alexametrics
26.2 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Terapkan Kurikulum Prototipe, Disdikpora Kudus: Guru Belum Paham

KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) terus mengenalkan Kurikulum Prototipe. Namun, sekolah belum mengetahui secara detail penerapannya. Bahkan guru-guru banyak yang belum paham dengan kurikulum baru ini.

Kepala SD 1 Jati Kulon Sri Wahyuningsih mengatakan, Kurikulum Prototipe masih pengenalan. Menurutnya, Disdikpora masih memberikan gambaran umumnya, belum sampai ke teknis.

“Ya, beberapa waktu lalu ada sosialisasi Kurikulum Prototipe. Itu pun masih informasi awal. Tetapi kami berusaha mencari tahu seperti apa Kurikulum Prototipe,” jelasnya.


Dia mengatakan, guru-guru juga belum ada yang paham tentang Kurikulum Prototipe. Pihaknya hanya mengikuti arahan dan proses dari Disdikpora Kudus.

Kepala SMP 5 Kudus Abdul Rochim mengatakan, Kurikulum Prototipe pihaknya belum paham secara keseluruhan, karena masih sebatas sosialisasi. Ia menyampaikan, menunggu petunjuk Disdikpora. “Kami sudah mengikuti sosialisasi awal, untuk kelanjutannya belum ada informasi lagi. Jadi, saat ini masih belum ada yang melaksanaan kurikulum protitipe,” ungkapnya.

Menurut kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada melalui Kabid Dikdas M. Zubaedi, untuk saat ini belum diterapkan. Namun sosialisasi ini sudah berjalan. “Masih menunggu juknis selanjutnya dari Kemendikbudristek. Untuk saat ini hanya diberikan gambaran, supaya guru dan kepala sekolah tidak dadakan menerima materi kurikulum prototipe tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :  SE Menag No. 5 Tahun 2022; Wujud Keberagamaan Indonesia

Seperti diketahui, kurikulum prototipe, ada beberapa perbedaan antara Kurikulum 2013 (K13) dengan kurikulum 2022 (Prototipe) di antaranya, untuk level PAUD pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema pada K13, berubah menjadi fokus literasi (buku yang digemari anak-anak).

Untuk level SD pelajaran IPA dan IPS yang awalnya dipisah pada K13, digabung menjadi IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) pada Kurikulum Prototipe, sebagai fondasi sebelum anak belajar IPA dan IPS terpisah di jenjang SMP 7. Kemudian, SMP pembelajaran Informatika atau IT pada K13 menjadi matapelajaran (mapel) pilihan, sementara kurikulum prototipe menjadi mapel wajib. “Sekarang ini mempersiapkan sekolah penggerak, karena menjadi sasaran penerapan kurikulum prototipe,” katanya.

 






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) terus mengenalkan Kurikulum Prototipe. Namun, sekolah belum mengetahui secara detail penerapannya. Bahkan guru-guru banyak yang belum paham dengan kurikulum baru ini.

Kepala SD 1 Jati Kulon Sri Wahyuningsih mengatakan, Kurikulum Prototipe masih pengenalan. Menurutnya, Disdikpora masih memberikan gambaran umumnya, belum sampai ke teknis.

“Ya, beberapa waktu lalu ada sosialisasi Kurikulum Prototipe. Itu pun masih informasi awal. Tetapi kami berusaha mencari tahu seperti apa Kurikulum Prototipe,” jelasnya.

Dia mengatakan, guru-guru juga belum ada yang paham tentang Kurikulum Prototipe. Pihaknya hanya mengikuti arahan dan proses dari Disdikpora Kudus.

Kepala SMP 5 Kudus Abdul Rochim mengatakan, Kurikulum Prototipe pihaknya belum paham secara keseluruhan, karena masih sebatas sosialisasi. Ia menyampaikan, menunggu petunjuk Disdikpora. “Kami sudah mengikuti sosialisasi awal, untuk kelanjutannya belum ada informasi lagi. Jadi, saat ini masih belum ada yang melaksanaan kurikulum protitipe,” ungkapnya.

Menurut kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada melalui Kabid Dikdas M. Zubaedi, untuk saat ini belum diterapkan. Namun sosialisasi ini sudah berjalan. “Masih menunggu juknis selanjutnya dari Kemendikbudristek. Untuk saat ini hanya diberikan gambaran, supaya guru dan kepala sekolah tidak dadakan menerima materi kurikulum prototipe tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :  Tahanan Perempuan dapat Suitan ketika Melintas di Blok Laki-laki

Seperti diketahui, kurikulum prototipe, ada beberapa perbedaan antara Kurikulum 2013 (K13) dengan kurikulum 2022 (Prototipe) di antaranya, untuk level PAUD pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema pada K13, berubah menjadi fokus literasi (buku yang digemari anak-anak).

Untuk level SD pelajaran IPA dan IPS yang awalnya dipisah pada K13, digabung menjadi IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) pada Kurikulum Prototipe, sebagai fondasi sebelum anak belajar IPA dan IPS terpisah di jenjang SMP 7. Kemudian, SMP pembelajaran Informatika atau IT pada K13 menjadi matapelajaran (mapel) pilihan, sementara kurikulum prototipe menjadi mapel wajib. “Sekarang ini mempersiapkan sekolah penggerak, karena menjadi sasaran penerapan kurikulum prototipe,” katanya.

 






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/