alexametrics
26.5 C
Kudus
Friday, August 19, 2022

Waisak di Kutuk Kudus digelar Lebih Leluasa, Umat Muslim Nyumbang Pasang Pelita Kebajikan

KUDUS – Perayaan Hari Waisak di Desa Kutuk, Undaan kini digelar lebih leluasa tidak seperti tahun sebelumnya. Kemeriahan Waisak juga disambut baik oleh berbagai umat, di antaranya umat Muslim maupun Tionghoa menyumbang pelita kebajikan (lilin) yang ditempatkan pada altar.

Jupri Afendhi Pengurus Umat Budha di Vihara Budha Santi mengatakan, meski tergolong digelar secara sederhana, tahun ini perayaan lebih meriah dari pada dua tahun sebelumnya. Beragam umat Muslim dan Tioghoa juga turut bersuka cita.

Saat wartawan mendekat ke lokasi altar. Pada salah satu lilin ada sebuah nama yang tercantum di sana, salah satunya nama Tjan Ay Ling selaku Ketua Klenteng Hok Hien Bio Kudus. Jupri juga menjelaskan, jika warga Muslim sekitar juga ikut berpartisipasi dalam menyumbang pelita kebajikan atau lilin itu. Tujuannya, dengan lilin itu berharap agar dapat dimudahkan segala urusan pada tahun ini.


“Di dalam gelas bening itu bagian isi bawah terisi air, bagian tengah diisi minyak, lalu diatas inyak ditaruh sumbu untuk menghidupkan lilin,” katanya. Penyalaan lilin itu sendiri dimulai sejak adanya prosesi ritual pada (15/5) dini hari pada pukul 03.00. Pada tahun ini ia berharap, afar Waisak tahun ini diharapkan dapat membawakan berkah kepada semua umat beragama.

Baca Juga :  The Hills Vaganza, Tempat Wisata di Lereng Muria yang Cocok untuk Hangout

Suparno Bodhi Cakra, Pandita Vihara Budha Santi dan Vihara Vajra Bodhi Manggala Kudus mengatakan Detik -detik Waisak tepat pada pukul 11.13. Tepat pada saat itu, Umat Budha harus dalam keadaan meditasi. Di Vihara Budha Santi sendiri melakukan 15 menit meditasi. Pergelaran Wisak diikuti oleh 250 warga dari Desa Kutuk (tanpa warga dari luar daerah).

Urutan ritual pertama dimulai dengan Puja Bhakti mulai pukul 09.00. “Pada saat itu juga kita adakan Pradaksina dengan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali putaran,” katanya. Setelah puja bhakti dilanjutkan dengan (sembahyang). Selanjutnya, mengadakan ritual bawa tupeng, yang disajikan pihak vihara, untuk di santap secara bersama-sama.

Tidak hanya itu, setelah pergelaran Waisak, pihak vihara memeriahkan dengan cara mengadakan lomba sekolah Minggu untuk anak-anak dan pemuda pada pukul 13.00-17.00. “Lomba hiburan tersebut untuk memeriahkan suasana,” katanya. Disambung dengan pergelaran karawitan pukul 19.00 yang dipentaskan oleh anak-anak Sekolah Minggu dan karang taruna setempat. Dan sekitar jam 12.00 malam, ada lek-lekan gamelan dan sinden, sebagai kegiatan amah tamah bersama warga sekitar. (ark)

KUDUS – Perayaan Hari Waisak di Desa Kutuk, Undaan kini digelar lebih leluasa tidak seperti tahun sebelumnya. Kemeriahan Waisak juga disambut baik oleh berbagai umat, di antaranya umat Muslim maupun Tionghoa menyumbang pelita kebajikan (lilin) yang ditempatkan pada altar.

Jupri Afendhi Pengurus Umat Budha di Vihara Budha Santi mengatakan, meski tergolong digelar secara sederhana, tahun ini perayaan lebih meriah dari pada dua tahun sebelumnya. Beragam umat Muslim dan Tioghoa juga turut bersuka cita.

Saat wartawan mendekat ke lokasi altar. Pada salah satu lilin ada sebuah nama yang tercantum di sana, salah satunya nama Tjan Ay Ling selaku Ketua Klenteng Hok Hien Bio Kudus. Jupri juga menjelaskan, jika warga Muslim sekitar juga ikut berpartisipasi dalam menyumbang pelita kebajikan atau lilin itu. Tujuannya, dengan lilin itu berharap agar dapat dimudahkan segala urusan pada tahun ini.

“Di dalam gelas bening itu bagian isi bawah terisi air, bagian tengah diisi minyak, lalu diatas inyak ditaruh sumbu untuk menghidupkan lilin,” katanya. Penyalaan lilin itu sendiri dimulai sejak adanya prosesi ritual pada (15/5) dini hari pada pukul 03.00. Pada tahun ini ia berharap, afar Waisak tahun ini diharapkan dapat membawakan berkah kepada semua umat beragama.

Baca Juga :  Vaksinasi Booster Kedua untuk Tenaga Kesehatan di Kudus Mulai Dilaksanakan

Suparno Bodhi Cakra, Pandita Vihara Budha Santi dan Vihara Vajra Bodhi Manggala Kudus mengatakan Detik -detik Waisak tepat pada pukul 11.13. Tepat pada saat itu, Umat Budha harus dalam keadaan meditasi. Di Vihara Budha Santi sendiri melakukan 15 menit meditasi. Pergelaran Wisak diikuti oleh 250 warga dari Desa Kutuk (tanpa warga dari luar daerah).

Urutan ritual pertama dimulai dengan Puja Bhakti mulai pukul 09.00. “Pada saat itu juga kita adakan Pradaksina dengan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali putaran,” katanya. Setelah puja bhakti dilanjutkan dengan (sembahyang). Selanjutnya, mengadakan ritual bawa tupeng, yang disajikan pihak vihara, untuk di santap secara bersama-sama.

Tidak hanya itu, setelah pergelaran Waisak, pihak vihara memeriahkan dengan cara mengadakan lomba sekolah Minggu untuk anak-anak dan pemuda pada pukul 13.00-17.00. “Lomba hiburan tersebut untuk memeriahkan suasana,” katanya. Disambung dengan pergelaran karawitan pukul 19.00 yang dipentaskan oleh anak-anak Sekolah Minggu dan karang taruna setempat. Dan sekitar jam 12.00 malam, ada lek-lekan gamelan dan sinden, sebagai kegiatan amah tamah bersama warga sekitar. (ark)


Most Read

Artikel Terbaru

/