alexametrics
25.3 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Pembongkaran Segel Tower BTS di Kudus Diwarnai Isak Tangis Warga

KUDUS – Pembongkaran segel tower milik PT Daya Mitra Telkomsel (DMT) di Jalan Pemuda RT  3 RW 4 Desa Mijen, Kaliwungu yang semula digembok diwarnai isak tangis. Warga kecewa dengan putusan tersebut. Terlebih sebelumnya warga telah audiensi agar terkait kejelasan izin tower diselesaikan terlebih dahulu sebelum dibuka.

Pelepasan segel itu sesuai dengan arahan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) melalui surat yang dilayangkan pada (7/10). Dalam surat itu warga harus membuka kembali segel pada Jumat (8/10). Dengan landasan PT DMT telah melunasi PBB dan retribusi pengendalian menara. Dan wewenang penyegelan berada di Satpol PP, bukan warga.

Sekitar pukul 09.15 puluhan petugas kepolisian, Satpol PP berada di lokasi. Begitu pula dari DPMPTSP. Sementara dari pihak warga diwakili puluhan anggota Grib dan beberapa warga sekitar.


Upaya pembongkaran segel sempat alot, sebab dari warga dan Grib kekeh bila tower hanya boleh dibuka jika semua bukti legalitas tower ada. Sementara dari dinas dan kepolisian ingin pembukaan segel harus berhasil. Kedua pihak pun sempat adu mulut.

Sampai akhirnya 10.45 warga dan Grib pasrah dengan pembukaan segel. Dengan tuntutan adanya win-win solution. Ada audiensi yang mempertemukan semua pihak. Akhirnya segel pun dibuka.

Pembukaan segel diwarnai isak tangis warga. Terutama warga yang berada di bawah tower. Warga menyesalkan pendapat mereka tak didengar pemerintah. Terlebih selama tower berdiri mereka tak pernah dimintai persetujuan.

Hendro Susilo warga yang rumahnya tepat di bawah tower menyebut pihaknya juga tak pernah mendapatkan kompensasi ataupun CSR sejak tower berdiri pada 2003 lalu. Padahal tak jarang ada baut atau kabel dan benda-benda lain dari tower yang kerap jatuh dan memecahkan gentingnya.

Baca Juga :  Warga Rahtawu Kudus Bikin Pentas Amal “Suk Suk Peng” Peduli Semeru

“Saat hujan itu goyang-goyang. Ada suara gemuruh. Kami selalu was-was,” jelasnya.

Dia pun merasa ditipu. Sebab awal pembelian tanah itu tak pernah ada kesepakatan soal pendirian tower. Sehingga dia ingin mengetahui kejelasan terkait izin pendirian tower itu. Dan bila sudah selesai berharap tak ada izin perpanjangan.

Kepala Dinas PMPTSP Revlisianto Subekti menjelaskan jika pengusaha tower kurang perhatian kepada masyarakat terdampak. Sehingga dia berharap ada evaluasi dari PT DMT.

Sementara terkait adanya surat pemberitahuan kepada warga untuk membuka segel itu karena memang warga secara hukum tak memiliki wewenang. Sebagaimana peraturan perundang-undangan, itu wewenang Satpol PP. Dan pihak tower juga telah memenuhi kewajiban terkait retribusi hingga PBB dan SPPT.

“Untuk itu kami minta kepada warga kooperatif agar ini dibuka. Dan kami fasilitasi untuk audiensi dengan pihak tower terkait keluhan yang diinginkan warga,” tambahnya.

Usai pelepasan segel tersebut, warga, pihak tower, dan dinas DPMPTSP audiensi di kantor Kepala Desa. Mencari solusi.

Kepala Desa Mijen Singgih Wahyu menyebut dari hasil audiensi itu muncul komitmen baru dari PT DMT pada warga.

“Namun warga masih berharap agar tower backbone tersebut bisa pindah dari lokasi padat penduduk ke lokasi lain. Dan mungkin akan diajukan lewat PTUN, perjuangan warga masih belum berhenti,” jelasnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Pembongkaran segel tower milik PT Daya Mitra Telkomsel (DMT) di Jalan Pemuda RT  3 RW 4 Desa Mijen, Kaliwungu yang semula digembok diwarnai isak tangis. Warga kecewa dengan putusan tersebut. Terlebih sebelumnya warga telah audiensi agar terkait kejelasan izin tower diselesaikan terlebih dahulu sebelum dibuka.

Pelepasan segel itu sesuai dengan arahan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) melalui surat yang dilayangkan pada (7/10). Dalam surat itu warga harus membuka kembali segel pada Jumat (8/10). Dengan landasan PT DMT telah melunasi PBB dan retribusi pengendalian menara. Dan wewenang penyegelan berada di Satpol PP, bukan warga.

Sekitar pukul 09.15 puluhan petugas kepolisian, Satpol PP berada di lokasi. Begitu pula dari DPMPTSP. Sementara dari pihak warga diwakili puluhan anggota Grib dan beberapa warga sekitar.

Upaya pembongkaran segel sempat alot, sebab dari warga dan Grib kekeh bila tower hanya boleh dibuka jika semua bukti legalitas tower ada. Sementara dari dinas dan kepolisian ingin pembukaan segel harus berhasil. Kedua pihak pun sempat adu mulut.

Sampai akhirnya 10.45 warga dan Grib pasrah dengan pembukaan segel. Dengan tuntutan adanya win-win solution. Ada audiensi yang mempertemukan semua pihak. Akhirnya segel pun dibuka.

Pembukaan segel diwarnai isak tangis warga. Terutama warga yang berada di bawah tower. Warga menyesalkan pendapat mereka tak didengar pemerintah. Terlebih selama tower berdiri mereka tak pernah dimintai persetujuan.

Hendro Susilo warga yang rumahnya tepat di bawah tower menyebut pihaknya juga tak pernah mendapatkan kompensasi ataupun CSR sejak tower berdiri pada 2003 lalu. Padahal tak jarang ada baut atau kabel dan benda-benda lain dari tower yang kerap jatuh dan memecahkan gentingnya.

Baca Juga :  Pembelian Tak Dibatasi, Pedagang di Kudus Tak Kebagian Minyak Goreng

“Saat hujan itu goyang-goyang. Ada suara gemuruh. Kami selalu was-was,” jelasnya.

Dia pun merasa ditipu. Sebab awal pembelian tanah itu tak pernah ada kesepakatan soal pendirian tower. Sehingga dia ingin mengetahui kejelasan terkait izin pendirian tower itu. Dan bila sudah selesai berharap tak ada izin perpanjangan.

Kepala Dinas PMPTSP Revlisianto Subekti menjelaskan jika pengusaha tower kurang perhatian kepada masyarakat terdampak. Sehingga dia berharap ada evaluasi dari PT DMT.

Sementara terkait adanya surat pemberitahuan kepada warga untuk membuka segel itu karena memang warga secara hukum tak memiliki wewenang. Sebagaimana peraturan perundang-undangan, itu wewenang Satpol PP. Dan pihak tower juga telah memenuhi kewajiban terkait retribusi hingga PBB dan SPPT.

“Untuk itu kami minta kepada warga kooperatif agar ini dibuka. Dan kami fasilitasi untuk audiensi dengan pihak tower terkait keluhan yang diinginkan warga,” tambahnya.

Usai pelepasan segel tersebut, warga, pihak tower, dan dinas DPMPTSP audiensi di kantor Kepala Desa. Mencari solusi.

Kepala Desa Mijen Singgih Wahyu menyebut dari hasil audiensi itu muncul komitmen baru dari PT DMT pada warga.

“Namun warga masih berharap agar tower backbone tersebut bisa pindah dari lokasi padat penduduk ke lokasi lain. Dan mungkin akan diajukan lewat PTUN, perjuangan warga masih belum berhenti,” jelasnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/