alexametrics
31.6 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Tambah Biaya Karantina, Tarif Umrah di Kudus Naik Rp 15 Juta

KUDUS – Tarif umrah di Kabupaten Kudus naik menjadi Rp 35 juta. Kenaikannya sekitar Rp 10-15 juta Bahkan ada yang lebih. Tergantung biro perjalannya. Kenaikan itu dipengaruhi karena ada tambahan untuk biaya karantina sesuai dengan standar protokol kesehatan (prokes) yang sudah diterapkan pemerintah Arab Saudi.

Owner Biro Umrah Goldy Mulia Wisata Kudus Zyuhal Laila Nova mengatakan, sejak kembali diperbolehkan jamaah ke tanah suci pada Januari lalu, pihaknya belum memberanikan diri untuk memberangkatkan calon jamaah untuk umrah. ”Tetapi pada 15 Januari lalu, kami memberangkatkan 25 jamaah. Tapi itu perwakilan dari pengurus saja, untuk memastikan bagaimana keadaan di sana,” katanya.

Jamaah yang berangkat itu, menempuh perjalanan selama 20 hari dan sudah kembali ke tanah air pada awal Februari lalu. Masing-masing dikenai biaya Rp 35 juta. ”Itu semua sudah termasuk biaya karantina dan PCR. All in pokoknya,” ujar putra pemilik KBIH Annur Kudus ini.


Pria yang kerap disapa Lila itu mengatakan, sebelum pandemi, biaya umrah hanya Rp 21 juta. Kenaikan biaya itu tergantung kebijakan dari tiap-tiap biro umrah. Selain karena faktor karantina, kenaikan biaya itu juga dipengaruhi tingginya biaya VISA umrah yang memang semakin mahal. ”VISA umrah dulunya gratis. Tetapi sejak Raja Salman memimpin Negara Arab Saudi, VISA umrah berubah jadi berbayar,” ucapnya.

Dia lenjutkan, awal VISA berbaya dulu hanya USD 30 per orang. Sebelum pandemi atau sekitar 2018 naik menjadi USD 186. ”Update terakhir saat pandemi ini, naik lagi menjadi USD 212,” tambahnya.

Lebih mengatakan, untuk melaksanakan umrah saat ini minimal 12 hari. Sebelumnya hanya sembilan hari. Hal itu karena ada tambahan masa karantina. Pada proses pemberangkatan, setelah berangkat dari Semarang ke Jakarta, jamaah melaksanakan karantina selama satu hari di Asrama Haji Jakarta. ”Tetapi sekarang boleh di hotel dengan biaya Rp 1,2 juta sudah termasuk (tes) PCR,” katanya.

Baca Juga :  IAIN Kudus Dukung Pergelaran Busana Kudus Empat Negeri

Setelah sampai di Madinah, Arab Saudi, jamaah juga harus melaksanakan karantina selama lima hari. Biayanya sekitar Rp 2 juta. ”Sebelumnya malah tujuh hari. Sekarang berubah jadi lima hari saja. Malah ada wacana nantinya tiga hari saja,” jelasnya.

Pihaknya biasanya memakai Hotel Le Meridien saat di Madinah. Per kamar bisa diisi empat orang. Untuk fasilitasnya biasanya pihak hotel sudah full board serta disediakan makan tiga kali sehari.

Sepulang dari Madinah, jamaah juga harus melaksanakan karantina lagi di hotel yang sudah ditentukan selama dua pekan. Biaya tentu semakin bertambah tidak seperti ketika akan berangkat. Biayanya mencapai Rp 4,5 juta. Itu sudah dengan fasilitas sehari tiga kali makan dan tes dua kali tes PCR.

Menurutnya, perjalanan umrah sekarang berbeda. Tidak bisa leluasa seperti dulu. Misalnya, pemilihan hotel dan aturan pemberangkatan menggunakan bus di Arab Saudi. Sekarang tergantung arahan dari muassasah (organisasi pemandu jamaah di Arab Saudi).

Aturannya juga semakin ketat. Setiap jamaah sekarang harus menggunakan aplikasi Pedulilindungi serta e-HAC (aplikasi seperti Pedulilindungi untuk pelaku perjalanan internasional selama pandemi). ”Ada juga aplikasi Tawakkalna, itu harus digunakan untuk mendaftar ke masjid. Padahal tahu sendiri, rata-rata jamaah itu lansia. Jadi agak susah untuk paham aplikasi,” ujarnya.

Saat ini dia mengaku masih menahan 147 calon jamaah umrah, karena dirasa masih kurang nyaman keadaannya.  Rencananya jika keadaan sudah membaik, dia akan memberangkatkan peserta umrah setelah Idul Adha. ”Tetapi tergantung situasi nanti. Mungkin bisa saja saya hanya memberangkatkan yang usia muda-muda dulu,” imbuhnya. (ark/lin)

KUDUS – Tarif umrah di Kabupaten Kudus naik menjadi Rp 35 juta. Kenaikannya sekitar Rp 10-15 juta Bahkan ada yang lebih. Tergantung biro perjalannya. Kenaikan itu dipengaruhi karena ada tambahan untuk biaya karantina sesuai dengan standar protokol kesehatan (prokes) yang sudah diterapkan pemerintah Arab Saudi.

Owner Biro Umrah Goldy Mulia Wisata Kudus Zyuhal Laila Nova mengatakan, sejak kembali diperbolehkan jamaah ke tanah suci pada Januari lalu, pihaknya belum memberanikan diri untuk memberangkatkan calon jamaah untuk umrah. ”Tetapi pada 15 Januari lalu, kami memberangkatkan 25 jamaah. Tapi itu perwakilan dari pengurus saja, untuk memastikan bagaimana keadaan di sana,” katanya.

Jamaah yang berangkat itu, menempuh perjalanan selama 20 hari dan sudah kembali ke tanah air pada awal Februari lalu. Masing-masing dikenai biaya Rp 35 juta. ”Itu semua sudah termasuk biaya karantina dan PCR. All in pokoknya,” ujar putra pemilik KBIH Annur Kudus ini.

Pria yang kerap disapa Lila itu mengatakan, sebelum pandemi, biaya umrah hanya Rp 21 juta. Kenaikan biaya itu tergantung kebijakan dari tiap-tiap biro umrah. Selain karena faktor karantina, kenaikan biaya itu juga dipengaruhi tingginya biaya VISA umrah yang memang semakin mahal. ”VISA umrah dulunya gratis. Tetapi sejak Raja Salman memimpin Negara Arab Saudi, VISA umrah berubah jadi berbayar,” ucapnya.

Dia lenjutkan, awal VISA berbaya dulu hanya USD 30 per orang. Sebelum pandemi atau sekitar 2018 naik menjadi USD 186. ”Update terakhir saat pandemi ini, naik lagi menjadi USD 212,” tambahnya.

Lebih mengatakan, untuk melaksanakan umrah saat ini minimal 12 hari. Sebelumnya hanya sembilan hari. Hal itu karena ada tambahan masa karantina. Pada proses pemberangkatan, setelah berangkat dari Semarang ke Jakarta, jamaah melaksanakan karantina selama satu hari di Asrama Haji Jakarta. ”Tetapi sekarang boleh di hotel dengan biaya Rp 1,2 juta sudah termasuk (tes) PCR,” katanya.

Baca Juga :  Ternyata Penemuan Mayat di Hotel Mahkota Kudus Sudah Tiga Kali Terjadi

Setelah sampai di Madinah, Arab Saudi, jamaah juga harus melaksanakan karantina selama lima hari. Biayanya sekitar Rp 2 juta. ”Sebelumnya malah tujuh hari. Sekarang berubah jadi lima hari saja. Malah ada wacana nantinya tiga hari saja,” jelasnya.

Pihaknya biasanya memakai Hotel Le Meridien saat di Madinah. Per kamar bisa diisi empat orang. Untuk fasilitasnya biasanya pihak hotel sudah full board serta disediakan makan tiga kali sehari.

Sepulang dari Madinah, jamaah juga harus melaksanakan karantina lagi di hotel yang sudah ditentukan selama dua pekan. Biaya tentu semakin bertambah tidak seperti ketika akan berangkat. Biayanya mencapai Rp 4,5 juta. Itu sudah dengan fasilitas sehari tiga kali makan dan tes dua kali tes PCR.

Menurutnya, perjalanan umrah sekarang berbeda. Tidak bisa leluasa seperti dulu. Misalnya, pemilihan hotel dan aturan pemberangkatan menggunakan bus di Arab Saudi. Sekarang tergantung arahan dari muassasah (organisasi pemandu jamaah di Arab Saudi).

Aturannya juga semakin ketat. Setiap jamaah sekarang harus menggunakan aplikasi Pedulilindungi serta e-HAC (aplikasi seperti Pedulilindungi untuk pelaku perjalanan internasional selama pandemi). ”Ada juga aplikasi Tawakkalna, itu harus digunakan untuk mendaftar ke masjid. Padahal tahu sendiri, rata-rata jamaah itu lansia. Jadi agak susah untuk paham aplikasi,” ujarnya.

Saat ini dia mengaku masih menahan 147 calon jamaah umrah, karena dirasa masih kurang nyaman keadaannya.  Rencananya jika keadaan sudah membaik, dia akan memberangkatkan peserta umrah setelah Idul Adha. ”Tetapi tergantung situasi nanti. Mungkin bisa saja saya hanya memberangkatkan yang usia muda-muda dulu,” imbuhnya. (ark/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/