alexametrics
24.1 C
Kudus
Saturday, January 22, 2022

Akhirnya, Keluarga Syaref Dapat Bantuan setelah 5 Tahun Tinggal di RTLH

KUDUS – Keluarga Syaref dan Anita akhirnya mendapat bantuan perbaikan rumah setelah lima tahun tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH). Dalam kesempatan itu Bupati Hartopo juga meminta kades untuk aktif mendapat warga yang memiliki RTLH biar segera ditindaklanjuti.

Secara simbolik, kemarin (13/1), Hartopo memberikan bantuan sebanyak Rp 32 juta. Bantuan itu berasal dari berbagai pihak, seperti Baznas Kabupaten Kudus, pihak Pemdes Desa, hingga PMI.

“Terkait bantuan ini pertanda sinergitas dari semua pihak. Ada masalah di masyarakat, mari keroyok bareng. Semoga bantuan ini bermanfaat,” jelasnya.

Hartopo mengatakan, agar kepala desa bisa lebih detail mendata kondisi warganya, sehingga bila ada rumah warga yang kondisinya memprihatinkan segera mendapat bantuan.

“Bila ada yang masih tak respon, masyarakat bisa melaporkan. Nanti akan kami tindaklanjuti. Tentunya dengan menggandeng semua elemen,” tambahnya.

Pihaknya mengakui bila proses pengajuan bantuan secara administratif melalui dinas cukup berbelit-belit. Tak heran bila ada rumah yang mendesak diperbaiki akan diupayakan melalui cara lain.

Baca Juga :  Normalnya Rp 6 Juta, Kios Taman Bojana Disewakan Rp 15 Juta

Anita dan keluarganya terpaksa tinggal di rumah tak layak huni selama lima tahun semenjak dia dan keluarga memisahkan diri dari orangtua.

Rumah yang mereka tinggali tampak memperihatinkan. Pertama luasnya hanya 3×5 meter. Karena sempit, maka hanya ada satu kamar. Kedua lantainya masih tanah. Tiang rumah dari bambu-bambu. Sementara atap dari asbes.

Warga dukuh Ngelo RT 3 RW 3 Desa Karangrowo, Undaan itu menyebut rumah itu dibangun secara mandiri. Meski terbatas, menurutnya dia nyaman-nyaman saja. Sebab hanya itu yang dimiliki.

“Untuk kebutuhan sehari-hari suami jadi kuli bangunan. Kalau saya menjahit tas. Seminggu saya dapat empat lusin. Satu lusin diupah 40 ribu. Dia mengaku memiliki tiga anak. Satu masih balita, satu TK, dan paling tua kelas lima SD,” katanya.

Dengan bantuan itu, Anita berterima kasih. “Kulo njih seneng sampun dibantu. Sudah 5 tahun ing mriki. Kalau hujan, depan banjir. Bocor bagian luar. Kalau malam dingin. Sekali lagi terima kasih karena sudah dipikirkan,” tambahnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Keluarga Syaref dan Anita akhirnya mendapat bantuan perbaikan rumah setelah lima tahun tinggal di rumah tidak layak huni (RTLH). Dalam kesempatan itu Bupati Hartopo juga meminta kades untuk aktif mendapat warga yang memiliki RTLH biar segera ditindaklanjuti.

Secara simbolik, kemarin (13/1), Hartopo memberikan bantuan sebanyak Rp 32 juta. Bantuan itu berasal dari berbagai pihak, seperti Baznas Kabupaten Kudus, pihak Pemdes Desa, hingga PMI.

“Terkait bantuan ini pertanda sinergitas dari semua pihak. Ada masalah di masyarakat, mari keroyok bareng. Semoga bantuan ini bermanfaat,” jelasnya.

Hartopo mengatakan, agar kepala desa bisa lebih detail mendata kondisi warganya, sehingga bila ada rumah warga yang kondisinya memprihatinkan segera mendapat bantuan.

“Bila ada yang masih tak respon, masyarakat bisa melaporkan. Nanti akan kami tindaklanjuti. Tentunya dengan menggandeng semua elemen,” tambahnya.

Pihaknya mengakui bila proses pengajuan bantuan secara administratif melalui dinas cukup berbelit-belit. Tak heran bila ada rumah yang mendesak diperbaiki akan diupayakan melalui cara lain.

Baca Juga :  Cetak Lulusan PGSD UMK yang Berkualitas

Anita dan keluarganya terpaksa tinggal di rumah tak layak huni selama lima tahun semenjak dia dan keluarga memisahkan diri dari orangtua.

Rumah yang mereka tinggali tampak memperihatinkan. Pertama luasnya hanya 3×5 meter. Karena sempit, maka hanya ada satu kamar. Kedua lantainya masih tanah. Tiang rumah dari bambu-bambu. Sementara atap dari asbes.

Warga dukuh Ngelo RT 3 RW 3 Desa Karangrowo, Undaan itu menyebut rumah itu dibangun secara mandiri. Meski terbatas, menurutnya dia nyaman-nyaman saja. Sebab hanya itu yang dimiliki.

“Untuk kebutuhan sehari-hari suami jadi kuli bangunan. Kalau saya menjahit tas. Seminggu saya dapat empat lusin. Satu lusin diupah 40 ribu. Dia mengaku memiliki tiga anak. Satu masih balita, satu TK, dan paling tua kelas lima SD,” katanya.

Dengan bantuan itu, Anita berterima kasih. “Kulo njih seneng sampun dibantu. Sudah 5 tahun ing mriki. Kalau hujan, depan banjir. Bocor bagian luar. Kalau malam dingin. Sekali lagi terima kasih karena sudah dipikirkan,” tambahnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru