alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Meski Investor Tiongkok Batal Masuk, Pemkab Kudus Punya 12 Rancangan Pengembangan Wisata Rahtawu

KUDUS – Pemkab Kudus telah mengirimkan surat pembatalan penanaman investasi di Desa Wisata Rahtawu kepada investor asal Tiongkok. Sebab, tidak ada kejalasan yang pasti dan melebihi batas waktu enam bulan.

Usai pembatalan itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Rahtawu tak lantas kelimpungan atas rancangan wisata yang gagal itu. Pemdes terkait telah memiliki grand design pengembangan wisata Rahtawu jangka panjang.

Kepala Desa Rahtawu Didik Ariyadi menyatakan, pengembangan wisata sudah dirancang secara jangka panjang. Ketika rencana penanaman investasi yang di antaranya ada kereta gantung gagal, pihaknya telah menyediakan plan kedua.


Plan tersebut, pembangunan kampung adat di Dukuh Semliro. Jangka waktu pengembangnnya ditarget mulai 2023 hingga 2024 mendatang. ”Ada 12 plan yang kami rancang untuk pengembangan wisata di Rahtawu,” jelasnya.

Menurutnya, di Kampung Adat Semliro sangat berpotensi untuk menarik wisatawan. Konsep kampung adat secara garis besar bertujuan untuk menjaga kelestarian alam Desa Rahtawu. Investor dari luar desa tidak diperbolehkan menanam investasi di sana. Pengembangan kawasan tersebut, hanya boleh dikelola oleh warga setempat.

”Di Rahtawu kami bagi empat kawasan. Meliputi, kampung adat, kampung santri, kampung modern, dan kampung Pancasila,” ungkapnya.

Kawasan penanaman investasi untuk pengembangan wisata di sana hanya boleh di wilayah kampung modern. Investor dari luar diberikan lampu hijau untuk menanakan investasi di sana.

Baca Juga :  Lima Tahun Tak Tersentuh, Akhirnya SDN 6 Terban Kudus Rusak Diperbaiki

Hingga kini, ada beberapa wisata yang dikembangkan di sana. Salah satunya, kolam renang Lenk Dopeng. Wisata tersebut mengolaborasikan kolam renang dengan pemandangan alam di sekitarnya.

Dalam penanaman investasi di kampung modern itu, kepala desa memastikan tidak meninggalkan warga setempat. Investor diwajibkan merekrut tenaga kerja dari warga sekitar. Agar perputaran ekonomi di Desa Rahtawu berkembanh pesat.

”Proyek jangka panjang kami adalah wisata susur sungai hingga puncak di Sungai Cengkal sampai Puncak Soko Kaleh,” kata Didik. ”Pada Oktober, pemdes akan meresmikan wisata baru, Taman Rahtawu,” imbuhnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah menyebut, Kampung Adat Semliro sangat potesial. Sebab, selama ini sudah ada warga luar Kudus yang pernah berkunjung.

”Ada warga Solo dan Jawa Timur berkunjung, karena di sana dianggap punya kebudayaan dan tradisi yang sama (Pertapaan Eyang Mada, Red). Kunjungan itu bersifat rutin,” katanya.

Di samping itu, Desa Rahtawu juga memiliki program Sabtu Bersih. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyambut kunjungan wisatawan yang berlibur saat akhir pekan. (gal/lin)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Pemkab Kudus telah mengirimkan surat pembatalan penanaman investasi di Desa Wisata Rahtawu kepada investor asal Tiongkok. Sebab, tidak ada kejalasan yang pasti dan melebihi batas waktu enam bulan.

Usai pembatalan itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Rahtawu tak lantas kelimpungan atas rancangan wisata yang gagal itu. Pemdes terkait telah memiliki grand design pengembangan wisata Rahtawu jangka panjang.

Kepala Desa Rahtawu Didik Ariyadi menyatakan, pengembangan wisata sudah dirancang secara jangka panjang. Ketika rencana penanaman investasi yang di antaranya ada kereta gantung gagal, pihaknya telah menyediakan plan kedua.

Plan tersebut, pembangunan kampung adat di Dukuh Semliro. Jangka waktu pengembangnnya ditarget mulai 2023 hingga 2024 mendatang. ”Ada 12 plan yang kami rancang untuk pengembangan wisata di Rahtawu,” jelasnya.

Menurutnya, di Kampung Adat Semliro sangat berpotensi untuk menarik wisatawan. Konsep kampung adat secara garis besar bertujuan untuk menjaga kelestarian alam Desa Rahtawu. Investor dari luar desa tidak diperbolehkan menanam investasi di sana. Pengembangan kawasan tersebut, hanya boleh dikelola oleh warga setempat.

”Di Rahtawu kami bagi empat kawasan. Meliputi, kampung adat, kampung santri, kampung modern, dan kampung Pancasila,” ungkapnya.

Kawasan penanaman investasi untuk pengembangan wisata di sana hanya boleh di wilayah kampung modern. Investor dari luar diberikan lampu hijau untuk menanakan investasi di sana.

Baca Juga :  Habib Ali Mahir Tutup Usia, Dikenal Cair dan Ceria

Hingga kini, ada beberapa wisata yang dikembangkan di sana. Salah satunya, kolam renang Lenk Dopeng. Wisata tersebut mengolaborasikan kolam renang dengan pemandangan alam di sekitarnya.

Dalam penanaman investasi di kampung modern itu, kepala desa memastikan tidak meninggalkan warga setempat. Investor diwajibkan merekrut tenaga kerja dari warga sekitar. Agar perputaran ekonomi di Desa Rahtawu berkembanh pesat.

”Proyek jangka panjang kami adalah wisata susur sungai hingga puncak di Sungai Cengkal sampai Puncak Soko Kaleh,” kata Didik. ”Pada Oktober, pemdes akan meresmikan wisata baru, Taman Rahtawu,” imbuhnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah menyebut, Kampung Adat Semliro sangat potesial. Sebab, selama ini sudah ada warga luar Kudus yang pernah berkunjung.

”Ada warga Solo dan Jawa Timur berkunjung, karena di sana dianggap punya kebudayaan dan tradisi yang sama (Pertapaan Eyang Mada, Red). Kunjungan itu bersifat rutin,” katanya.

Di samping itu, Desa Rahtawu juga memiliki program Sabtu Bersih. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyambut kunjungan wisatawan yang berlibur saat akhir pekan. (gal/lin)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru