alexametrics
32.7 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Dua Siswa di Kudus Maju ke Paskibra Provinsi dan Nasional

KUDUS – Bupati Kudus Hartopo melepas dua siswa yang berhasil lolos menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) ke tingkat provinsi dan nasional pada (6/6). Keduanya akan mewakili Kudus pada upacara 17 Agustus 2022.

Hartopo berterima kasih kepada orang tua maupun guru yang telah mendidik mereka bisa sampai ke tahap ini. “Momen ini bisa dijadikan siswa untuk belajar. Ini kesempatan emas,” katanya.

Dia berpesan pada siswa yang lolos agar bisa menyesuaikan diri saat menjalani karatina. Karena dalam prosesnya mereka akan berkumpul dengan orang-orang baru. “Harus pintar menyesuaikan diri,” ujarnya.


Dia juga mengingatkan, siswa harus bisa menjaga diri dan sikap. Karena di Kudus terkenal dengan kearifan lokal yang baik.  “Bentuklah jiwa korsa yang baik. Jangan sampai jadi peserta Paskibra cadangan,” ungkapnya. Dia berpesan saat diajarkan kedisiplinan, kepemimpinan, dan akademisi di tempat karantina itu betul-betul harus diikuti dengan baik.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Harjuna Widada sangat bangga ada putra daerah yang menjadi Paskibra provinsi dan nasional. Sebab, sebelumnya, selama dua tahun sempat off (tidak ada seleksi) karena pandemi. Maka tahun ini dapat menjadi momentum yang baik.

“Ini sudah membawa nama baik Kudus,” jelasnya. Dia berharap siswa yang maju ke tingkat provinsi maupun nasional itu dapat mengerahkan seluruh kemampuannya saat proses karantina serta diharapkan mampu memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.

DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS

Cita-Cita sejak Kecil Terwujud

DAPAT mewakili Kudus untuk maju dalam Paskibrakan ke tingkat provinsi dan nasional tentu tidak mudah. Namun dengan kegigihan yang tinggi, Firsty dan Franchy dapat meraih kesempatan tersebut.

I Dewa Ayu Firsty Meita Dewanggi, 16 tahun, tidak menyangka bisa mewakili Kabupaten Kudus untuk maju Paskibrakan ke tingkat nasional. Siswa asal RT 1 RW 2 Desa Garung Lor, Kaliwungu itu menceritakan jika sejak kecil (SD) sangat tertarik menjadi Paskibraka ketika menonton upacara 17 Agustusan di televisi. “Keren, barisannya begitu rapi,” ucapnya. Sejak saat itu dia ingin menjadi Paskibraka.

Baca Juga :  Mencicipi Pecak Kalkun Khas Undaan, Dagingnya Lembut dan Juicy

“Saat SMP, ketika saya menjadi anggota OSIS juga sering mengikuti pelatihan peraturan baris berbaris (PBB),” ujar siswa kelas X dari SMA 2 Kudus itu. Kini saat SMA pun, dia diikutkan seleksi Paskibraka dan mendapatkan dukungan dari keluarga maupun teman.

Dia menceritakan, saat nanti menjalani karantina di Jakarta selama sebulan pasti akan jauh dari orang tua. Terutama akan ketinggalan banyak pelajaran. Namun hal itu rasanya bisa terbayar jika bisa mengikuti seleksi dengan lancar.

Dari Paskibraka sendiri, dia sekaligus dapat belajar disiplin, mengatur waktu, dan menambah ilmu serta menambah nilai akademis.

Berbeda dengan Muhammad Franchy Luthfan Rahmadina, siswa kelas X asal SMA 1 Kudus ini awal mulanya dia mengikuti ekstrakurikuler Paskibra di sekolah dan sempat diikutkan pada seleksi tingkat kabupaten. Kini dia berhasil ke tingkat provinsi mewakili Kudus.

Beragam proses seleksi dia ikuti, mulai dari pemeriksaan tinggi badan, berat badan, uji fisik lari selama 1 menit, serta wawancara akhlak mengenai ideologi Pancasila dan bahasa Inggris. Saat seleksi di tingkat provinsi, dia sempat menampilkan Tari Kretek.

“Saya menampilkan Tari Kretek dihadapan juri saat mengikuti seleksi di Semarang. Saat itu setidaknya ada 70 peserta dari wilayah Jawa Tengah,” paparnya.

Momen tersebut ia jadikan untuk mengembangkan diri dalam dunia Paskibraka, seperti harus konsisten dalam mengikuti latihan, rela mengorbankan waktu dan tenaga, serta menyiapkan mental. Dia juga membeberkan jika sepanjang masa seleksi ini pun turut menghindari minum es. Itu wajib bagi peserta Paskibraka.

“Harapannya saya dapat posisi terbaik yakni pengibar bendera, serta dapat meneruskan prestasi ini ke adik-adiknya,” kata siswa asal RT 3RW 1 Desa Singocandi, Kota, Kudus itu. (ark/mal)

 

KUDUS – Bupati Kudus Hartopo melepas dua siswa yang berhasil lolos menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) ke tingkat provinsi dan nasional pada (6/6). Keduanya akan mewakili Kudus pada upacara 17 Agustus 2022.

Hartopo berterima kasih kepada orang tua maupun guru yang telah mendidik mereka bisa sampai ke tahap ini. “Momen ini bisa dijadikan siswa untuk belajar. Ini kesempatan emas,” katanya.

Dia berpesan pada siswa yang lolos agar bisa menyesuaikan diri saat menjalani karatina. Karena dalam prosesnya mereka akan berkumpul dengan orang-orang baru. “Harus pintar menyesuaikan diri,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, siswa harus bisa menjaga diri dan sikap. Karena di Kudus terkenal dengan kearifan lokal yang baik.  “Bentuklah jiwa korsa yang baik. Jangan sampai jadi peserta Paskibra cadangan,” ungkapnya. Dia berpesan saat diajarkan kedisiplinan, kepemimpinan, dan akademisi di tempat karantina itu betul-betul harus diikuti dengan baik.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Harjuna Widada sangat bangga ada putra daerah yang menjadi Paskibra provinsi dan nasional. Sebab, sebelumnya, selama dua tahun sempat off (tidak ada seleksi) karena pandemi. Maka tahun ini dapat menjadi momentum yang baik.

“Ini sudah membawa nama baik Kudus,” jelasnya. Dia berharap siswa yang maju ke tingkat provinsi maupun nasional itu dapat mengerahkan seluruh kemampuannya saat proses karantina serta diharapkan mampu memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.

DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS

Cita-Cita sejak Kecil Terwujud

DAPAT mewakili Kudus untuk maju dalam Paskibrakan ke tingkat provinsi dan nasional tentu tidak mudah. Namun dengan kegigihan yang tinggi, Firsty dan Franchy dapat meraih kesempatan tersebut.

I Dewa Ayu Firsty Meita Dewanggi, 16 tahun, tidak menyangka bisa mewakili Kabupaten Kudus untuk maju Paskibrakan ke tingkat nasional. Siswa asal RT 1 RW 2 Desa Garung Lor, Kaliwungu itu menceritakan jika sejak kecil (SD) sangat tertarik menjadi Paskibraka ketika menonton upacara 17 Agustusan di televisi. “Keren, barisannya begitu rapi,” ucapnya. Sejak saat itu dia ingin menjadi Paskibraka.

Baca Juga :  Kudus Masuk Wilayah PPKM Level 3, Pedagang Berharap Kelonggaran Jam Buka

“Saat SMP, ketika saya menjadi anggota OSIS juga sering mengikuti pelatihan peraturan baris berbaris (PBB),” ujar siswa kelas X dari SMA 2 Kudus itu. Kini saat SMA pun, dia diikutkan seleksi Paskibraka dan mendapatkan dukungan dari keluarga maupun teman.

Dia menceritakan, saat nanti menjalani karantina di Jakarta selama sebulan pasti akan jauh dari orang tua. Terutama akan ketinggalan banyak pelajaran. Namun hal itu rasanya bisa terbayar jika bisa mengikuti seleksi dengan lancar.

Dari Paskibraka sendiri, dia sekaligus dapat belajar disiplin, mengatur waktu, dan menambah ilmu serta menambah nilai akademis.

Berbeda dengan Muhammad Franchy Luthfan Rahmadina, siswa kelas X asal SMA 1 Kudus ini awal mulanya dia mengikuti ekstrakurikuler Paskibra di sekolah dan sempat diikutkan pada seleksi tingkat kabupaten. Kini dia berhasil ke tingkat provinsi mewakili Kudus.

Beragam proses seleksi dia ikuti, mulai dari pemeriksaan tinggi badan, berat badan, uji fisik lari selama 1 menit, serta wawancara akhlak mengenai ideologi Pancasila dan bahasa Inggris. Saat seleksi di tingkat provinsi, dia sempat menampilkan Tari Kretek.

“Saya menampilkan Tari Kretek dihadapan juri saat mengikuti seleksi di Semarang. Saat itu setidaknya ada 70 peserta dari wilayah Jawa Tengah,” paparnya.

Momen tersebut ia jadikan untuk mengembangkan diri dalam dunia Paskibraka, seperti harus konsisten dalam mengikuti latihan, rela mengorbankan waktu dan tenaga, serta menyiapkan mental. Dia juga membeberkan jika sepanjang masa seleksi ini pun turut menghindari minum es. Itu wajib bagi peserta Paskibraka.

“Harapannya saya dapat posisi terbaik yakni pengibar bendera, serta dapat meneruskan prestasi ini ke adik-adiknya,” kata siswa asal RT 3RW 1 Desa Singocandi, Kota, Kudus itu. (ark/mal)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/