alexametrics
23.9 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Jaga Kapasitas Tampung, Lumpur di Bendung Wilalung Kudus Dikeruk

KUDUS – Demi menjaga kapasitas daya tampung, lumpur di Bendung Wilalung dikeruk. Dilakukan sejak tiga hari belakangan. Pengerukan juga menjadi agenda perawatan rutin demi menjaga tanggul-tanggul.

Dari pantauan lapangan, ada satu alat berat yang difungsikan. Itu mengeruk lumpur yang berada di sekitar area bendungan. Tepatnya di sebelah kanan. Lumpur yang dikeruk itu, kemudian dijadikan penguat tanggul.

Bagian Operasional dan Perawatan (OP) Bendung Wilalung Sugeng Hartanto menyebut, pengerukan ini menjadi agenda rutinan perawatan. Yang ranah kerjanya di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. ”Semula di PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air). Tetapi sejak dua tahun terakhir, beralih ke BBWS,” terangnya.


Menurutnya, pengerukan tidak dilakukan di seluruh panjang sungai. Hanya di sekitar bendung. Sejauh sekitar 0,5 Km dari bendungan ke arah wilayah atas.

”Fungsi pengerukan ini untuk menormalkan daya tampung bendung. Juga melakukan penguatan tanggul serta merapikan,” tambahnya.

Daya tampung normal bendung Wilalung, yakni ketika aliran debit air 800 m3 per detik. Bila aliran di atas itu, bendungan tak lagi dapat menampung. Dengan begitu, akan dilakukan pembukaan pintu saluran ke arah sungai Juwana dan Wulan.

Baca Juga :  Libur Tahun Baru, Sejumlah Destinasi Wisata di Kudus Diserbu Pengunjung

”Untuk itu, menjaga daya tampung ini penting, agar bendungan tidak cepat penuh. Sebab, bila cepat penuh, airnya harus dibuang ke Juwana dan sungai Wulan. Hal itu akan memicu kemungkinan banjir,” imbuhnya.

Terlebih, dia menjelaskan, area bendung dengan radius 0,5 Km tak lagi steril. Karena mulai ada permukiman warga. Dengan begitu, untuk meminimalisasi potensi banjir, perawataan bendungan menjadi urgen.

Dia menambahkan, bendung Wilalung tersebut buatan zaman Belanda sejak 1908. Memiliki 11 pintu saluran. Terdiri dari sembilan pintu ke arah sunagi Juana dan dua pintu ke arah sungai Wulan. Pintu-pintu ini akan dibuka bila air yang datang melebihi daya tampung.

”Awalnya bendung Wilalung digunakan sebagai irigasi bagi lahan pertanian. Karena pada waktu itu, Belanda sedang gencar-gencarnya menanam tebu. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, bendung Wilalung kemudian dimanfaatkan sebagai irigasi dengan model pompanisasi,” jelasnya.

Tetapi berhubung ada pembangunan waduk Kedungombo dan waduk Klambu, akhirnya pintu Wilalung beralih fungsi menjadi bendung Wilalung. Difungsikan untuk pemantauan banjir dan pengendali aliran air. (lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Demi menjaga kapasitas daya tampung, lumpur di Bendung Wilalung dikeruk. Dilakukan sejak tiga hari belakangan. Pengerukan juga menjadi agenda perawatan rutin demi menjaga tanggul-tanggul.

Dari pantauan lapangan, ada satu alat berat yang difungsikan. Itu mengeruk lumpur yang berada di sekitar area bendungan. Tepatnya di sebelah kanan. Lumpur yang dikeruk itu, kemudian dijadikan penguat tanggul.

Bagian Operasional dan Perawatan (OP) Bendung Wilalung Sugeng Hartanto menyebut, pengerukan ini menjadi agenda rutinan perawatan. Yang ranah kerjanya di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. ”Semula di PSDA (Pengelolaan Sumber Daya Air). Tetapi sejak dua tahun terakhir, beralih ke BBWS,” terangnya.

Menurutnya, pengerukan tidak dilakukan di seluruh panjang sungai. Hanya di sekitar bendung. Sejauh sekitar 0,5 Km dari bendungan ke arah wilayah atas.

”Fungsi pengerukan ini untuk menormalkan daya tampung bendung. Juga melakukan penguatan tanggul serta merapikan,” tambahnya.

Daya tampung normal bendung Wilalung, yakni ketika aliran debit air 800 m3 per detik. Bila aliran di atas itu, bendungan tak lagi dapat menampung. Dengan begitu, akan dilakukan pembukaan pintu saluran ke arah sungai Juwana dan Wulan.

Baca Juga :  Imbas Demo Sopir Truk Protes Aturan ODOL di Kudus, Jalur Pantura Lumpuh

”Untuk itu, menjaga daya tampung ini penting, agar bendungan tidak cepat penuh. Sebab, bila cepat penuh, airnya harus dibuang ke Juwana dan sungai Wulan. Hal itu akan memicu kemungkinan banjir,” imbuhnya.

Terlebih, dia menjelaskan, area bendung dengan radius 0,5 Km tak lagi steril. Karena mulai ada permukiman warga. Dengan begitu, untuk meminimalisasi potensi banjir, perawataan bendungan menjadi urgen.

Dia menambahkan, bendung Wilalung tersebut buatan zaman Belanda sejak 1908. Memiliki 11 pintu saluran. Terdiri dari sembilan pintu ke arah sunagi Juana dan dua pintu ke arah sungai Wulan. Pintu-pintu ini akan dibuka bila air yang datang melebihi daya tampung.

”Awalnya bendung Wilalung digunakan sebagai irigasi bagi lahan pertanian. Karena pada waktu itu, Belanda sedang gencar-gencarnya menanam tebu. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, bendung Wilalung kemudian dimanfaatkan sebagai irigasi dengan model pompanisasi,” jelasnya.

Tetapi berhubung ada pembangunan waduk Kedungombo dan waduk Klambu, akhirnya pintu Wilalung beralih fungsi menjadi bendung Wilalung. Difungsikan untuk pemantauan banjir dan pengendali aliran air. (lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/