alexametrics
22 C
Kudus
Wednesday, July 27, 2022

Korban Pencabulan Guru Ngaji di Kudus Bertambah Jadi Delapan Orang

KUDUS – Kasus pencabulan di Gebog yang dilakukan tersangka (MA) di salah satu madrasah terus berkembang. Total kini ada delapan korban yang mengaku dari semula satu.

Kasus tersebut telah ditangangi Polres Kudus. Sementara beberapa pihak terkait seperti Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA), pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta relawan fokus pada pendampingan korban.

Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak Noor Haniah menyebut banyak pihak terlibat dalam penangan kasus itu, sehingga dibentuklah tim. Itu terdiri dari JPPA, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB), Polres, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan relawan. “Kami saling bersinergi agar kerja ini tak berat,” jelasnya.


Pihaknya pun menyebut focus pada pendampingan korban. Yakni berupa pendampingan secara psikolog, trauma healing, hingga pendampingan edukasi terhadap korban dan siswa di madrasah tersebut. Termasuk akan mengedukasi lingkungan dan masyarakat setempat.

Terkait kasus pencabulan itu menurutnya semula memang hanya satu korban. Tetapi berkembang, sehingga kini ada delapan korban yang mengaku.

Baca Juga :  Banyak Proyek Gagal di Kudus, Serapan Anggaran Baru 52 Persen

“Semula mereka belum berani melapor. Kami juga masih dalami. Dan tak menutup kemungkinan akan bertambah. Kami akan berupaya mengawal kasus itu sampai putusan,” terangnya.

Haniah mengatakan kasus serupa bukan pertama kali terjadi. Namun dalam delapan tahun terakhir terbilang paling besar. Sebab jumlah korban paling banyak.

“Dulu pernah tetapi tak sebanyak ini. Sempat delapan tahun lalu ada korban enam,” katanya.

Terkait tersangka, menurutnya bisa jadi ada kelainan dengan terus bertambahnya jumlah korban. Untuk itu diusulkan pula agar ada pemeriksaan secara kejiwaan.

Bupati Kudus Hartopo mengaku sudah koordinasi dengan Kemenag agar pihak Kemenag juga membantu penangan, sehingga kasus serupa tak terulang lagi.

“Kami akan mendukung. Makanya dari Kemenag dan pemerintah akan mencoba membantu penanganan dan memberikan pendampingan ke korban,” jelasnya.

Pihaknya pun berkoordinasi dengan JPPA dan relawan terkait guna focus pada pemulihan psikologis korban.

“Sudah ada pendampingan dari JPPA dan jaringan lainnya. Untuk proses hukum kami serahkan ke pihak berwajib,” imbuhnya. (tos/mal)

KUDUS – Kasus pencabulan di Gebog yang dilakukan tersangka (MA) di salah satu madrasah terus berkembang. Total kini ada delapan korban yang mengaku dari semula satu.

Kasus tersebut telah ditangangi Polres Kudus. Sementara beberapa pihak terkait seperti Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA), pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta relawan fokus pada pendampingan korban.

Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak Noor Haniah menyebut banyak pihak terlibat dalam penangan kasus itu, sehingga dibentuklah tim. Itu terdiri dari JPPA, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB), Polres, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan relawan. “Kami saling bersinergi agar kerja ini tak berat,” jelasnya.

Pihaknya pun menyebut focus pada pendampingan korban. Yakni berupa pendampingan secara psikolog, trauma healing, hingga pendampingan edukasi terhadap korban dan siswa di madrasah tersebut. Termasuk akan mengedukasi lingkungan dan masyarakat setempat.

Terkait kasus pencabulan itu menurutnya semula memang hanya satu korban. Tetapi berkembang, sehingga kini ada delapan korban yang mengaku.

Baca Juga :  Binda Jateng Selenggarakan Vaksin Masal di Delapan Kabupaten

“Semula mereka belum berani melapor. Kami juga masih dalami. Dan tak menutup kemungkinan akan bertambah. Kami akan berupaya mengawal kasus itu sampai putusan,” terangnya.

Haniah mengatakan kasus serupa bukan pertama kali terjadi. Namun dalam delapan tahun terakhir terbilang paling besar. Sebab jumlah korban paling banyak.

“Dulu pernah tetapi tak sebanyak ini. Sempat delapan tahun lalu ada korban enam,” katanya.

Terkait tersangka, menurutnya bisa jadi ada kelainan dengan terus bertambahnya jumlah korban. Untuk itu diusulkan pula agar ada pemeriksaan secara kejiwaan.

Bupati Kudus Hartopo mengaku sudah koordinasi dengan Kemenag agar pihak Kemenag juga membantu penangan, sehingga kasus serupa tak terulang lagi.

“Kami akan mendukung. Makanya dari Kemenag dan pemerintah akan mencoba membantu penanganan dan memberikan pendampingan ke korban,” jelasnya.

Pihaknya pun berkoordinasi dengan JPPA dan relawan terkait guna focus pada pemulihan psikologis korban.

“Sudah ada pendampingan dari JPPA dan jaringan lainnya. Untuk proses hukum kami serahkan ke pihak berwajib,” imbuhnya. (tos/mal)


Most Read

Artikel Terbaru

/