alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Komisi D DPRD Kudus Dorong Insinerator Berfungsi Lagi untuk Kelola Limbah B3 Mandiri

KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus sidak alat insinerator di RSUD dr. Loekmonohadi Kudus yang tidak berfungsi selama dua tahun. Dewan mengharapkan insinerator tersebut bisa berfungsi kembali untuk mengelola limbah B3 secara mandiri di rumah sakit daerah maupun Puskesmas.

Lokasi insinerator tersebut berada di bagian belakang ruang pemulasaraan jenazah. Kondisi mesin tidak beroperasi. Untuk pemusnahan limbah rumah RSUD dr. Loekmonohadi untuk sementara waktu bekerja sama dengan pihak ketiga.

Ketua Komisi D DPRD Kudus Ali Ihsan mengatakan mesin insinerator RSUD dr Loekmonohadi tidak berfungsi semenjak dua tahun terkahir lantaran ada kerusakan yang terjadi pada mesin. Pihaknya mendesak insinerator ter sebut bisa berfungsi kembali. Jika memang dibutuhkan anggaran perawatan atau pengadaan baru, pihak RSUD bisa mengajukan anggaran.


“Karena ini asapnya tidak sesuai ma ka dihentikan nanti bisa tercemar. Kebutuhan insinerator ini sangat mendesak kebutuhannya pemanfaatnnya bisa untuk pemusnahan limbah medis RSUD maupun Puskesmas,” ungkapnya.

Sementara itu,  keberadaan pemusnahan limbah tersebut tidak melanggar Peraturan daerah Rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Kudus 2022-2042. Sebab di dalam aturan yang sahkan yang tidak diperbolehkan adalah proses pengolahan limbah B3.

“Jika diaktifkan ini tidak melanggar Perda RTRW yang disahkan,” ungkapnya.

GALIH ERLAMBANG W/ RADAR KUDUS

Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD dr Loekmonohadi Kudus Sugiarto menyatakan, kondisi insinerator tersebut sudah rusak dua tahun terkahir atau bertepatan pada tingginya kasus Covid-19 di Kudus.

Baca Juga :  Breaking News! Ditinggal Hajatan, Rumah Pengusaha Piala Dilalap Api

“Sudah tidak beroperasi lagi sekarang, sementara waktu kami menggunakan jasa pihak ketiga untuk pemusnahan limbah,” ungkapnya.

Sugiarto mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kerusakan. Di antaranya kondisi insinerator yang telah berumur. Alat pemusnah sampah medis itu sudah ada semenjak 2015.

Faktor kerusakan selanjutnya, ada komponen mesin yang tidak berfungsi. Hal ini menyebabkan pembakaran tidak berjalan secara maksimal.

“Sesuai syarat ada dua alat skribel, satunya rusak sehingga partikel tidak mau turun. Itu ada batu api yang runtuh. Sudah pernah diperbaiki namun macet lagi, mungkin faktor usia,” katanya.

Alat insinerator tersebut, sebelumnya sempat dioperasikan. Namun asap yang keluar hitam pihak RSUD kemudian menghentikannya.

Langkah ke depan, Sugiarto akan melihat terlebih dahulu anggaran yang dibutuhkan untuk perawatan maupun pengadaan insinerator baru.

“Kami lihat dulu mana yang memungkinkan, bisa perawatan atau bangun baru,” jelasnya.

Sementara untuk volume sampah medis per harinya RSUD mampu menghasilkan 300 kilogram. Dari perjanjian yang ditandatangani dengab pihak ketiga, satu kilogram sampah dihargai Rp 9 ribu.

Sampah tersebut diangkut oleh pihak ketiga ke Semarang untuk dimusnahakan. Pengambilannya dilakukan empat kali dalam satu pekan.

Sebelumnya, warga Desa Ploso pernah memprotes pembakaran sampah medis yang dilakukan oleh RSUD dr Loekmonohadi Kudus. Pembakaran sampah medis itu diduga menyebakan polusi udara. (gal/mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus sidak alat insinerator di RSUD dr. Loekmonohadi Kudus yang tidak berfungsi selama dua tahun. Dewan mengharapkan insinerator tersebut bisa berfungsi kembali untuk mengelola limbah B3 secara mandiri di rumah sakit daerah maupun Puskesmas.

Lokasi insinerator tersebut berada di bagian belakang ruang pemulasaraan jenazah. Kondisi mesin tidak beroperasi. Untuk pemusnahan limbah rumah RSUD dr. Loekmonohadi untuk sementara waktu bekerja sama dengan pihak ketiga.

Ketua Komisi D DPRD Kudus Ali Ihsan mengatakan mesin insinerator RSUD dr Loekmonohadi tidak berfungsi semenjak dua tahun terkahir lantaran ada kerusakan yang terjadi pada mesin. Pihaknya mendesak insinerator ter sebut bisa berfungsi kembali. Jika memang dibutuhkan anggaran perawatan atau pengadaan baru, pihak RSUD bisa mengajukan anggaran.

“Karena ini asapnya tidak sesuai ma ka dihentikan nanti bisa tercemar. Kebutuhan insinerator ini sangat mendesak kebutuhannya pemanfaatnnya bisa untuk pemusnahan limbah medis RSUD maupun Puskesmas,” ungkapnya.

Sementara itu,  keberadaan pemusnahan limbah tersebut tidak melanggar Peraturan daerah Rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Kudus 2022-2042. Sebab di dalam aturan yang sahkan yang tidak diperbolehkan adalah proses pengolahan limbah B3.

“Jika diaktifkan ini tidak melanggar Perda RTRW yang disahkan,” ungkapnya.

GALIH ERLAMBANG W/ RADAR KUDUS

Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD dr Loekmonohadi Kudus Sugiarto menyatakan, kondisi insinerator tersebut sudah rusak dua tahun terkahir atau bertepatan pada tingginya kasus Covid-19 di Kudus.

Baca Juga :  Hipmi Kudus Goes to School untuk Cetak Entrepreneur Muda

“Sudah tidak beroperasi lagi sekarang, sementara waktu kami menggunakan jasa pihak ketiga untuk pemusnahan limbah,” ungkapnya.

Sugiarto mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kerusakan. Di antaranya kondisi insinerator yang telah berumur. Alat pemusnah sampah medis itu sudah ada semenjak 2015.

Faktor kerusakan selanjutnya, ada komponen mesin yang tidak berfungsi. Hal ini menyebabkan pembakaran tidak berjalan secara maksimal.

“Sesuai syarat ada dua alat skribel, satunya rusak sehingga partikel tidak mau turun. Itu ada batu api yang runtuh. Sudah pernah diperbaiki namun macet lagi, mungkin faktor usia,” katanya.

Alat insinerator tersebut, sebelumnya sempat dioperasikan. Namun asap yang keluar hitam pihak RSUD kemudian menghentikannya.

Langkah ke depan, Sugiarto akan melihat terlebih dahulu anggaran yang dibutuhkan untuk perawatan maupun pengadaan insinerator baru.

“Kami lihat dulu mana yang memungkinkan, bisa perawatan atau bangun baru,” jelasnya.

Sementara untuk volume sampah medis per harinya RSUD mampu menghasilkan 300 kilogram. Dari perjanjian yang ditandatangani dengab pihak ketiga, satu kilogram sampah dihargai Rp 9 ribu.

Sampah tersebut diangkut oleh pihak ketiga ke Semarang untuk dimusnahakan. Pengambilannya dilakukan empat kali dalam satu pekan.

Sebelumnya, warga Desa Ploso pernah memprotes pembakaran sampah medis yang dilakukan oleh RSUD dr Loekmonohadi Kudus. Pembakaran sampah medis itu diduga menyebakan polusi udara. (gal/mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/