alexametrics
21.9 C
Kudus
Thursday, June 30, 2022

Pemkab Kudus Membuat Brand Baru ‘Kudus Kota Empat Negri’, Ini Tujuannya?

KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus membuat brand city baru berupa ”Kudus Kota Empat Negri” dari sebelumnya ”The Taste of Java”. Tujuannya, membuat image dengan mengakomodasi beragam jenis budaya yang telah ada. Sehingga tercipta harmonisasi. Yang pada ujungnya diharapkan mampu menarik minat wisatawan.

Upaya mem-branding itu, dilakukan kajian. Salah satunya menggelar forum group discussion (FGD) di IAIN Kudus bekerja sama dengan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) kemarin.

Bupati Kudus HM. Hartopo menyebut, salah satu pekerjaan rumah yang ingin digarapnya yakni bagaimana menciptakan image dan tampilan kota. Tanpa mendiskreditkan unsur budaya. Harapannya, terjadi harmonisasi dengan maksud dan tujuan yang sama. ”Dengan menyinkronkan visi (pemkab). Artinya, semua stakeholder bisa jalan bersama,” jelasnya.


Brand identity ”Kudus Kota Empat Negeri” adalah sebuah direction yang dapat menentukan arah pembangunan. Begitu pula visi dan tujuan. Yang sifatnya mengikat dan menginspirasi. ”Di sinilah perlunya membentuk identitas kota ini. Sebab, kita punya sejarah panjang,” katanya.

Abdul Jalil, seorang pembicara dalam FGD itu menyebut, perlu mobilisasi dan orkestrasi dalam mengemas branding city, agar dapat dipahami masyarakat. Pemilihan ”Kudus Kota Empat Negeri” adalah upaya menampung semua kebudayaan yang ada.

”Bila ”Kudus kota santri”, bagaimana yang bukan santri? Bila Kudus Kota Kretek, bagaimana yang hidup bukan dari rokok? Artinya bila menonjolkan sebagian, maka ada pihak lain yang tidak terakomodasi,” terangnya.

Berkaca dari catatan sejarah dan apa yang termanifestasikan dalam masjid dan Menara Kudus, sudah ada tiga kebudayaan yang tergambar. Yakni Hindu dalam Menara, masjid sebagai simbol Islam, dan bentuk pancuran air wudu yang menunjukkan budaya Budha. Belum lagi budaya kolonial yang tergambar dalam perumahan lama di sekitar Kali Gelis. Juga basis etnis Tionghoa yang dibawa Kiai Telingsing.

”Artinya, branding ”empat negeri” ini upaya untuk mengedepankan nilai akulturasi. Mengakomodasi keberadaan antaragama dan antaretnis: Arab, Jawa, Tionghoa, dan kolonial,” katanya.

Baca Juga :  Gudang LPG di Kaliwungu Kudus Terbakar, Begini Kronologinya

Dengan kondisi historis dan kultural seperti itu, brand identity ”Kudus Kota Empat Negri” menurutnya sesuatu yang clear. Tak lagi ada budaya yang berkompetisi. Termasuk di antara kelompok ras dan keturunan, sehingga tercipta keharmonisan. ”Tinggal bagaimana menguatkan narasi. Semakin menarik, maka bakal membuat orang penasaran. Dan pasti ingin datang,” terangnya.

Tinggal bagaimana kemudian menampilkan personifikasi dari branding itu. Baik dalam wujud bangunan, bentuk, pakaian, atau sejenisnya. Intinya perlu diterjemahkan, sehingga branding city tersebut, tak mengawang. ”Misalnya Bali. Saat berkunjung ke sana dan berkeliling, ada identitas yang membuat orang tahu bahwa itu Bali,” tambahnya.

Rektor IAIN Kudus Dr. H. Mudzakir, M.Ag. menyampaikan, ke depan Kudus memang perlu membangun identitas lokal yang bisa dikenal secara nasional dan internasional. Dengan brand identity ini, harapannya Kudus bisa menjadi kota yang memiliki gaung dan bisa bersaing dengan kota-kota lain yang telah memiliki brand di bidang pariwisata.

Senada dengan pernyataan tersebut, Plt. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah menambahkan, tujuan adanya brand identity ini, agar penataan pariwisata Kudus dapat optimal dan berdaya saing.

Umar Ali yang juga menjadi pembicara menjelaskan, branding city memang ada yang sifatnya organik dan anorganik. Dia mencontohkan, bagaimana Jogjakarta memakai dua jenis branding itu. Misalnya dalam sisi organik Jogja di-branding dengan ”Jogja Kota Gudeg”. Sementara yang anorganik ”Jogja Istimewa”.

”Dalam konteks Kudus, maka apa yang ada bisa tetap jalan, tanpa saling berbenturan dengan branding ”Kudus Kota Empat Negri”,” tegasnya.

Dia menambahkan, dalam analisinya, Kudus masuk kategori deferensiasi. Jadi, perlu memunculkan sesuatu yang berbeda. ”Akhirnya terpikirlah soal empat negri. Upaya branding tersebut juga penting dalam meningkatkan daya tarik wisata,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus membuat brand city baru berupa ”Kudus Kota Empat Negri” dari sebelumnya ”The Taste of Java”. Tujuannya, membuat image dengan mengakomodasi beragam jenis budaya yang telah ada. Sehingga tercipta harmonisasi. Yang pada ujungnya diharapkan mampu menarik minat wisatawan.

Upaya mem-branding itu, dilakukan kajian. Salah satunya menggelar forum group discussion (FGD) di IAIN Kudus bekerja sama dengan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) kemarin.

Bupati Kudus HM. Hartopo menyebut, salah satu pekerjaan rumah yang ingin digarapnya yakni bagaimana menciptakan image dan tampilan kota. Tanpa mendiskreditkan unsur budaya. Harapannya, terjadi harmonisasi dengan maksud dan tujuan yang sama. ”Dengan menyinkronkan visi (pemkab). Artinya, semua stakeholder bisa jalan bersama,” jelasnya.

Brand identity ”Kudus Kota Empat Negeri” adalah sebuah direction yang dapat menentukan arah pembangunan. Begitu pula visi dan tujuan. Yang sifatnya mengikat dan menginspirasi. ”Di sinilah perlunya membentuk identitas kota ini. Sebab, kita punya sejarah panjang,” katanya.

Abdul Jalil, seorang pembicara dalam FGD itu menyebut, perlu mobilisasi dan orkestrasi dalam mengemas branding city, agar dapat dipahami masyarakat. Pemilihan ”Kudus Kota Empat Negeri” adalah upaya menampung semua kebudayaan yang ada.

”Bila ”Kudus kota santri”, bagaimana yang bukan santri? Bila Kudus Kota Kretek, bagaimana yang hidup bukan dari rokok? Artinya bila menonjolkan sebagian, maka ada pihak lain yang tidak terakomodasi,” terangnya.

Berkaca dari catatan sejarah dan apa yang termanifestasikan dalam masjid dan Menara Kudus, sudah ada tiga kebudayaan yang tergambar. Yakni Hindu dalam Menara, masjid sebagai simbol Islam, dan bentuk pancuran air wudu yang menunjukkan budaya Budha. Belum lagi budaya kolonial yang tergambar dalam perumahan lama di sekitar Kali Gelis. Juga basis etnis Tionghoa yang dibawa Kiai Telingsing.

”Artinya, branding ”empat negeri” ini upaya untuk mengedepankan nilai akulturasi. Mengakomodasi keberadaan antaragama dan antaretnis: Arab, Jawa, Tionghoa, dan kolonial,” katanya.

Baca Juga :  Bank Jateng Kudus Ciptakan Kekebalan Komunal Lewat Vaksinasi UMKM

Dengan kondisi historis dan kultural seperti itu, brand identity ”Kudus Kota Empat Negri” menurutnya sesuatu yang clear. Tak lagi ada budaya yang berkompetisi. Termasuk di antara kelompok ras dan keturunan, sehingga tercipta keharmonisan. ”Tinggal bagaimana menguatkan narasi. Semakin menarik, maka bakal membuat orang penasaran. Dan pasti ingin datang,” terangnya.

Tinggal bagaimana kemudian menampilkan personifikasi dari branding itu. Baik dalam wujud bangunan, bentuk, pakaian, atau sejenisnya. Intinya perlu diterjemahkan, sehingga branding city tersebut, tak mengawang. ”Misalnya Bali. Saat berkunjung ke sana dan berkeliling, ada identitas yang membuat orang tahu bahwa itu Bali,” tambahnya.

Rektor IAIN Kudus Dr. H. Mudzakir, M.Ag. menyampaikan, ke depan Kudus memang perlu membangun identitas lokal yang bisa dikenal secara nasional dan internasional. Dengan brand identity ini, harapannya Kudus bisa menjadi kota yang memiliki gaung dan bisa bersaing dengan kota-kota lain yang telah memiliki brand di bidang pariwisata.

Senada dengan pernyataan tersebut, Plt. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah menambahkan, tujuan adanya brand identity ini, agar penataan pariwisata Kudus dapat optimal dan berdaya saing.

Umar Ali yang juga menjadi pembicara menjelaskan, branding city memang ada yang sifatnya organik dan anorganik. Dia mencontohkan, bagaimana Jogjakarta memakai dua jenis branding itu. Misalnya dalam sisi organik Jogja di-branding dengan ”Jogja Kota Gudeg”. Sementara yang anorganik ”Jogja Istimewa”.

”Dalam konteks Kudus, maka apa yang ada bisa tetap jalan, tanpa saling berbenturan dengan branding ”Kudus Kota Empat Negri”,” tegasnya.

Dia menambahkan, dalam analisinya, Kudus masuk kategori deferensiasi. Jadi, perlu memunculkan sesuatu yang berbeda. ”Akhirnya terpikirlah soal empat negri. Upaya branding tersebut juga penting dalam meningkatkan daya tarik wisata,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/