alexametrics
26.3 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Ngaji sekaligus Belajar Jurnalisme Lawan Hoaks

KUDUS – Santri di pesantren Riset Prisma Quranuna Kudus menggelar kegiatan program intensif santri dan mahasiswi siap guna (Prismaguna). Di samping, kajian ngaji kitab kuning selepas subuh dan menjelang magrib, santri diberi materi jurnalisme melawan hoaks.

Acara yang diselenggarakan di aula Pesantren Riset Prisma Quranuna di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae menghadirkan narasumber Afina Izzati AH yang baru saja menyelesaikan studi magister di IAIN Kudus.

Afina mememberikan materi tentang teori menulis berita atau menulis feature, tetapi juga langsung mempraktikkannya (learning by doing). Sekitar 50 santri mahasiswa antusias mengikutinya, apalagi metode yang disampaikan menarik rasa ingin tahu dari peserta.


Sementara Pengasuh Pesantren Riset Prisma Quranuna Abah Nur Said, acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari semangat menghidupkan spirit Alquran yang menekankan pentingnya membaca dan menulis untuk tabligh fi sabilillah.

”Kegiatan ini juga sekaligus alternatif program posonan untuk pembekalan santri siap guna dalam semarakkan Ramadan dan sekaligus menyiapkan kader ulama perempuan yang yang memiliki keterampilan berbahasa dan menulis,” ungkapnya.

Baca Juga :  Imbas Demo Sopir Truk Protes Aturan ODOL di Kudus, Jalur Pantura Lumpuh

Dia menambahkan, Prismaguna diselenggarakan selama sekitar tiga pekan. Selain materi jurnalisme profetik, ada juga kegiatan Pranata Jawa dan Cooking Class, juga ada materi khusus  bimbingan konseling keluarga, agar peserta siaga hadapi problematika dalam keluarga.

”Agar peserta siap menjadi penggerak Aswaja, materi khusus Mabadi Khaira Ummah juga diberikan. Peserta diikuti mahasiswi dan bisa menambah ilmu tidak hanya keagamaan tapi wawasan umum. Uniknya kami juga mengajari pranata Jawa dan memasak. Ya, supaya peserta tidak merasa jenuh dan materinya bervariasi,” ungkapnya.

Kegiatan Prismaguna juga tetap mempertahankan tradisi balagh kitab kuning setiap hari sehabis Ashar dan Subuh diasuh langsung oleh Abah Nur Said dan ustaz M. Arif Hakim. Hal ini sebagai praksis Almuhafadhatu’alal Qadimishshaleh Wal Akhdzu Biljadidil Ashlah.

”Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Tak lain sebagai ikhtiar merawat tradisi,” ungkapnya. (san/mal)

KUDUS – Santri di pesantren Riset Prisma Quranuna Kudus menggelar kegiatan program intensif santri dan mahasiswi siap guna (Prismaguna). Di samping, kajian ngaji kitab kuning selepas subuh dan menjelang magrib, santri diberi materi jurnalisme melawan hoaks.

Acara yang diselenggarakan di aula Pesantren Riset Prisma Quranuna di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae menghadirkan narasumber Afina Izzati AH yang baru saja menyelesaikan studi magister di IAIN Kudus.

Afina mememberikan materi tentang teori menulis berita atau menulis feature, tetapi juga langsung mempraktikkannya (learning by doing). Sekitar 50 santri mahasiswa antusias mengikutinya, apalagi metode yang disampaikan menarik rasa ingin tahu dari peserta.

Sementara Pengasuh Pesantren Riset Prisma Quranuna Abah Nur Said, acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari semangat menghidupkan spirit Alquran yang menekankan pentingnya membaca dan menulis untuk tabligh fi sabilillah.

”Kegiatan ini juga sekaligus alternatif program posonan untuk pembekalan santri siap guna dalam semarakkan Ramadan dan sekaligus menyiapkan kader ulama perempuan yang yang memiliki keterampilan berbahasa dan menulis,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dinas Gelontorkan Rp 2 Miliar untuk Biaya Pemakaman Warga Miskin di Kudus

Dia menambahkan, Prismaguna diselenggarakan selama sekitar tiga pekan. Selain materi jurnalisme profetik, ada juga kegiatan Pranata Jawa dan Cooking Class, juga ada materi khusus  bimbingan konseling keluarga, agar peserta siaga hadapi problematika dalam keluarga.

”Agar peserta siap menjadi penggerak Aswaja, materi khusus Mabadi Khaira Ummah juga diberikan. Peserta diikuti mahasiswi dan bisa menambah ilmu tidak hanya keagamaan tapi wawasan umum. Uniknya kami juga mengajari pranata Jawa dan memasak. Ya, supaya peserta tidak merasa jenuh dan materinya bervariasi,” ungkapnya.

Kegiatan Prismaguna juga tetap mempertahankan tradisi balagh kitab kuning setiap hari sehabis Ashar dan Subuh diasuh langsung oleh Abah Nur Said dan ustaz M. Arif Hakim. Hal ini sebagai praksis Almuhafadhatu’alal Qadimishshaleh Wal Akhdzu Biljadidil Ashlah.

”Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Tak lain sebagai ikhtiar merawat tradisi,” ungkapnya. (san/mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/