Bulan, Pernikahan Dini di Kudus Capai 90 Kasus

KUDUS – Angka dispensasi nikah dari Januari hingga Mei terhitung 90 perkara. Angka itu menunjukkan banyaknya pernikahan dini.

Anggota JPPA Kudus Farida mengatakan sudah beberapa kali menangani kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Kasus yang menimpa anak disebabkan faktor keadaan pandemi. Karena saat itu anak-anak kebanyakan full di rumah. Pelaku rata-rata dari kalangan keluarga sendiri. Berbeda jika di sekolah, kegiatan bisa diawasi guru. Namun hal itu tergantung masalah yang dihadapi masing-masing korban. Karena masalahnya beragam.

Sebelum pandemi, pihak JPPA gencar sosialisasi pencegahan pernikahan dini di sekolah-sekolah. Namun setelah terjadi pandemi, kegiatan itu pun tersendat.


Maka, orang tua di rumah pun semestinya harus peduli dan perhatian atau kalau bisa ikut bersikap seperti milenial untuk berinteraksi dengan anak. Harus bisa manjadi teman bagi anak dan tidak hanya dibiarkan saja.

Baca Juga :  Gandeng Mahasiswa UMK, Polisi Gelar Vaksinasi Massal

Farida menjelaskan, keresahan angka pernikahan dini juga tidak hanya dilihat dari angka dispensasi nikah saat ini. Namun juga angka pernikahan dini yang terjadi pada 2021 di Provinsi Jawa Tengah, angka tersebut menunjukkan ada 277.060 pernikahan selama 2021. Terbanyak kedua setelah Jawa Timur yakni dengan angka 298.543 pernikahan, sedangkan peringkat pertama dialami oleh Jawa Barat yakni 346.484 pernikahan.

Penyebabnya beragam, bisa karena kecelakaan (pergaulan yang tidak terkontrol), keluarga yang broken home, pendidikan yang rendah, serta peraturan atau anggapan budaya jika menikah dini adalah hal yang sewajarnya, padahal sebenarnya belum layak untuk menikah. (ark/mal)

KUDUS – Angka dispensasi nikah dari Januari hingga Mei terhitung 90 perkara. Angka itu menunjukkan banyaknya pernikahan dini.

Anggota JPPA Kudus Farida mengatakan sudah beberapa kali menangani kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Kasus yang menimpa anak disebabkan faktor keadaan pandemi. Karena saat itu anak-anak kebanyakan full di rumah. Pelaku rata-rata dari kalangan keluarga sendiri. Berbeda jika di sekolah, kegiatan bisa diawasi guru. Namun hal itu tergantung masalah yang dihadapi masing-masing korban. Karena masalahnya beragam.

Sebelum pandemi, pihak JPPA gencar sosialisasi pencegahan pernikahan dini di sekolah-sekolah. Namun setelah terjadi pandemi, kegiatan itu pun tersendat.

Maka, orang tua di rumah pun semestinya harus peduli dan perhatian atau kalau bisa ikut bersikap seperti milenial untuk berinteraksi dengan anak. Harus bisa manjadi teman bagi anak dan tidak hanya dibiarkan saja.

Baca Juga :  Siswi di Kudus Jadi Korban Begal Payudara saat Berangkat Sekolah

Farida menjelaskan, keresahan angka pernikahan dini juga tidak hanya dilihat dari angka dispensasi nikah saat ini. Namun juga angka pernikahan dini yang terjadi pada 2021 di Provinsi Jawa Tengah, angka tersebut menunjukkan ada 277.060 pernikahan selama 2021. Terbanyak kedua setelah Jawa Timur yakni dengan angka 298.543 pernikahan, sedangkan peringkat pertama dialami oleh Jawa Barat yakni 346.484 pernikahan.

Penyebabnya beragam, bisa karena kecelakaan (pergaulan yang tidak terkontrol), keluarga yang broken home, pendidikan yang rendah, serta peraturan atau anggapan budaya jika menikah dini adalah hal yang sewajarnya, padahal sebenarnya belum layak untuk menikah. (ark/mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/