alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Dinas Jelaskan Penyebab Rendahnya Minat Masyarakat Kudus Tinggal di Flat

KUDUS – Keterisian flat atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kudus rendah. Itu karena rendahnya animo masyarakat. Total dari 384 unit, baru terisi 154.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten (PKPLH) Kudus Agung Karyanto menjelaskan rendahnya keterisian itu karena masyarakat belum terbiasa dengan hunian model vertikal seperti rusunawa. Sebab mind side masyarakat hunian masih model horizontal.

Total flat di Kudus ada empat tower. Masing-masing tower terdapat 96 unit. Artinya bila ditotal ada 384 unit. Tiap satu unit berisi dua kamar.


”Harga satu unitnya paling mahal Rp 185 ribu. Harga ini terbilang paling rendah dibandingkan daerah sekitar seperti Semarang, Demak, Jepara, dan lainnya,” jelasnya.

Menurutnya flat sebenarnya diutamakan bagi masyarakat kategori keluarga pemula. Dengan tujuan memberikan hunian layak bagi mereka yang belum memiliki rumah.

Baca Juga :  Gandeng BRI, PKL di Kudus Terapkan Pembayaran Nontunai lewat QRIS

”Syaratnya gampang. Yakni cukup warga Kudus dengan menunjukkan KTP,” imbuhnya.

Dia menilai lahan untuk perumahan di Kudus masih longgar. Belum sempit dan terbatas layaknya kota besar. Sehingga membuat animo masyarakat menempati rusunawa rendah.

Sementara terkait peruntukan rusunawa bagi warga pinggiran bantaran sungai yang kerap banjir menurutnya hal itu tak masalah. Tetapi problemnya, warga juga tak sepenuhnya menerima.

”Misalnya kami pindahkan, tetapi nanti kembali juga percuma. Malah bolak-balik. Terlebih mereka juga dekat dengan mata pencaharian di situ. Sehingga minat ke rusunawa rendah,” katanya.

Dengan realita-realita seperti itu, Agung pun tak memungkiri target keterisian rusunawa 100 persen sulit dicapai. (zen)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Keterisian flat atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kudus rendah. Itu karena rendahnya animo masyarakat. Total dari 384 unit, baru terisi 154.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten (PKPLH) Kudus Agung Karyanto menjelaskan rendahnya keterisian itu karena masyarakat belum terbiasa dengan hunian model vertikal seperti rusunawa. Sebab mind side masyarakat hunian masih model horizontal.

Total flat di Kudus ada empat tower. Masing-masing tower terdapat 96 unit. Artinya bila ditotal ada 384 unit. Tiap satu unit berisi dua kamar.

”Harga satu unitnya paling mahal Rp 185 ribu. Harga ini terbilang paling rendah dibandingkan daerah sekitar seperti Semarang, Demak, Jepara, dan lainnya,” jelasnya.

Menurutnya flat sebenarnya diutamakan bagi masyarakat kategori keluarga pemula. Dengan tujuan memberikan hunian layak bagi mereka yang belum memiliki rumah.

Baca Juga :  Tak Kebagian Exit Tol Demak-Tuban, Kudus bakal Lapor ke Pusat

”Syaratnya gampang. Yakni cukup warga Kudus dengan menunjukkan KTP,” imbuhnya.

Dia menilai lahan untuk perumahan di Kudus masih longgar. Belum sempit dan terbatas layaknya kota besar. Sehingga membuat animo masyarakat menempati rusunawa rendah.

Sementara terkait peruntukan rusunawa bagi warga pinggiran bantaran sungai yang kerap banjir menurutnya hal itu tak masalah. Tetapi problemnya, warga juga tak sepenuhnya menerima.

”Misalnya kami pindahkan, tetapi nanti kembali juga percuma. Malah bolak-balik. Terlebih mereka juga dekat dengan mata pencaharian di situ. Sehingga minat ke rusunawa rendah,” katanya.

Dengan realita-realita seperti itu, Agung pun tak memungkiri target keterisian rusunawa 100 persen sulit dicapai. (zen)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/