alexametrics
25.7 C
Kudus
Sunday, October 2, 2022

Tim PTUPT UMK Kudus Ajak Pengrajin Anyaman Bambu Terapkan Social Based Collaborative E-learning

KUDUS – Implementasi sosial pembelajaran kolaboratif antara sekolah dengan masyarakat menjadi bagian dari kurikulum merdeka. Kesempatan untuk melihat tantangan realitas menjadi sarana belajar bagi siswa agar siap berkontribusi pada penemuan-penemuan baru.

Tim yang terlibat dalam penelitian adalah Imaniar Purbasari, M. Pd. (Ketua). Juga di dukung oleh Jayanti Putri Purwaningrum, M. Pd., dan  Muhammad Sholikhan, M. Kom. Penelitian ini didanai oleh hibah desentralisasi Kemdikbudristek tahun anggaran 2022.

Hibah tim PTUPT Universitas Muria Kudus mengangkat tema ’Partisipasi Masyarakat Pengrajin Anyaman Bambu dalam Penerapan Social Based Collaborative E-learning untuk Pendidikan Anak di Desa Jepang Kudus’.


Menurut ketua Tim PTUPT Imaniar Purbasari, M. Pd., kelas belajar kini tidak dibatasi oleh sekat pemisah. Dunia pendidikan, keluarga, masyarakat, industri, teknologi seluruhnya menjadi ruang belajar. Pemanfaatan sosial modelling dapat dilakukan di berbagai daerah.

”Kudus, memiliki salah satu desa penghasil kerajinan anyaman bambu yang sebagian masyarakat nya memiliki kemungkinan untuk mewariskan budaya anyaman secara genealogis,” jelas Imaniar.

Kolaborasi antara masyarakat pengrajin anyaman bambu dengan sekolah merupakan upaya pelestarian budaya anyaman bambu. Praktik pembelajaran oleh siswa sekolah dasar melalui masyarakat pengrajin anyaman bambu Kudus dilakukan melalui rancangan kurikulum pembelajaran yang mengkolaborasikan pengajaran langsung dan tidak langsung.

Baca Juga :  Tingkatkan Literasi, Disdikpora Kudus Ajak Pelajar Aktif Membaca
TIM PTUPT UMK FOR RADAR KUDUS

Tim PTUPT menciptakan web http://edukasianyamanbambukudus.com/ untuk pembelajaran tidak langsung. Sedangkan pembelajaran langsung dilakukan melalui pembelajaran di kelas dan praktik di pengrajin.

Di dalamnya tersedia fitur sumber belajar dan media pembelajaran. Ada juga ruang kreasi dan diskusi. Selain siswa, masyarakat dan sekolah di lingkungan desa Jepang juga bisa mengaksesnya. Praktik pembelajaran dilakukan di luar jam belajar.

”Proses menemukan rumus pola, membuat siswa semangat menyelesaikan karya anyaman bambu berupa kipas, tambir dan tampah. Pengrajin sebagai social modelling berperan sangat pro-aktif terhadap kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Dan kegiatan tersebut didukung oleh pihak sekolah. Karena menunjang kompetensi siswa untuk lebih inovatif,” terangnya.

Kegiatan ini dilakukan pada siswa kelas empat sekolah dasar dan berkolaborasi dengan beberapa pengrajin anyaman bambu seperti pengrajin besek, tambir, jemuran krupuk, dan ekrak.

”Praktik belajar di luar kelas menjadi bentuk adaptasi pembelajaran pasca pandemic covid dimana porsi belajar anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Pendekatan pembelajaran kolaboratif menjadi alternatif solusi implementasi merdeka belajar yang menyiapkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif dengan mengedepankan konsep glokalisasi,” pungkasnya.  (lia)

KUDUS – Implementasi sosial pembelajaran kolaboratif antara sekolah dengan masyarakat menjadi bagian dari kurikulum merdeka. Kesempatan untuk melihat tantangan realitas menjadi sarana belajar bagi siswa agar siap berkontribusi pada penemuan-penemuan baru.

Tim yang terlibat dalam penelitian adalah Imaniar Purbasari, M. Pd. (Ketua). Juga di dukung oleh Jayanti Putri Purwaningrum, M. Pd., dan  Muhammad Sholikhan, M. Kom. Penelitian ini didanai oleh hibah desentralisasi Kemdikbudristek tahun anggaran 2022.

Hibah tim PTUPT Universitas Muria Kudus mengangkat tema ’Partisipasi Masyarakat Pengrajin Anyaman Bambu dalam Penerapan Social Based Collaborative E-learning untuk Pendidikan Anak di Desa Jepang Kudus’.

Menurut ketua Tim PTUPT Imaniar Purbasari, M. Pd., kelas belajar kini tidak dibatasi oleh sekat pemisah. Dunia pendidikan, keluarga, masyarakat, industri, teknologi seluruhnya menjadi ruang belajar. Pemanfaatan sosial modelling dapat dilakukan di berbagai daerah.

”Kudus, memiliki salah satu desa penghasil kerajinan anyaman bambu yang sebagian masyarakat nya memiliki kemungkinan untuk mewariskan budaya anyaman secara genealogis,” jelas Imaniar.

Kolaborasi antara masyarakat pengrajin anyaman bambu dengan sekolah merupakan upaya pelestarian budaya anyaman bambu. Praktik pembelajaran oleh siswa sekolah dasar melalui masyarakat pengrajin anyaman bambu Kudus dilakukan melalui rancangan kurikulum pembelajaran yang mengkolaborasikan pengajaran langsung dan tidak langsung.

Baca Juga :  Pemkab Kudus Anggarkan Pengadaan Mesin SKM Senilai Rp 21 Miliar
TIM PTUPT UMK FOR RADAR KUDUS

Tim PTUPT menciptakan web http://edukasianyamanbambukudus.com/ untuk pembelajaran tidak langsung. Sedangkan pembelajaran langsung dilakukan melalui pembelajaran di kelas dan praktik di pengrajin.

Di dalamnya tersedia fitur sumber belajar dan media pembelajaran. Ada juga ruang kreasi dan diskusi. Selain siswa, masyarakat dan sekolah di lingkungan desa Jepang juga bisa mengaksesnya. Praktik pembelajaran dilakukan di luar jam belajar.

”Proses menemukan rumus pola, membuat siswa semangat menyelesaikan karya anyaman bambu berupa kipas, tambir dan tampah. Pengrajin sebagai social modelling berperan sangat pro-aktif terhadap kompetensi yang dimiliki oleh siswa. Dan kegiatan tersebut didukung oleh pihak sekolah. Karena menunjang kompetensi siswa untuk lebih inovatif,” terangnya.

Kegiatan ini dilakukan pada siswa kelas empat sekolah dasar dan berkolaborasi dengan beberapa pengrajin anyaman bambu seperti pengrajin besek, tambir, jemuran krupuk, dan ekrak.

”Praktik belajar di luar kelas menjadi bentuk adaptasi pembelajaran pasca pandemic covid dimana porsi belajar anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Pendekatan pembelajaran kolaboratif menjadi alternatif solusi implementasi merdeka belajar yang menyiapkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif dengan mengedepankan konsep glokalisasi,” pungkasnya.  (lia)


Most Read

Artikel Terbaru