alexametrics
30.5 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Tak Hanya Jual Produk, Pembatik Juga Uri-Uri Batik Kudus

KUDUS – Perajin Batik Kudus tidak hanya berkutat dalam pemasaran dan penjualan produk. Mereka sudah mulai memikirkan untuk mempertahankan keberadaan batik, supaya tidak punah.

Seperti perajin batik Kudus asal Desa Gondangmanis, Bae, Dasa Gentawati, yang memiliki kegiatan workshop dan inovasi baru ecoprinting.

Pemilik Genta Mas Batik ini memiliki motif yang mencerminkan kearifan lokal Kudus. Seperti parijoto, gebyok, gunungan menara, beras kecer, bambu, geometri, bunga lunglung, dan lainnya. Ia mengaplikasikan dalam bentuk sarung dan peci. Jadi tidak hanya berupa kain batik.


 

Untuk pemasaran produknya sudah sampai luar kota salah satunya Bandung. Genta panggilan akrabnya, menjelaskan tidak hanya produksi tapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat umum.

“Kami ada galeri untuk kegaiatan workshop berupa pelatihan batik, atau seputar motif yang menceriminkan filosofi atau kearifan lokal Kudus,” terangnya.

Ia menerangkan ada kelas yang nantinya peserta workshop praktik langsung membuat batik Kudus. Seperti batik cap, tulis, bahkan ecoprinting.

Peminatnya cukup banyak, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA. Selain itu, Genta Mas juga memberi pelatihan-pelatihan para ibu-ibu yang ada di desa. Ia saat ini memegang pelatihan dari Desa Undaan, Kecamatan Undaan; Desa Piji, Kecamatan Dawe; Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, bahkan ada permintaan dari Kabupaten Demak.

Baca Juga :  Rendah, Penyerapan DAK Fisik Kudus Baru Mencapai 25 Persen

“Sudah banyak ibu-ibu yang sudah bisa membuat produk batik Kudus dan dipasarkan sendiri, hal ini bisa membantu ekonomi keluarga. Batik untuk saat ini sangat berpotensi untuk peluang usaha, yang penting selalu kreatif dan inovatif,” jelasnya.

LAYANI KONSUMEN: Pemilik Batik Genta Mas Kudus Gentawati melayani pembeli. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Genta menyampaikan adanya workshop itu untuk memberi informasi tentang batik Kudus kepada generasi selanjutnya, jangan sampai kehilangan jejak batik Kudus.

“Kalau tidak diworo-woro dari sekarang nanti bisa hilang. Memberdayakan potensi yang ada terutama di desa-desa,” paparnya.

Ia menambahkan, nguri-uri batik Kudus sekaligus mempromosikan kearifan lokal tentunya tidak lepas dari pakem batik. Semangat untuk mengenalkan batik Kudus kepada generasi masa kini masih menjadi PR buat para perajin batik Kudus.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah menjelaskan, perajin batik Kudus bisa saling berkolaborasi untuk mengangkat desa wisata di Kota Kretek. Hal itu bisa menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang ke Kudus. ”Ini perlu dikembangka untuk peningkatan ekonomi kreatif,” jelasnya. (san/lid/adv)

 






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Perajin Batik Kudus tidak hanya berkutat dalam pemasaran dan penjualan produk. Mereka sudah mulai memikirkan untuk mempertahankan keberadaan batik, supaya tidak punah.

Seperti perajin batik Kudus asal Desa Gondangmanis, Bae, Dasa Gentawati, yang memiliki kegiatan workshop dan inovasi baru ecoprinting.

Pemilik Genta Mas Batik ini memiliki motif yang mencerminkan kearifan lokal Kudus. Seperti parijoto, gebyok, gunungan menara, beras kecer, bambu, geometri, bunga lunglung, dan lainnya. Ia mengaplikasikan dalam bentuk sarung dan peci. Jadi tidak hanya berupa kain batik.

 

Untuk pemasaran produknya sudah sampai luar kota salah satunya Bandung. Genta panggilan akrabnya, menjelaskan tidak hanya produksi tapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat umum.

“Kami ada galeri untuk kegaiatan workshop berupa pelatihan batik, atau seputar motif yang menceriminkan filosofi atau kearifan lokal Kudus,” terangnya.

Ia menerangkan ada kelas yang nantinya peserta workshop praktik langsung membuat batik Kudus. Seperti batik cap, tulis, bahkan ecoprinting.

Peminatnya cukup banyak, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA. Selain itu, Genta Mas juga memberi pelatihan-pelatihan para ibu-ibu yang ada di desa. Ia saat ini memegang pelatihan dari Desa Undaan, Kecamatan Undaan; Desa Piji, Kecamatan Dawe; Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, bahkan ada permintaan dari Kabupaten Demak.

Baca Juga :  Minim Festival Lokal, Disbudpar Kudus Ikutkan Pentas Budaya di Luar Daerah

“Sudah banyak ibu-ibu yang sudah bisa membuat produk batik Kudus dan dipasarkan sendiri, hal ini bisa membantu ekonomi keluarga. Batik untuk saat ini sangat berpotensi untuk peluang usaha, yang penting selalu kreatif dan inovatif,” jelasnya.

LAYANI KONSUMEN: Pemilik Batik Genta Mas Kudus Gentawati melayani pembeli. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Genta menyampaikan adanya workshop itu untuk memberi informasi tentang batik Kudus kepada generasi selanjutnya, jangan sampai kehilangan jejak batik Kudus.

“Kalau tidak diworo-woro dari sekarang nanti bisa hilang. Memberdayakan potensi yang ada terutama di desa-desa,” paparnya.

Ia menambahkan, nguri-uri batik Kudus sekaligus mempromosikan kearifan lokal tentunya tidak lepas dari pakem batik. Semangat untuk mengenalkan batik Kudus kepada generasi masa kini masih menjadi PR buat para perajin batik Kudus.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah menjelaskan, perajin batik Kudus bisa saling berkolaborasi untuk mengangkat desa wisata di Kota Kretek. Hal itu bisa menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang ke Kudus. ”Ini perlu dikembangka untuk peningkatan ekonomi kreatif,” jelasnya. (san/lid/adv)

 






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/