alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Penggunaan Heart Rate untuk Ketahui Kekuatan Jantung saat Bersepeda

INSIDEN jatuh dari sepeda pernah dialami oleh Ketua WCC Kudus Diana Dewi. Perempuan yang akrab disapa Dede itu jatuh lantaran kondisi drop bar sepedanya patah.

Hal itu lantaran kurang adanya pengecekan secara detail. Sebab sebelumnya sepedanya pernah jatuh. Insiden itu membuat drop bar sepeda retak.

”Pengecekan harus detail. Jangan ada yang terlewat. Kalau bisa dibuka satu per satu,” ungkapnya.


Beruntung, jatuhnya tidak terlalu parah. Karena Dede telah memakai pelatab safety riding. Salah satunya helm bersepeda.

Tidak hanya helm, penggunaan sarung tangan dirasa perlu. Itu untuk menghindari pergelangan tangan agar tidak licin.

Penggunaan alat pengukur heart rate sangat diperlukan. Menurutnya alat tersebut salah satu unsur terpenting. Sebab mampu mengukur kekuatan jantung saat bersepeda.

”Ada ambang batasnya kekuatan jantung, cara menghitungnya 220 dikurangi usia. Apabila melewati batas diharapkan bisa untuk rehat sejenak,” katanya.

Baca Juga :  Puli Khotokan, Kuliner Khas Janggalan Kudus yang Disajikan saat Hajatan

Disarankan goweser tidak memaksakan ketika kekuatan jantung melebihi ambang batas. Sebab akan berakibat fatal, seperti pingsan bahkan meninggal.

Saat bersepeda penyiapan air di atas sepeda sangat diperlukan untuk mengurangi rasa dahaga. Selain itu, camilan juga diperlukan, untuk suplai pengganti kalori yang telah terbuang.

Perlunya pelindung mata, seperti kaca mata sering dipakai Diana saat gowes. Pemakaian jersey yang sifatnya aerodinamis dan mampu menyerap keringat sangat dibutuhkan. Didukung pula pemakaian sepatu cleat membuat gowes lebih optimal sekaligus energi yang tersalurkan akan efektif.

Dirinya berharap para goweser bisa memahami dan menyiapkan diri secara matang sebelum bersepada. Hal ini untuk mencapai sebuah keamanan, kebugaran, dan kenyamanan pada tubuh. (zen)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

INSIDEN jatuh dari sepeda pernah dialami oleh Ketua WCC Kudus Diana Dewi. Perempuan yang akrab disapa Dede itu jatuh lantaran kondisi drop bar sepedanya patah.

Hal itu lantaran kurang adanya pengecekan secara detail. Sebab sebelumnya sepedanya pernah jatuh. Insiden itu membuat drop bar sepeda retak.

”Pengecekan harus detail. Jangan ada yang terlewat. Kalau bisa dibuka satu per satu,” ungkapnya.

Beruntung, jatuhnya tidak terlalu parah. Karena Dede telah memakai pelatab safety riding. Salah satunya helm bersepeda.

Tidak hanya helm, penggunaan sarung tangan dirasa perlu. Itu untuk menghindari pergelangan tangan agar tidak licin.

Penggunaan alat pengukur heart rate sangat diperlukan. Menurutnya alat tersebut salah satu unsur terpenting. Sebab mampu mengukur kekuatan jantung saat bersepeda.

”Ada ambang batasnya kekuatan jantung, cara menghitungnya 220 dikurangi usia. Apabila melewati batas diharapkan bisa untuk rehat sejenak,” katanya.

Baca Juga :  Peringati Women's Day, Mahasiswa di Kudus Desak Pemerintah Sahkan RUU TPKS

Disarankan goweser tidak memaksakan ketika kekuatan jantung melebihi ambang batas. Sebab akan berakibat fatal, seperti pingsan bahkan meninggal.

Saat bersepeda penyiapan air di atas sepeda sangat diperlukan untuk mengurangi rasa dahaga. Selain itu, camilan juga diperlukan, untuk suplai pengganti kalori yang telah terbuang.

Perlunya pelindung mata, seperti kaca mata sering dipakai Diana saat gowes. Pemakaian jersey yang sifatnya aerodinamis dan mampu menyerap keringat sangat dibutuhkan. Didukung pula pemakaian sepatu cleat membuat gowes lebih optimal sekaligus energi yang tersalurkan akan efektif.

Dirinya berharap para goweser bisa memahami dan menyiapkan diri secara matang sebelum bersepada. Hal ini untuk mencapai sebuah keamanan, kebugaran, dan kenyamanan pada tubuh. (zen)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/