alexametrics
26.3 C
Kudus
Saturday, May 14, 2022

Peringati Women’s Day, Mahasiswa di Kudus Desak Pemerintah Sahkan RUU TPKS

KUDUS – Puluhan mahasiswa gabungan dari beberapa universitas di Kudus menggelar aksi unjuk rasa memperingati Women’s Day di depan Pendopo Kabupaten Kudus kemarin siang. Dalam aksi itu mereka mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan  Rancangan undang-undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Dari pantauan di lapangan puluhan mahasiswa berbaris menghadap Pendopo Kabupaten Kudus. Perwakilan aksi massa melontarkan aspiranya.

Ada empat tuntutan yang disampaikan. Tuntutan tersebut ditulis di atas banner berwarna putih dan ditandatangani.


Pertama mengharapkan seluruh elemen masyarakat menyadar tentang RUU PPRT. Selanjutnya, mendesak pengesahan RUU- TPKS karena dinilai sebagai instrumen kesetaraan gender. Tuntutan ketiga, meningkatkan kesadaran terhadap kesetaraan gender dengan memasifkan program sosialisasi Bimtek Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG). Keempat, memberikan kemerdekaan kepada perempuan untuk menentukan pilihannya tanpa ada unsur paksaan dan diskriminatif.

Koordinator aksi Septia Nuraini Lisana menyatakan aksi ini bagian dari menyuarakan hati perempuan. Pasalnya selama ini terjadi ketimpangan antara perempuan dan laki-laki.

Baca Juga :  Enam CPNS Rutan Kudus Resmi Dilantik PNS

“Ini bisa dilihat dari konteks sosial, ekonomi, dan politik. Dalam pekerjaan gaji perempuan lebih sedikit,” ungkapnya.

Dia mengatakan pengesahan RUU TPKS perlu dilakukan. Sebab itu bisa menuju pada kesetaraan gender. Selain itu, RUU itu untuk melindungi perempuan dari kekerasan seksual. Sebab para perempuan sering menjadi objek kekerasan seksual.

“Kekerasan perempuan ini sangat marak, apalagi di jalan. Di kampus sendiri sering terjadi. Korban sudah menjadi korban namun sering disalahkan,” tegasnya.

Sementara itu, Fidalika Azani menyayangkan kasus pelecehan seksual yang terjadi pada pembantu rumah tangga tuna wicara di Pati. Pembantu diperkosa majikan namun pelaku tidak mengakui perbuatan.

“Niatnya baik bekerja untuk menafkahi ibunya, tetapi malah diperkosa. Kini dia sudah hamil dan kasusnya masih ditindaklanjuti,” tambahnya.

Aksi itu juga membagikan masker kepada pengguna jalan yang melintas di depan Simpang Tujuh Kudus. Hal ini untuk memutus mata rantai virus korona. (gal/mal)

KUDUS – Puluhan mahasiswa gabungan dari beberapa universitas di Kudus menggelar aksi unjuk rasa memperingati Women’s Day di depan Pendopo Kabupaten Kudus kemarin siang. Dalam aksi itu mereka mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan  Rancangan undang-undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Dari pantauan di lapangan puluhan mahasiswa berbaris menghadap Pendopo Kabupaten Kudus. Perwakilan aksi massa melontarkan aspiranya.

Ada empat tuntutan yang disampaikan. Tuntutan tersebut ditulis di atas banner berwarna putih dan ditandatangani.

Pertama mengharapkan seluruh elemen masyarakat menyadar tentang RUU PPRT. Selanjutnya, mendesak pengesahan RUU- TPKS karena dinilai sebagai instrumen kesetaraan gender. Tuntutan ketiga, meningkatkan kesadaran terhadap kesetaraan gender dengan memasifkan program sosialisasi Bimtek Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG). Keempat, memberikan kemerdekaan kepada perempuan untuk menentukan pilihannya tanpa ada unsur paksaan dan diskriminatif.

Koordinator aksi Septia Nuraini Lisana menyatakan aksi ini bagian dari menyuarakan hati perempuan. Pasalnya selama ini terjadi ketimpangan antara perempuan dan laki-laki.

Baca Juga :  KKN IAIN Kudus Hidupkan Ngaji Sejarah di Masjid

“Ini bisa dilihat dari konteks sosial, ekonomi, dan politik. Dalam pekerjaan gaji perempuan lebih sedikit,” ungkapnya.

Dia mengatakan pengesahan RUU TPKS perlu dilakukan. Sebab itu bisa menuju pada kesetaraan gender. Selain itu, RUU itu untuk melindungi perempuan dari kekerasan seksual. Sebab para perempuan sering menjadi objek kekerasan seksual.

“Kekerasan perempuan ini sangat marak, apalagi di jalan. Di kampus sendiri sering terjadi. Korban sudah menjadi korban namun sering disalahkan,” tegasnya.

Sementara itu, Fidalika Azani menyayangkan kasus pelecehan seksual yang terjadi pada pembantu rumah tangga tuna wicara di Pati. Pembantu diperkosa majikan namun pelaku tidak mengakui perbuatan.

“Niatnya baik bekerja untuk menafkahi ibunya, tetapi malah diperkosa. Kini dia sudah hamil dan kasusnya masih ditindaklanjuti,” tambahnya.

Aksi itu juga membagikan masker kepada pengguna jalan yang melintas di depan Simpang Tujuh Kudus. Hal ini untuk memutus mata rantai virus korona. (gal/mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/