alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Disbudpar Kudus Kenalkan Kembali Fashion Pengantin Kudusan

KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) baru-baru ini pengambilan video dan sesi pemotretan pengantin Kudusan. Yakni baju pengantin Kudusan dan Toto Kaji. Hal ini dilakukan untuk mengangkat kembali fashion pengantin tempo dulu.

Plt Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah melalui Kabid Kebudayaan Agus  Susanto mengatakan, pengantin Kudusan pada masa sekarang dianggap ketinggalan zaman. Padahal, fashion tersebut mengandung kearifan budaya.

Dia bercerita, pengantin di Kudus zaman dulu mengenakan pakaian khas Timur Tengah bagi mempelai laki-laki dan pakaian khas Eropa bagi mempelai perempuan. Pakaian yang diberi nama Toto Kaji perpaduan antara budaya Arab, Eropa (Portugis), dan Jawa.

(DISBUDPAR FOR RADAR KUDUS)

“Perubahan fashion yang beragam bentuk menggeser pakaian Toto Kaji. Kalau penata rias kembali mengangkat penganti toto kaji, mungkin bisa menjadi keunikan sendiri,” terangnya.

Uniknya, kata Agus, untuk pakaian Toto Kaji ini, mempelai laki-laki yang berasal dari Timur Tengah tetap mempertahankan pakaian adat sendiri. Sementara mempelai perempuan tetap mengenakan gaun Eropa, yang ketika itu sudah lebih dulu mempengaruhi masyarakat Kudus melalui pedagang dari Barat.

Baca Juga :  Tiga Ruas Jalan Rusak di Kudus Diusulkan Jadi Prioritas Perbaikan

“Gaunnya biasanya berwarna biru muda atau warna cerah lain. Untuk akad nikah dan resepsi berbeda,” jelasnya.

Untuk akad nikah, pakaian Kudusan. Laki-laki mengenakan kemeja putih dipadankan dengan mengenakan jaz dan bawahan sarung batik serta memaka peci. Sedangkan mempelai perempuannya mengenakan kebaya bordir Kudus warna putih dan jarik. Untuk perempuan rambut disanggul serta memakai kerudung segi pajang putih.

Dia mengatakan, adapun pengaruh Jawa tentunya ada prosesinya yang beraneka rupa.

Sayang, saat ini minat masyarakat Kudus terhadap pakaian pengantin adat Kudus dan upacara ritual pernikahan menurun. Bahkan banyak yang telah meninggalkan tradisi tersebut dan lebih memilih pada tradisi yang dianggap lebih modern dan praktis. (mal)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) baru-baru ini pengambilan video dan sesi pemotretan pengantin Kudusan. Yakni baju pengantin Kudusan dan Toto Kaji. Hal ini dilakukan untuk mengangkat kembali fashion pengantin tempo dulu.

Plt Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah melalui Kabid Kebudayaan Agus  Susanto mengatakan, pengantin Kudusan pada masa sekarang dianggap ketinggalan zaman. Padahal, fashion tersebut mengandung kearifan budaya.

Dia bercerita, pengantin di Kudus zaman dulu mengenakan pakaian khas Timur Tengah bagi mempelai laki-laki dan pakaian khas Eropa bagi mempelai perempuan. Pakaian yang diberi nama Toto Kaji perpaduan antara budaya Arab, Eropa (Portugis), dan Jawa.

(DISBUDPAR FOR RADAR KUDUS)

“Perubahan fashion yang beragam bentuk menggeser pakaian Toto Kaji. Kalau penata rias kembali mengangkat penganti toto kaji, mungkin bisa menjadi keunikan sendiri,” terangnya.

Uniknya, kata Agus, untuk pakaian Toto Kaji ini, mempelai laki-laki yang berasal dari Timur Tengah tetap mempertahankan pakaian adat sendiri. Sementara mempelai perempuan tetap mengenakan gaun Eropa, yang ketika itu sudah lebih dulu mempengaruhi masyarakat Kudus melalui pedagang dari Barat.

Baca Juga :  Proyek Tol Demak-Tuban, Hartopo Minta Ada Exit Tol dan Rest Area di Kudus

“Gaunnya biasanya berwarna biru muda atau warna cerah lain. Untuk akad nikah dan resepsi berbeda,” jelasnya.

Untuk akad nikah, pakaian Kudusan. Laki-laki mengenakan kemeja putih dipadankan dengan mengenakan jaz dan bawahan sarung batik serta memaka peci. Sedangkan mempelai perempuannya mengenakan kebaya bordir Kudus warna putih dan jarik. Untuk perempuan rambut disanggul serta memakai kerudung segi pajang putih.

Dia mengatakan, adapun pengaruh Jawa tentunya ada prosesinya yang beraneka rupa.

Sayang, saat ini minat masyarakat Kudus terhadap pakaian pengantin adat Kudus dan upacara ritual pernikahan menurun. Bahkan banyak yang telah meninggalkan tradisi tersebut dan lebih memilih pada tradisi yang dianggap lebih modern dan praktis. (mal)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/