alexametrics
30.5 C
Kudus
Tuesday, June 14, 2022

DPRD Kudus Minta Pemkab Sigap Hadapi Hepatitis Misterius

KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus mendorong adanya antisipasi dini pemerintah daerah terhadap penyakit hepatitis misterius. Penguatan protokol kesehatan bagi anak sekolah perlu ditingkatkan beriringan diberlakukannya pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen.

Hal ini dinstruksikan ketika Komisi D DPRD Kudus menggelar rapat kerja bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpor), RSUD Loekmonohadi, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus pada Rabu (18/5).

Ketua Komisi D DPRD Kudus Ali Ihsan menyatakan antisipasi penyakit hepatitis misterius perlu dilakukan secara cepat. Kendati Kudus belum ada laporan kasus tersebut, dia tidak ingin kasus tersebut terulang kembali seperti ledakan Covid-19 2021.


“Sosialisasi perlu digencarkan agar masyarakat tidak cemas. Antisipasi penyiapan tenaga medis dan ketersedian BOR (Bed occupancy rate) juga diperhatikan,” katanya.

Ihsan juga menyoroti jumlah ketersedian BOR di RSUD dr Loekmonohadi Kudus melonjak hingga 95 persen. Padahal  BOR secara proposional keterisiannya 80 persen.

MENINJAU: Komisi D DPRD Kudus sidak insinerator RSUD dr Loekmono Hadi. ((GALIH ERLAMBANG W/Radar Kudus)

Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Kudus Nur Hudi menyatakan langkah kongkrit harus disiapkan, mulai dari segi anggaran untuk menyiapkan sarana pra sarana dan tim medis.

“Perlu langkah kongkrit dalam penanganan hal ini, supaya Kudus di luar sana tidak dipandang buruk seperti lonjakan kasus Covid-19 lalu,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Loekmonohadi Kudus dr Abdul Hakam menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi secara dini. Pasien yang dirawat di rumah sakit dilakukan skrining awal dengan pengecekan sampel darah.

Skrining tersebut untuk mendeteksi HIV, Covid-19, maupun hepatitis. Jika hasilnya negatif dimungkinkan terkena hepatitis misterius.

Baca Juga :  Wakil DPRD Kudus: Penyerahan APBD P Telat Murni Kesalahan Eksekutif

“Jika itu negatif hepatitis A hingga E, indikasinya ke hepatitis misterius. Sampel akan dikirimkan ke RS Kariyadi untuk dilakukan pemeriksaan dan baru didiagnosis,” katanya.

Hakam menjelaskan ada indikasi gejala jika terkena hepatitis misterius. Gejalanya seperti hepatitis pada umumnnya. Awalnya, badan terasa mual dan ingin muntah. Selanjutnya badan panas lebih dari satu pekan atau bisa kurang tiga hingga empat hari.

Untuk pencegahannya, Hamkam mengimbau selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan mengkomsumsi makanan yang bersih sekaligus higienis. Kebanyakan yang terserang hepatitis anak usia SD hingga SMP.

“Harus mengedukasi anak-anak, harapannya di sekolah makanannya tertutup,” katanya.

Sampai saat ini, belum ada pasien yang terkena penyakit hepatitis misterius tersebut. Hanya saja ketika dilakukan pemeriksaan penyakit yang diderita lebih mengarah ke serangan mag.

Untuk keterisian BOR usai Lebaran ini mengalami lonjakan hingga 95 persen. Kecendurangan penyakitnya metabolik yang menyerang orang dewasa.

“Penyakit seperti gula dan darah tinggi, sebetulnya efektivitas keterisian 80 persen. Jika penuh akan menganggu pasien yang menjalni persalinan,” ungkapnya.

Sekretaris Disdipora Kabupaten Kudus Dian Vitayani menyatakan meski sudah diberlakukan PTM 100 persen pengawasan prokes siswa tetap diawasi. Sebab di sekolah tetap dibentuk Satgas.

“Kantin di sekolah juga sudah di buka lagi. Untuk itu kami memberi edaran tidak boleh makan di tempat dan prokes tetap dijalankan,” ungkapnya. (gal/mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus mendorong adanya antisipasi dini pemerintah daerah terhadap penyakit hepatitis misterius. Penguatan protokol kesehatan bagi anak sekolah perlu ditingkatkan beriringan diberlakukannya pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen.

Hal ini dinstruksikan ketika Komisi D DPRD Kudus menggelar rapat kerja bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpor), RSUD Loekmonohadi, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus pada Rabu (18/5).

Ketua Komisi D DPRD Kudus Ali Ihsan menyatakan antisipasi penyakit hepatitis misterius perlu dilakukan secara cepat. Kendati Kudus belum ada laporan kasus tersebut, dia tidak ingin kasus tersebut terulang kembali seperti ledakan Covid-19 2021.

“Sosialisasi perlu digencarkan agar masyarakat tidak cemas. Antisipasi penyiapan tenaga medis dan ketersedian BOR (Bed occupancy rate) juga diperhatikan,” katanya.

Ihsan juga menyoroti jumlah ketersedian BOR di RSUD dr Loekmonohadi Kudus melonjak hingga 95 persen. Padahal  BOR secara proposional keterisiannya 80 persen.

MENINJAU: Komisi D DPRD Kudus sidak insinerator RSUD dr Loekmono Hadi. ((GALIH ERLAMBANG W/Radar Kudus)

Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Kudus Nur Hudi menyatakan langkah kongkrit harus disiapkan, mulai dari segi anggaran untuk menyiapkan sarana pra sarana dan tim medis.

“Perlu langkah kongkrit dalam penanganan hal ini, supaya Kudus di luar sana tidak dipandang buruk seperti lonjakan kasus Covid-19 lalu,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Loekmonohadi Kudus dr Abdul Hakam menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi secara dini. Pasien yang dirawat di rumah sakit dilakukan skrining awal dengan pengecekan sampel darah.

Skrining tersebut untuk mendeteksi HIV, Covid-19, maupun hepatitis. Jika hasilnya negatif dimungkinkan terkena hepatitis misterius.

Baca Juga :  Layani Pasien di Wilayah Utara, Pemkab Kudus Butuh Rumah Sakit Tipe D

“Jika itu negatif hepatitis A hingga E, indikasinya ke hepatitis misterius. Sampel akan dikirimkan ke RS Kariyadi untuk dilakukan pemeriksaan dan baru didiagnosis,” katanya.

Hakam menjelaskan ada indikasi gejala jika terkena hepatitis misterius. Gejalanya seperti hepatitis pada umumnnya. Awalnya, badan terasa mual dan ingin muntah. Selanjutnya badan panas lebih dari satu pekan atau bisa kurang tiga hingga empat hari.

Untuk pencegahannya, Hamkam mengimbau selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan mengkomsumsi makanan yang bersih sekaligus higienis. Kebanyakan yang terserang hepatitis anak usia SD hingga SMP.

“Harus mengedukasi anak-anak, harapannya di sekolah makanannya tertutup,” katanya.

Sampai saat ini, belum ada pasien yang terkena penyakit hepatitis misterius tersebut. Hanya saja ketika dilakukan pemeriksaan penyakit yang diderita lebih mengarah ke serangan mag.

Untuk keterisian BOR usai Lebaran ini mengalami lonjakan hingga 95 persen. Kecendurangan penyakitnya metabolik yang menyerang orang dewasa.

“Penyakit seperti gula dan darah tinggi, sebetulnya efektivitas keterisian 80 persen. Jika penuh akan menganggu pasien yang menjalni persalinan,” ungkapnya.

Sekretaris Disdipora Kabupaten Kudus Dian Vitayani menyatakan meski sudah diberlakukan PTM 100 persen pengawasan prokes siswa tetap diawasi. Sebab di sekolah tetap dibentuk Satgas.

“Kantin di sekolah juga sudah di buka lagi. Untuk itu kami memberi edaran tidak boleh makan di tempat dan prokes tetap dijalankan,” ungkapnya. (gal/mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/