alexametrics
24.1 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, DKK Kudus Anggarkan Alat PCR

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menganggarkan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) pada tahun ini. Lagkah tersebut dijadikan sebagai antisipasi gelombang ketiga Covid-19 dan munculnya varian baru Omicron.

Bupati Kudus HM Hartopo melalui Kepala DKK Kabupaten Kudus Badai Ismoyo menyatakan pemerintah daerah tak ingin kecolongan atas lonjakan Covid-19 yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Untuk itu ada beberapa antisipasi yang dilakukan. Salah satunya menganggarkan pembelian alat PCR sebanyak satu unit.

Saat ini, kata Badai, alat tersebut tengah melalui proses pengadaan melalui E-Katalog. Sementara sumber pendanaannya melalui Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT).


”Pengadaannya sesuai prosedur, kurang lebih anggarannya sebesar Rp 9 miliar,” terangnya.

PENANGANAN: Pemkab Kudus menganggarkan pembelian alat PCR senilai Rp 9 miliar. (DONNY SETYAWAN/ RADAR KUDUS)

Pembelian alat PCR tersebut, kata Badai semula dianggarkan sebesar Rp 12 miliar. Penurunan anggaran tersebut dikarenakan perkembangan harga saat ini. Pengadaan PCR ter sebut sudah lengakap disertai dengan pirantinya.

PCR ini penggunaannya akan dioptimalkan pada tahun 2022. DKK akan menempatkan alat PCR ter sebut di Labkesda. Sebab pihaknya melihat kesiapan dalam pengoperasiannya.

”Pasti ada penurunan harga karena ditawar. Pemenang lelang akan merujuk pada harga yang masih rasional,” terangnya.

Menurutnya pengadaan alat PCR ini sangat dibutuhkan. Lantaran untuk medeteksi varian baru virus Covid-19 Omicron. Pasalnya, varian Omicron hanya bisa dideteksi melalui alat PCR dan bukan dari rapid antigen.

Baca Juga :  Menko Airlangga Hartarto Tinjau Vaksinasi Anak di SDN 158 Pekanbaru

Lebih lanjut, DKK mengantisipasi varian baru ini dengan menggencarkan tracing, testing, dan treatmen ke masyarakat. Sejauh ini, DKK telah melakukan tracing sebanyak 126 per harinya.

”Vaksinasi telah dilakukan, terutama kepada lansia. Vaksinasi merupakan bagian memperkuat anti bodi dan memberikan penjagaan agar tak memperburuk keadaan,” katanya.

Kesiapsiagaan juga akan diterapkan dalam mengantisipasi lonjakan kasus. Salah satunya mempersiapkan lokasi isolasi mandiri yang terpadu.

Bupati Kudus Hartopo menyebut pengoptimalan DBHCHT dipergunakan pada bidang kesehatan. Sesuai Peraturan Kementerian Keuangan (PMK) 206 tahun 2020, alokasi dana untuk kesehatan diatur sebesar 25 persen.

Hartopo menyebut, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran DBHCHT untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Dalam hal ini dikucur pembelian Transcortical Magnetic Stimulation (TMS) di RSUD Loekmonohadi dan PCR di DKK.

”Kalau TMS sudah proses lelang, penggunaan dana cukai juga diperuntukkan sosialiasi perundang-undangan tentang cukai dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Pihaknya meminta, untuk menghadapi varian baru Covid-19 masyarakat tetap diminta menerapkan protokol kesehatan. Sebab penyebaran virus varian baru Omicron penularannya lebih cepat. Gejalanya pun hampir sama mirip Covid-19. Seperti, sesak napas, batuk, dan pusing. (zen)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menganggarkan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) pada tahun ini. Lagkah tersebut dijadikan sebagai antisipasi gelombang ketiga Covid-19 dan munculnya varian baru Omicron.

Bupati Kudus HM Hartopo melalui Kepala DKK Kabupaten Kudus Badai Ismoyo menyatakan pemerintah daerah tak ingin kecolongan atas lonjakan Covid-19 yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Untuk itu ada beberapa antisipasi yang dilakukan. Salah satunya menganggarkan pembelian alat PCR sebanyak satu unit.

Saat ini, kata Badai, alat tersebut tengah melalui proses pengadaan melalui E-Katalog. Sementara sumber pendanaannya melalui Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT).

”Pengadaannya sesuai prosedur, kurang lebih anggarannya sebesar Rp 9 miliar,” terangnya.

PENANGANAN: Pemkab Kudus menganggarkan pembelian alat PCR senilai Rp 9 miliar. (DONNY SETYAWAN/ RADAR KUDUS)

Pembelian alat PCR tersebut, kata Badai semula dianggarkan sebesar Rp 12 miliar. Penurunan anggaran tersebut dikarenakan perkembangan harga saat ini. Pengadaan PCR ter sebut sudah lengakap disertai dengan pirantinya.

PCR ini penggunaannya akan dioptimalkan pada tahun 2022. DKK akan menempatkan alat PCR ter sebut di Labkesda. Sebab pihaknya melihat kesiapan dalam pengoperasiannya.

”Pasti ada penurunan harga karena ditawar. Pemenang lelang akan merujuk pada harga yang masih rasional,” terangnya.

Menurutnya pengadaan alat PCR ini sangat dibutuhkan. Lantaran untuk medeteksi varian baru virus Covid-19 Omicron. Pasalnya, varian Omicron hanya bisa dideteksi melalui alat PCR dan bukan dari rapid antigen.

Baca Juga :  Satu Rumah di Kudus Terbakar Gara-gara Korsleting Charger HP

Lebih lanjut, DKK mengantisipasi varian baru ini dengan menggencarkan tracing, testing, dan treatmen ke masyarakat. Sejauh ini, DKK telah melakukan tracing sebanyak 126 per harinya.

”Vaksinasi telah dilakukan, terutama kepada lansia. Vaksinasi merupakan bagian memperkuat anti bodi dan memberikan penjagaan agar tak memperburuk keadaan,” katanya.

Kesiapsiagaan juga akan diterapkan dalam mengantisipasi lonjakan kasus. Salah satunya mempersiapkan lokasi isolasi mandiri yang terpadu.

Bupati Kudus Hartopo menyebut pengoptimalan DBHCHT dipergunakan pada bidang kesehatan. Sesuai Peraturan Kementerian Keuangan (PMK) 206 tahun 2020, alokasi dana untuk kesehatan diatur sebesar 25 persen.

Hartopo menyebut, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran DBHCHT untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Dalam hal ini dikucur pembelian Transcortical Magnetic Stimulation (TMS) di RSUD Loekmonohadi dan PCR di DKK.

”Kalau TMS sudah proses lelang, penggunaan dana cukai juga diperuntukkan sosialiasi perundang-undangan tentang cukai dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Pihaknya meminta, untuk menghadapi varian baru Covid-19 masyarakat tetap diminta menerapkan protokol kesehatan. Sebab penyebaran virus varian baru Omicron penularannya lebih cepat. Gejalanya pun hampir sama mirip Covid-19. Seperti, sesak napas, batuk, dan pusing. (zen)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/