alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Kasihan, Kakek Berusia 67 Tahun di Kudus Tinggal di Gubuk Reyot Berukuran 2×1 Meter

KUDUS – Nasib tragis dialami kakek berusia 67 tahun, Amir warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu dua tahun terakhir. Kakek yang mempunyai tiga orang anak ini harus tinggal di gubuk yang terbuat dari banner di atas tanah desa.

Dari pantauan gubuk tersebut tertutup banner putih. Ukurannya 2×1,5 meter. Lokasinya berada di RT 4 RW 1 Desa Setrokalangan. Gubuknya berdekatan dengan toilet masjid desa setempat.

Di dalam gubuk ada perlengkapan dan perabotan Amir, mulai dari kasur, obat nyamuk, piring, hingga makanan ringan.


Di sana Amir tinggal seorang diri. Sementara kondisinya sudah sakit-sakitan. Kakinya patah akibat kecelakaan. Sehari-hari, dia memakai tongkat sebagai alat bantu jalan.

Amir mengatakan, kakinya patah akibat tabrak lari. Dulunya dia bekerja sebagai tukang becak. Setiap hari tidur di atas becak. Melihat kondisi kaki yang sudah patah tersebut akhirnya dia berhenti bekerja.

Untuk memenuhi kebutuhan makan tiap harinya, dia dibantu tetangga, kerabat, maupun desa.

“Ini tanahnya kan milik masjid. Gubuknya didirikan warga,” katanya.

Baca Juga :  Baku Hantam di Pilkades Kudus, Satu Orang Dilarikan ke RS

Dia mengatakan mempunyai tiga orang anak yang tinggal di Setrokalangan, Garung Kidul, dan Mejobo. Dia tidak tinggal bersama anaknya karena ada permasalahan.

Heru, warga Desa Setrokalangan mengatakan, sebelum tinggal di gubuk Amir tidur di atas becak. Setelah kecelakaan, kakek tiga anak tidak bisa bekerja. Akhirnya dia harus tinggal di gubuk.

Kepala Desa Setrokalangan Didik Handono mengatakan telah mengupayakan mediasi dengan keluarganya. Akan tetapi hingga kini belum menemui titik terang.

Didik mengatakan, Amir tetap diusulkan mendapatkan bantuan dari pemerintah desa hingga nasional. Tiap tahun dia mendapatkan Bantuan langsung tunai dana desa (BLT DD).

Sementara untuk pengusulan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tidak bisa dijalankan. Lantaran Amir menempati tanah desa bukan tanahnya pribadi.

“Desa mengupayakan dan mengusulkan penerimaan PKH. Saat ini sedang diproses. Warga sekitar juga membantu kebutuhan sehari-hari Mbah Amir. Terkadang Mbah Amir datang ke rumah saya untuk meminta makan,” ungkapnya. (gal/mal)

 






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Nasib tragis dialami kakek berusia 67 tahun, Amir warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu dua tahun terakhir. Kakek yang mempunyai tiga orang anak ini harus tinggal di gubuk yang terbuat dari banner di atas tanah desa.

Dari pantauan gubuk tersebut tertutup banner putih. Ukurannya 2×1,5 meter. Lokasinya berada di RT 4 RW 1 Desa Setrokalangan. Gubuknya berdekatan dengan toilet masjid desa setempat.

Di dalam gubuk ada perlengkapan dan perabotan Amir, mulai dari kasur, obat nyamuk, piring, hingga makanan ringan.

Di sana Amir tinggal seorang diri. Sementara kondisinya sudah sakit-sakitan. Kakinya patah akibat kecelakaan. Sehari-hari, dia memakai tongkat sebagai alat bantu jalan.

Amir mengatakan, kakinya patah akibat tabrak lari. Dulunya dia bekerja sebagai tukang becak. Setiap hari tidur di atas becak. Melihat kondisi kaki yang sudah patah tersebut akhirnya dia berhenti bekerja.

Untuk memenuhi kebutuhan makan tiap harinya, dia dibantu tetangga, kerabat, maupun desa.

“Ini tanahnya kan milik masjid. Gubuknya didirikan warga,” katanya.

Baca Juga :  Alami Luka Parah, Korban Laka di Depan Kampus UMK Dilarikan ke Rumah Sakit

Dia mengatakan mempunyai tiga orang anak yang tinggal di Setrokalangan, Garung Kidul, dan Mejobo. Dia tidak tinggal bersama anaknya karena ada permasalahan.

Heru, warga Desa Setrokalangan mengatakan, sebelum tinggal di gubuk Amir tidur di atas becak. Setelah kecelakaan, kakek tiga anak tidak bisa bekerja. Akhirnya dia harus tinggal di gubuk.

Kepala Desa Setrokalangan Didik Handono mengatakan telah mengupayakan mediasi dengan keluarganya. Akan tetapi hingga kini belum menemui titik terang.

Didik mengatakan, Amir tetap diusulkan mendapatkan bantuan dari pemerintah desa hingga nasional. Tiap tahun dia mendapatkan Bantuan langsung tunai dana desa (BLT DD).

Sementara untuk pengusulan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tidak bisa dijalankan. Lantaran Amir menempati tanah desa bukan tanahnya pribadi.

“Desa mengupayakan dan mengusulkan penerimaan PKH. Saat ini sedang diproses. Warga sekitar juga membantu kebutuhan sehari-hari Mbah Amir. Terkadang Mbah Amir datang ke rumah saya untuk meminta makan,” ungkapnya. (gal/mal)

 






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/