alexametrics
24.1 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Dilema Pembangunan Tempat Wisata Rawan Bencana di Kudus

KUDUS – Gencarnya pembangunan wisata dan promosi di Kudus bagian atas dianggap problematik. Seperti di Desa Rahtawu dan Menawan. Sebab, wilayah-wilayah tersebut sejauh ini rawan bencana, seperti tanah longsor.

Ketua Forum DAS Muria Hendy Hendro menjelaskan, maksud pemerintah kabupaten (pemkab) dan desa dalam menciptakan objek wisata di lokasi-lokasi itu memang bagus. Atas dasar argumen ekonomi. ”Supaya mendorong datangnya wisatawan. Artinya akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Mereka bisa berjualan dan bisa menarik retribusi,” jelasnya.

Namun, langkah ini menurutnya juga perlu berhati-hati. Sebab, perlu juga dipikirkan mitigasi bencana ketika terjadi bencana secara tiba-tiba. Hampir tiap tahun selalu ada longsor di tempat-tempat itu.


”Artinya perlu pertimbangan yang matang dan diperhatikan aspek kehati-hatian serta keselamatan. Jangan sampai menjadi bumerang,” terangnya.

Dia menuturkan, potensi kehadiran wisatawan juga harus dibarengi dengan perlindungan keselamatan. Untuk itu, pemerintah terkait perlu membuat terobosan lain dalam konteks wisata itu. ”Misalnya mengatur early warning agar berfungsi dengan baik. Juga soal jalur evakuasi. Bila perlu saat musim hujan, wisata diminimalisasi bukanya. Dioptimalkan saat musim-musim yang tidak berpotensi ada bencana,” katanya.

Baca Juga :  Dinilai Tak Maksimal, Mesin Milik Perusda Percetakan Kudus Segera Dijual

Terlebih, jalan-jalan di area-area wisata itu juga sempit, curam, dan menikung. Artinya, bila terjadi peningkatan wisatawan tanpa dibarengi infrastruktur, akan membuat lalu lintas padat. Ini juga menimbulkan kerentanan kecelakaan.

Dia menilai yang paling penting di kedepankan saat ini, mengatasi kekritisan di lahan-lahan yang vegetasinya terus berkurang. Harus mengembalikan kembali fungsi hutan-hutan di wilayah hulu itu menjadi hutan lindung. Harapannya, tidak lagi menjadi sumber bencana.

”Perlu usaha penanaman secara masif. Namun, ini tidak berhenti asal tanam saja. Karena itu mudah. Yang sulit adalah memelihara dan menumbuhkan. Sebab, biasanya setelah menanam dibiarkan saja,” katanya.

Setelah semua infrastruktur mitigasi dan penanganan kebencanaan mumpuni, barulah pembangunan wisata dan promosi bisa digiatkan. (lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Gencarnya pembangunan wisata dan promosi di Kudus bagian atas dianggap problematik. Seperti di Desa Rahtawu dan Menawan. Sebab, wilayah-wilayah tersebut sejauh ini rawan bencana, seperti tanah longsor.

Ketua Forum DAS Muria Hendy Hendro menjelaskan, maksud pemerintah kabupaten (pemkab) dan desa dalam menciptakan objek wisata di lokasi-lokasi itu memang bagus. Atas dasar argumen ekonomi. ”Supaya mendorong datangnya wisatawan. Artinya akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Mereka bisa berjualan dan bisa menarik retribusi,” jelasnya.

Namun, langkah ini menurutnya juga perlu berhati-hati. Sebab, perlu juga dipikirkan mitigasi bencana ketika terjadi bencana secara tiba-tiba. Hampir tiap tahun selalu ada longsor di tempat-tempat itu.

”Artinya perlu pertimbangan yang matang dan diperhatikan aspek kehati-hatian serta keselamatan. Jangan sampai menjadi bumerang,” terangnya.

Dia menuturkan, potensi kehadiran wisatawan juga harus dibarengi dengan perlindungan keselamatan. Untuk itu, pemerintah terkait perlu membuat terobosan lain dalam konteks wisata itu. ”Misalnya mengatur early warning agar berfungsi dengan baik. Juga soal jalur evakuasi. Bila perlu saat musim hujan, wisata diminimalisasi bukanya. Dioptimalkan saat musim-musim yang tidak berpotensi ada bencana,” katanya.

Baca Juga :  Komisi D DPRD Kudus Usulkan Anggaran Pendampingan Anak Jalanan

Terlebih, jalan-jalan di area-area wisata itu juga sempit, curam, dan menikung. Artinya, bila terjadi peningkatan wisatawan tanpa dibarengi infrastruktur, akan membuat lalu lintas padat. Ini juga menimbulkan kerentanan kecelakaan.

Dia menilai yang paling penting di kedepankan saat ini, mengatasi kekritisan di lahan-lahan yang vegetasinya terus berkurang. Harus mengembalikan kembali fungsi hutan-hutan di wilayah hulu itu menjadi hutan lindung. Harapannya, tidak lagi menjadi sumber bencana.

”Perlu usaha penanaman secara masif. Namun, ini tidak berhenti asal tanam saja. Karena itu mudah. Yang sulit adalah memelihara dan menumbuhkan. Sebab, biasanya setelah menanam dibiarkan saja,” katanya.

Setelah semua infrastruktur mitigasi dan penanganan kebencanaan mumpuni, barulah pembangunan wisata dan promosi bisa digiatkan. (lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/