alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

DKK Kudus Mencatat Kasus DBD Naik Empat Kali Lipat selama 2021

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) selama 2021 sebanyak 175 kasus atau naik empat kali lipat. Pada 2020 hanya 40 kasus.

Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo melalui Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Nuryanto mengatakan selama 2021 kasus tertinggi terjadi pada November mencapai 26 kasus. Sedangkan Desember turun 23 kasus. Namun masih lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Untuk pekan pertama bulan ini, sudah ada laporan kasus DBD sebanyak lima kasus.


Ia mengungkapkan peningkatan kasus DBD 2021 disebabkan karena anomali musim yang berdampak pada perkembangbiakan jentik nyamuk menjadi lebih cepat. Sehingga harus diantisipasi dengan menjaga lingkungan rumah dan sekitarnya tetap bersih dan sehat.

Selain itu, musim yang tidak menentu juga bisa menyebabkan daya tahan tubuh seseorang menurun. Sehingga ketika digigit nyamuk pembawa virus DBD mudah terpapar karena imunitas tubuhnya yang rendah karena tidak mampu melawan virus tersebut.

Baca Juga :  Serbuan di Tiga Titik, Capaian Vaksinasi di Kudus Sudah 50 Persen

DKK menggerakkan puskesmas untuk memberikan edukasi pentingnya pola hidup sehat dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengurasan bak mandi atau penampungan air. Menutup bak penamping air dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Agar tidak dijadikan tempat untuk berkembang biak jentik nyamuk yang dimungkinkan membawa virus DBD.

”Kami juga tengah menggalakkan setiap rumah terdapat satu juru pemantau jentik (jumantik) sehingga masing-masing warga memastikan rumahnya bebas jentik nyamuk,” ujarnya.

Menurut dia upaya pemberantasan penyakit DBB melalui PSN cukup efektif. Dibandingkan dengan cara lain seperti abatisasi selektif maupun pengasapan atau fogging. (zen)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) selama 2021 sebanyak 175 kasus atau naik empat kali lipat. Pada 2020 hanya 40 kasus.

Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo melalui Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Nuryanto mengatakan selama 2021 kasus tertinggi terjadi pada November mencapai 26 kasus. Sedangkan Desember turun 23 kasus. Namun masih lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Untuk pekan pertama bulan ini, sudah ada laporan kasus DBD sebanyak lima kasus.

Ia mengungkapkan peningkatan kasus DBD 2021 disebabkan karena anomali musim yang berdampak pada perkembangbiakan jentik nyamuk menjadi lebih cepat. Sehingga harus diantisipasi dengan menjaga lingkungan rumah dan sekitarnya tetap bersih dan sehat.

Selain itu, musim yang tidak menentu juga bisa menyebabkan daya tahan tubuh seseorang menurun. Sehingga ketika digigit nyamuk pembawa virus DBD mudah terpapar karena imunitas tubuhnya yang rendah karena tidak mampu melawan virus tersebut.

Baca Juga :  Kudus Terima Empat Jenis Vaksin Covid-19

DKK menggerakkan puskesmas untuk memberikan edukasi pentingnya pola hidup sehat dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengurasan bak mandi atau penampungan air. Menutup bak penamping air dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Agar tidak dijadikan tempat untuk berkembang biak jentik nyamuk yang dimungkinkan membawa virus DBD.

”Kami juga tengah menggalakkan setiap rumah terdapat satu juru pemantau jentik (jumantik) sehingga masing-masing warga memastikan rumahnya bebas jentik nyamuk,” ujarnya.

Menurut dia upaya pemberantasan penyakit DBB melalui PSN cukup efektif. Dibandingkan dengan cara lain seperti abatisasi selektif maupun pengasapan atau fogging. (zen)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/