alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Gersang, Perbukitan Patiayam Kudus Perlu Penghijauan

KUDUS – Gersangnya area perbukitan Patiayam membuat sejumlah pihak prihatin. Sebab akan berdampak pada aspek lingkungan, seperti kekeringan, erosi hingga banjir. Untuk itu perlu diadakan penghijauan masif.

Kepala Desa Terban Supeno menyebut pihaknya telah menyadari itu sejak pertama kali menjabat pada 2019. Sehingga mendapatkan perhatian lebih. Terlebih kawasan tersebut semula hutan subur dengan tegakan pohon.

“Sayang semenjak maraknya pembalakan liar di era reformasi mengubah kawasan lereng Patiayam yang subur menjadi perbukitan tandus,” jelasnya.


Kondisinya semakin diperparah karena seiring perubahan status lahan hutan Perhutani menjadi hutan sosial. Sebab masyarakat yang mendapatkan hak swakelola berpikir jangka pendek. Yakni hanya menanam palawija seperti jagung.

“Sehingga terlihat hijau hanya saat musim tanam. Setelah itu ya terlihat gundulnya. Sebab tak ada tanaman keras yang ditanam,” imbuhnya.

Melihat kondisi itu dia gencar penanaman pohon buah seperti apukat. Agar ada tanaman lain selain jagung. Dengan menanam buah, masyarakat tetap dapat berkontribusi pada penghijauan. Sekaligus dalam jangka panjang juga memiliki keuntungan ekonomis.

“Memang perlu waktu bertahun-tahun. Tidak seperti jagung yang tiga bulan bisa panen. Cuma ini kan demi kebaikan penghijauan. Kami dari perangkat, sebagian sudah memulai Penghijauan dengan menanam buah,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dianggap Merugikan, DPN APTRI Desak Pemerintah Revisi HPP dan HET Gula

Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia Mochamad Widjanarko yang juga sebagai pengajar Psikologi lingkungan di UMK menyampaikan 80 persen kawasan Patiayam telah gersang. Sehingga perlu ada pemetaan untuk penghijauan.

“Kalau yang gundul itu ada di area Perhutani, perlu didorong agar Perhutani ikut serta melakukan penghijauan. Tetapi masyarakat juga harus diajak. Karena tanamannya yang tahu kan masyarakat situ. Sehingga masyarakat tidak asal tanam,” katanya.

Menurutnya, kawasan Patiayam gersang karena tidak adanya kajian dalam melakukan penghijauan. Sehingga perlu adanya evaluasi kembali dalam swakelola kawasan tersebut. Salah satunya dengan menggalakkan penghijauan. Baik dari sisi masyarakat maupun perhutani.

Bila upaya itu segera dimulai dia optimistis kawasan tersebut bisa kembali hijau dalam kurun waktu 10 tahun. “Kalau menurut saya di kawasan Patiayam itu kalau ditanami pepaya atau alpukat, kurun waktu sepuluh tahun bisa hijau lagi. Tetapi harus dipantau dan dievaluasi juga Perhutani maupun masyarakat setempat,” imbuhnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Gersangnya area perbukitan Patiayam membuat sejumlah pihak prihatin. Sebab akan berdampak pada aspek lingkungan, seperti kekeringan, erosi hingga banjir. Untuk itu perlu diadakan penghijauan masif.

Kepala Desa Terban Supeno menyebut pihaknya telah menyadari itu sejak pertama kali menjabat pada 2019. Sehingga mendapatkan perhatian lebih. Terlebih kawasan tersebut semula hutan subur dengan tegakan pohon.

“Sayang semenjak maraknya pembalakan liar di era reformasi mengubah kawasan lereng Patiayam yang subur menjadi perbukitan tandus,” jelasnya.

Kondisinya semakin diperparah karena seiring perubahan status lahan hutan Perhutani menjadi hutan sosial. Sebab masyarakat yang mendapatkan hak swakelola berpikir jangka pendek. Yakni hanya menanam palawija seperti jagung.

“Sehingga terlihat hijau hanya saat musim tanam. Setelah itu ya terlihat gundulnya. Sebab tak ada tanaman keras yang ditanam,” imbuhnya.

Melihat kondisi itu dia gencar penanaman pohon buah seperti apukat. Agar ada tanaman lain selain jagung. Dengan menanam buah, masyarakat tetap dapat berkontribusi pada penghijauan. Sekaligus dalam jangka panjang juga memiliki keuntungan ekonomis.

“Memang perlu waktu bertahun-tahun. Tidak seperti jagung yang tiga bulan bisa panen. Cuma ini kan demi kebaikan penghijauan. Kami dari perangkat, sebagian sudah memulai Penghijauan dengan menanam buah,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tak Bisa Kembalikan Uang, Sopir di Kudus Akhiri Hidup Gantung Diri

Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia Mochamad Widjanarko yang juga sebagai pengajar Psikologi lingkungan di UMK menyampaikan 80 persen kawasan Patiayam telah gersang. Sehingga perlu ada pemetaan untuk penghijauan.

“Kalau yang gundul itu ada di area Perhutani, perlu didorong agar Perhutani ikut serta melakukan penghijauan. Tetapi masyarakat juga harus diajak. Karena tanamannya yang tahu kan masyarakat situ. Sehingga masyarakat tidak asal tanam,” katanya.

Menurutnya, kawasan Patiayam gersang karena tidak adanya kajian dalam melakukan penghijauan. Sehingga perlu adanya evaluasi kembali dalam swakelola kawasan tersebut. Salah satunya dengan menggalakkan penghijauan. Baik dari sisi masyarakat maupun perhutani.

Bila upaya itu segera dimulai dia optimistis kawasan tersebut bisa kembali hijau dalam kurun waktu 10 tahun. “Kalau menurut saya di kawasan Patiayam itu kalau ditanami pepaya atau alpukat, kurun waktu sepuluh tahun bisa hijau lagi. Tetapi harus dipantau dan dievaluasi juga Perhutani maupun masyarakat setempat,” imbuhnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/