alexametrics
24.1 C
Kudus
Friday, June 10, 2022

Tak Ingin Kasus Siswa Keracunan Jajanan Terulang, PKL Sekolah di Kudus Diawasi

KUDUS – Pedagang kaki lima sekolah (PKLS) menjadi perhatian terkait keamanan jajanan yang dijual. Sebab, beberapa tahun lalu, di Kudus pernah ada kasus siswa keracunan jajanan yang dibeli dari pedagang di sekitar sekolah.

Hal ini tidak hanya menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, tapi juga Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM). Dengan begitu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus diimbau agar tidak abai dengan keamanan pangan yang dijual PKLS.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Harjuna Widada melalui Sekdin Dian Vitayani mengatakan, perhatian keamanan pangan dan jajanan memang tidak hanya di kantin sekolah, tapi juga PKL yang ada di sekitar sekolah.


”Tidak dimungkiri, siswa tetap jajan di PKL di sekitar sekolah. Karena harga murah dan rasanya juga cocok di lidah anak-anak. Sekolah diharapkan segera membentuk tim keamanan pangan dan jajanan, sehingga bisa memberikan edukasi juga kepada PKL tersebut,” terangnya.

Terpisah, Koordinator Substansi Kelompok Informasi dan Komunikasi (Infokom) BBPOM Semarang Novi Eko Rini mengatakan, PKLS memang butuh pembinaan dan pengawasan. Pihaknya, juga bekerja sama dengan DKK Kudus untuk hal tersebut.

Baca Juga :  Ikut Andil dalam Majelis Tarjih, Kaji Masalah Hukum Islam

”Yang berhubungan dengan pangan dan jajanan sekolah itu menyeluruh. Kantin sekolah kemungkinan sudah ada kriteria dari sekolah, tapi kalau PKL sekolah kan bebas. Produk makanan yang dijual tidak tahu, karena sekolah tidak memiliki wewenang melarang jualan PKL di sekitar sekolah,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah hanya mampu memberikan edukasi kepada siswanya tentang memilih jajanan yang sehat. Yang memiliki wewenang memang DKK. Yang bisa memberikan penyuluhan dan edukasi kepada pedagang makanan yang higienis dan sehat.

Terpisah, Kepala DKK Badai Ismoyo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Nuryanto mengatakan, penyuluhan kepada PKL sekolah sudah dilakukan. Terkait bahan baku, cara pengolahan, serta alat-alat yang digunakan harus bersih dan higienis.

”Ya memang agak kesulitan kalau melakukan pembinaan PKL sekolah. Sebab, jualannya juga berpindah-pindah. Sebenarnya sangat penting jajanan yang dijual di sekolah itu harus yang sehat dan higienis. Namun, pedagang terkadang bisa jualan dengan harga murah, tapi tidak memperhatikan bahan baku yang sehat,” terangnya. (san/lin)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Pedagang kaki lima sekolah (PKLS) menjadi perhatian terkait keamanan jajanan yang dijual. Sebab, beberapa tahun lalu, di Kudus pernah ada kasus siswa keracunan jajanan yang dibeli dari pedagang di sekitar sekolah.

Hal ini tidak hanya menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, tapi juga Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM). Dengan begitu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus diimbau agar tidak abai dengan keamanan pangan yang dijual PKLS.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Harjuna Widada melalui Sekdin Dian Vitayani mengatakan, perhatian keamanan pangan dan jajanan memang tidak hanya di kantin sekolah, tapi juga PKL yang ada di sekitar sekolah.

”Tidak dimungkiri, siswa tetap jajan di PKL di sekitar sekolah. Karena harga murah dan rasanya juga cocok di lidah anak-anak. Sekolah diharapkan segera membentuk tim keamanan pangan dan jajanan, sehingga bisa memberikan edukasi juga kepada PKL tersebut,” terangnya.

Terpisah, Koordinator Substansi Kelompok Informasi dan Komunikasi (Infokom) BBPOM Semarang Novi Eko Rini mengatakan, PKLS memang butuh pembinaan dan pengawasan. Pihaknya, juga bekerja sama dengan DKK Kudus untuk hal tersebut.

Baca Juga :  Penggugat Bank Mandiri Kudus Tunjukkan 13 Alat Bukti

”Yang berhubungan dengan pangan dan jajanan sekolah itu menyeluruh. Kantin sekolah kemungkinan sudah ada kriteria dari sekolah, tapi kalau PKL sekolah kan bebas. Produk makanan yang dijual tidak tahu, karena sekolah tidak memiliki wewenang melarang jualan PKL di sekitar sekolah,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah hanya mampu memberikan edukasi kepada siswanya tentang memilih jajanan yang sehat. Yang memiliki wewenang memang DKK. Yang bisa memberikan penyuluhan dan edukasi kepada pedagang makanan yang higienis dan sehat.

Terpisah, Kepala DKK Badai Ismoyo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Nuryanto mengatakan, penyuluhan kepada PKL sekolah sudah dilakukan. Terkait bahan baku, cara pengolahan, serta alat-alat yang digunakan harus bersih dan higienis.

”Ya memang agak kesulitan kalau melakukan pembinaan PKL sekolah. Sebab, jualannya juga berpindah-pindah. Sebenarnya sangat penting jajanan yang dijual di sekolah itu harus yang sehat dan higienis. Namun, pedagang terkadang bisa jualan dengan harga murah, tapi tidak memperhatikan bahan baku yang sehat,” terangnya. (san/lin)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/