alexametrics
31.4 C
Kudus
Friday, July 1, 2022

Kerajinan Batok Kudus Tembus Pasar Mancanegara

KUDUS – Kerajinan berbahan tempurung kelapa milik Tiar Bachroni tak diragukan lagi. Produk yang dibuatnya kerap kali dilirik orang luar negeri, salah satu yang pernah ia buat bra. Pesanan dari Jamaika dengan jumlah 100 pcs.

Memanfaatkan market digital mengantarkan produk kerajinan dari tempurung kelapa milik Tiar Bachroni, bisa tembus pasar luar negeri. Perajin asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus merintis usaha tersebut dari 2017.

Roni panggilan akrabnya, saat mengikuti pameran usaha kecil menengah (UKM) di Pijar Park Rabu (9/2) lalu, bercerita pengalamannya yang unik. Yakni mendapatkan pesanan bentuk bra dari batok kelapa. ”Awalnya saya posting produk-produk saya di sosial media (sosmed), kemudian ada kontak masuk. Orang tersebut berasar dari Jamaika dan saya ditanya bisa membuat bra dari bahan batok kelapa dan dikirim gambar bentuk branya. Saya sanggupi padahal belum pernah sama sekali membuat,” terangnya.


Roni sempat ragu karena pesannya 100 pcs dengan ukuran yang all size. Namun setelah transaksi pembayaran baru percaya kalau serius pesan. Ia juga sempat terheran-heran membuat bra dari bahan batok kelapa, berhubung sudah ada contohnya tinggal jiplak saja seperti keinginan pemesan.

”Waktu itu saya dapat pesanan bra 100 pcs di kirim ke Jamaika sekitar 2018. Setelah saya buat dan produknya saya posting, ternyata responnya tambah banyak. Bahkan ada yang pesan sesuai ukuran. Dan, sampai sekarang masih membuat bra dari bahan batok kelapa,” ujarnya.

Roni mengatakan, setelah itu banyak pesanan dari Kalimantan pesan 30 buah bra batok kelapa. Selain produk bra, ia juga membuat teko, gelas, mangkok, piring hingga celengan dengan beragam bentuk seperti gajah dan lainnya.

TELITI: Tiar Bachroni mengerjakan batok kelapa yang akan dibuat berbagai jenis produk kerajinan. (TIAR BACHRONI FOR RADAR KUDUS)

Ia mengaku, piring dan gelas tak kalah banjir orderan. Selain pemenuhan dalam negeri juga pesanan datang dari Australia. Roni mematok harga mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 1 juta per buah tergantung tingkat kerumitan dalam pembuatannya.

Baca Juga :  BPJAMSOSTEK Siap Beri Layanan Manfaat Program JKP

Roni mengungkapkan sebenarnya dapat orderan dari luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri karena karyanya diakui sampai tingkat internasional. Namun, kendala yang kerap dialami, pada saat pengiriman barang yang jumlahnya besar dan tarifnya cukup tinggi. Ia khawatir ada unsur penipuan, kemudian ia mencari forwarder yang bisa dipercaya. Karena barang yang dikirim jumlahnya besar.

Sementara itu, dalam pemilihan bahan baku untuk produknya, semua jenis kelapa bisa dipakai menjadi kerajinan. Terutama batok kelapa yang tua dan keras sehingga memberikan hasil jadi yang lebih baik.

Untuk mendapatkan bahan baku, Roni membelinya dari Purworejo dan Jogjakarta. Menurutnya, di Kudus ada batok kelapa tapi bentuknya banyak yang tidak utuh, sehingga kesulitan untuk dibentuk. ”Kalau batok kelapa dari Jogjakarta itu lemir, jadi nggak keras. Makanya saya ambil bahan baku dari Purworejo lebih keras,” katanya.

Bahan baku tersebut biasanya dikirim langsung, namun jika butuh dalam jumlah banyak. Roni memilih untuk datang langsung agar bisa dipastikan kualitasnya baik. Sekali kirim 100 batok, tapi kalau butuh banyak ambil sendiri. Belinya per kilogram.

Adapun omzet rata-ratanya setiap bulan mencapai Rp 5 juta per bulan selama pandemi.
Jumlah itu turun hampir 30 persen dari sebelum pandemi yang bisa mencapai Rp 8 juta per bulan.

Dia berencana ‎akan mengembangkan produk dengan membuat jam tangan dan jam dinding dari batok kelapa. Kemudian kerajinan yang berbentuk maket Masjid Menara Kudus. Pihaknya, sudah mulai rancang, rencana segera realisasikan pada tahun 2022. (adv)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Kerajinan berbahan tempurung kelapa milik Tiar Bachroni tak diragukan lagi. Produk yang dibuatnya kerap kali dilirik orang luar negeri, salah satu yang pernah ia buat bra. Pesanan dari Jamaika dengan jumlah 100 pcs.

Memanfaatkan market digital mengantarkan produk kerajinan dari tempurung kelapa milik Tiar Bachroni, bisa tembus pasar luar negeri. Perajin asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus merintis usaha tersebut dari 2017.

Roni panggilan akrabnya, saat mengikuti pameran usaha kecil menengah (UKM) di Pijar Park Rabu (9/2) lalu, bercerita pengalamannya yang unik. Yakni mendapatkan pesanan bentuk bra dari batok kelapa. ”Awalnya saya posting produk-produk saya di sosial media (sosmed), kemudian ada kontak masuk. Orang tersebut berasar dari Jamaika dan saya ditanya bisa membuat bra dari bahan batok kelapa dan dikirim gambar bentuk branya. Saya sanggupi padahal belum pernah sama sekali membuat,” terangnya.

Roni sempat ragu karena pesannya 100 pcs dengan ukuran yang all size. Namun setelah transaksi pembayaran baru percaya kalau serius pesan. Ia juga sempat terheran-heran membuat bra dari bahan batok kelapa, berhubung sudah ada contohnya tinggal jiplak saja seperti keinginan pemesan.

”Waktu itu saya dapat pesanan bra 100 pcs di kirim ke Jamaika sekitar 2018. Setelah saya buat dan produknya saya posting, ternyata responnya tambah banyak. Bahkan ada yang pesan sesuai ukuran. Dan, sampai sekarang masih membuat bra dari bahan batok kelapa,” ujarnya.

Roni mengatakan, setelah itu banyak pesanan dari Kalimantan pesan 30 buah bra batok kelapa. Selain produk bra, ia juga membuat teko, gelas, mangkok, piring hingga celengan dengan beragam bentuk seperti gajah dan lainnya.

TELITI: Tiar Bachroni mengerjakan batok kelapa yang akan dibuat berbagai jenis produk kerajinan. (TIAR BACHRONI FOR RADAR KUDUS)

Ia mengaku, piring dan gelas tak kalah banjir orderan. Selain pemenuhan dalam negeri juga pesanan datang dari Australia. Roni mematok harga mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 1 juta per buah tergantung tingkat kerumitan dalam pembuatannya.

Baca Juga :  KKN-IK IAIN Kudus Ciptakan Puzzle Etnomatematika

Roni mengungkapkan sebenarnya dapat orderan dari luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri karena karyanya diakui sampai tingkat internasional. Namun, kendala yang kerap dialami, pada saat pengiriman barang yang jumlahnya besar dan tarifnya cukup tinggi. Ia khawatir ada unsur penipuan, kemudian ia mencari forwarder yang bisa dipercaya. Karena barang yang dikirim jumlahnya besar.

Sementara itu, dalam pemilihan bahan baku untuk produknya, semua jenis kelapa bisa dipakai menjadi kerajinan. Terutama batok kelapa yang tua dan keras sehingga memberikan hasil jadi yang lebih baik.

Untuk mendapatkan bahan baku, Roni membelinya dari Purworejo dan Jogjakarta. Menurutnya, di Kudus ada batok kelapa tapi bentuknya banyak yang tidak utuh, sehingga kesulitan untuk dibentuk. ”Kalau batok kelapa dari Jogjakarta itu lemir, jadi nggak keras. Makanya saya ambil bahan baku dari Purworejo lebih keras,” katanya.

Bahan baku tersebut biasanya dikirim langsung, namun jika butuh dalam jumlah banyak. Roni memilih untuk datang langsung agar bisa dipastikan kualitasnya baik. Sekali kirim 100 batok, tapi kalau butuh banyak ambil sendiri. Belinya per kilogram.

Adapun omzet rata-ratanya setiap bulan mencapai Rp 5 juta per bulan selama pandemi.
Jumlah itu turun hampir 30 persen dari sebelum pandemi yang bisa mencapai Rp 8 juta per bulan.

Dia berencana ‎akan mengembangkan produk dengan membuat jam tangan dan jam dinding dari batok kelapa. Kemudian kerajinan yang berbentuk maket Masjid Menara Kudus. Pihaknya, sudah mulai rancang, rencana segera realisasikan pada tahun 2022. (adv)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/