alexametrics
24 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Sempat Ditutup, Galian C di Kudus Kembali Beroperasi, Kenapa Begitu?

KUDUS – Sempat ditutup, Galian C di Desa Klumpit, Gebog kembali beroperasi lagi selama sepekan terakhir. Kemarin, Satpol PP Kudus menindaklanjuti tiga pengusaha pertambangan galian C itu diundang dan diminta berhenti.

Kepala Satpol PP Kudus Djati Solechah menegaskan jika semua pihak harus mematuhi komitmen pada kesepakatan pada November 2019. Semua pertambangan galian C di Desa Klumpit ilegal.

“Tidak kami pungkiri jika tanah di situ memang bagus untuk batu bata dan genting. Baik digunakan penduduk setempat atau luar. Dengan alasan itu akhir-akhir ini mereka beroperasi lagi,” tambahnya.


Selain untuk perajin bata dan genting, alasan lain yakni untuk memeratakan kontur tanah agar bisa ditanami.

“Namun alasan itu tak kami benarkan. Harus sesuai RTRW. Jika di situ tidak diperbolehkan, ya tidak boleh. Sebab yang boleh hanya 4 Desa Tanjungrejo, Rejosari, Gondoharum, dan Wonosoco,” terangnya.

Untuk itu dalam pertemuan itu Djati menegaskan ketiga pengusaha yang nekat beroperasi itu harus tutup. Bila melanggar mereka akan ditindak tegas berupa proses hukum.

Sementara untuk mengakomodir perajain batu bata dan genting yang memang membutuhkan tanah tersebut, Djati mengaku harus dibentuk paguyuban.

“Boleh namun hanya untuk sekitar. Tak boleh tanah hasil galian di bawa keluar. Mereka yang ingin memanfaatkan tanah itu ya bikinnya di situ. Dilokalisir. Kalau dilanggar tetap kami tindak tegas,” jelasnya.

Baca Juga :  Melihat Cara Kerja Petugas Tilang Elektronik

Selain di Desa Klumpit, Djati mengatakan ada pertambangan galian C ilegal lain yang beroperasi. Yakni di Desa Gondoharum, Jekulo. “Memang secara RTRW di situ boleh. Tetapi lokasi galian C nya beda. Sehingga kemarin juga ditindak,” katanya.

Kepala Desa Klumpit Subadi baru mengetahui setelah ada laporan warga seminggu lalu. Dari laporan itu pihaknya meneruskan ke Satpol PP.

Diakuinya alasan penggalian itu terkait sektor ekonomi. Sebab ada 70 orang perajin batu bata dan genting yang tergantung dari tanah galian itu sebagai bahan dasar. Untuk mengakomodir, pihaknya akan segera menindaklanjuti masukan Satpol PP.

“Sebab secara aturan memang tak boleh. Kami pun juga akan tegas. Terlebih saat beroperasi itu tak ada laporan ke kami,” tambahnya.

Sementara untuk mengakomodir warganya yang secara perekonomian bergantung pada usaha pembuatan batu bata dan genting, dia akan segera membentuk paguyuban perajin. Dan mematuhi solusi yang diberikan berupa melokalisir perjain dan tempatnya.

“Harapan kami diproduksi di sini dan dijual keluar dalam bentuk batu bata dan genting. Agar perekonomian tetap jalan,” imbuhnya. (tos)

KUDUS – Sempat ditutup, Galian C di Desa Klumpit, Gebog kembali beroperasi lagi selama sepekan terakhir. Kemarin, Satpol PP Kudus menindaklanjuti tiga pengusaha pertambangan galian C itu diundang dan diminta berhenti.

Kepala Satpol PP Kudus Djati Solechah menegaskan jika semua pihak harus mematuhi komitmen pada kesepakatan pada November 2019. Semua pertambangan galian C di Desa Klumpit ilegal.

“Tidak kami pungkiri jika tanah di situ memang bagus untuk batu bata dan genting. Baik digunakan penduduk setempat atau luar. Dengan alasan itu akhir-akhir ini mereka beroperasi lagi,” tambahnya.

Selain untuk perajin bata dan genting, alasan lain yakni untuk memeratakan kontur tanah agar bisa ditanami.

“Namun alasan itu tak kami benarkan. Harus sesuai RTRW. Jika di situ tidak diperbolehkan, ya tidak boleh. Sebab yang boleh hanya 4 Desa Tanjungrejo, Rejosari, Gondoharum, dan Wonosoco,” terangnya.

Untuk itu dalam pertemuan itu Djati menegaskan ketiga pengusaha yang nekat beroperasi itu harus tutup. Bila melanggar mereka akan ditindak tegas berupa proses hukum.

Sementara untuk mengakomodir perajain batu bata dan genting yang memang membutuhkan tanah tersebut, Djati mengaku harus dibentuk paguyuban.

“Boleh namun hanya untuk sekitar. Tak boleh tanah hasil galian di bawa keluar. Mereka yang ingin memanfaatkan tanah itu ya bikinnya di situ. Dilokalisir. Kalau dilanggar tetap kami tindak tegas,” jelasnya.

Baca Juga :  Melihat Cara Kerja Petugas Tilang Elektronik

Selain di Desa Klumpit, Djati mengatakan ada pertambangan galian C ilegal lain yang beroperasi. Yakni di Desa Gondoharum, Jekulo. “Memang secara RTRW di situ boleh. Tetapi lokasi galian C nya beda. Sehingga kemarin juga ditindak,” katanya.

Kepala Desa Klumpit Subadi baru mengetahui setelah ada laporan warga seminggu lalu. Dari laporan itu pihaknya meneruskan ke Satpol PP.

Diakuinya alasan penggalian itu terkait sektor ekonomi. Sebab ada 70 orang perajin batu bata dan genting yang tergantung dari tanah galian itu sebagai bahan dasar. Untuk mengakomodir, pihaknya akan segera menindaklanjuti masukan Satpol PP.

“Sebab secara aturan memang tak boleh. Kami pun juga akan tegas. Terlebih saat beroperasi itu tak ada laporan ke kami,” tambahnya.

Sementara untuk mengakomodir warganya yang secara perekonomian bergantung pada usaha pembuatan batu bata dan genting, dia akan segera membentuk paguyuban perajin. Dan mematuhi solusi yang diberikan berupa melokalisir perjain dan tempatnya.

“Harapan kami diproduksi di sini dan dijual keluar dalam bentuk batu bata dan genting. Agar perekonomian tetap jalan,” imbuhnya. (tos)

Most Read

Artikel Terbaru

/