alexametrics
25.6 C
Kudus
Friday, May 13, 2022

Dipasarkan lewat Medsos, Kerajinan Batok Kelapa Kudus Tembus Luar Negeri

KUDUS – Kerajinan tangan berbahan tempurung kelapa produksi UMKM asal Kudus ternyata sudah bisa menembus pasar mancanegara. Pembuatnya Tiar Bachroni, pria asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus.

Pemasaran digital bisa mengantarkan produk kerajinan tempurung kelapa milik Tiar Bachroni, bisa tembus pasar luar negeri. Perajin asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus merintis usaha tersebut dari 2017.


Roni, panggilan akrabnya, menceritakan pengalamannya yang unik, yakni mendapatkan pesanan bentuk bra dari batok kelapa. ”Awalnya saya posting produk-produk saya di sosial media (sosmed), kemudian ada kontak masuk. Orang tersebut berasar dari Jamaika dan saya ditanya bisa membuat bra dari bahan batok kelapa dan dikirim gambar bentuk branya. Saya sanggupi, padahal belum pernah sama sekali membuat,” terangnya.

Roni sempat ragu karena pesannya 100 pcs dengan ukuran yang all size. Namun setelah transaksi pembayaran baru percaya kalau serius pesan. Ia juga sempat terheran-heran membuat bra dari bahan batok kelapa. Namun berhubung sudah ada contohnya, sehingga tinggal jiplak saja seperti keinginan pemesan.

”Waktu itu saya dapat pesanan bra 100 pcs di kirim ke Jamaika sekitar 2018. Setelah saya buat dan produknya saya posting, ternyata responnya tambah banyak. Bahkan ada yang pesan sesuai ukuran. Dan, sampai sekarang masih membuat bra dari bahan batok kelapa,” ujarnya.

Roni mengatakan, setelah itu banyak pesanan dari Kalimantan pesan 30 buah bra batok kelapa. Selain produk bra, ia juga membuat teko, gelas, mangkok, piring hingga celengan dengan beragam bentuk seperti gajah dan lainnya.

TEMBUS MANCANEGARA: Kerajinan batok kelapa karya Tiar Bachroni tak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun juga sampai ke luar negeri. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Ia mengaku, piring dan gelas tak kalah banjir orderan. Selain pemenuhan dalam negeri juga pesanan datang dari Australia. Roni mematok harga mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 1 juta per buah tergantung tingkat kerumitan dalam pembuatannya.

Baca Juga :  Disnaker Perinkop dan UKM Kudus Data Ulang UMKM dan Koperasi

Roni mengungkapkan sebenarnya dapat orderan dari luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri karena karyanya diakui sampai tingkat internasional. Namun, kendala yang kerap dialami, pada saat pengiriman barang yang jumlahnya besar dan tarifnya cukup tinggi. Ia khawatir ada unsur penipuan, kemudian ia mencari forwarder yang bisa dipercaya. Karena barang yang dikirim jumlahnya besar.

Sementara itu, dalam pemilihan bahan baku untuk produknya, semua jenis kelapa bisa dipakai menjadi kerajinan. Terutama batok kelapa yang tua dan keras sehingga memberikan hasil jadi yang lebih baik.

Untuk mendapatkan bahan baku, Roni membelinya dari Purworejo dan Jogjakarta. Menurutnya, di Kudus ada batok kelapa tapi kondisinya banyak yang tidak utuh, sehingga kesulitan untuk dibentuk. ”Kalau batok kelapa dari Jogjakarta itu lemir, jadi nggak keras. Makanya saya ambil bahan baku dari Purworejo lebih keras,” katanya.

Bahan baku tersebut biasanya dikirim langsung, namun jika butuh dalam jumlah banyak. Roni memilih untuk datang langsung agar bisa dipastikan kualitasnya baik. Sekali kirim 100 batok, tapi kalau butuh banyak ambil sendiri. Belinya per kilogram.

Adapun omzet rata-ratanya setiap bulan mencapai Rp 5 juta per bulan selama pandemi.
Jumlah itu turun hampir 30 persen dari sebelum pandemi yang bisa mencapai Rp 8 juta per bulan.

Dia berencana ‎akan mengembangkan produk dengan membuat jam tangan dan jam dinding dari batok kelapa. Kemudian kerajinan yang berbentuk maket Masjid Menara Kudus. Pihaknya, sudah mulai rancang, rencana segera realisasikan pada tahun 2022. (san/lid/adv)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Kerajinan tangan berbahan tempurung kelapa produksi UMKM asal Kudus ternyata sudah bisa menembus pasar mancanegara. Pembuatnya Tiar Bachroni, pria asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus.

Pemasaran digital bisa mengantarkan produk kerajinan tempurung kelapa milik Tiar Bachroni, bisa tembus pasar luar negeri. Perajin asal Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kudus merintis usaha tersebut dari 2017.

Roni, panggilan akrabnya, menceritakan pengalamannya yang unik, yakni mendapatkan pesanan bentuk bra dari batok kelapa. ”Awalnya saya posting produk-produk saya di sosial media (sosmed), kemudian ada kontak masuk. Orang tersebut berasar dari Jamaika dan saya ditanya bisa membuat bra dari bahan batok kelapa dan dikirim gambar bentuk branya. Saya sanggupi, padahal belum pernah sama sekali membuat,” terangnya.

Roni sempat ragu karena pesannya 100 pcs dengan ukuran yang all size. Namun setelah transaksi pembayaran baru percaya kalau serius pesan. Ia juga sempat terheran-heran membuat bra dari bahan batok kelapa. Namun berhubung sudah ada contohnya, sehingga tinggal jiplak saja seperti keinginan pemesan.

”Waktu itu saya dapat pesanan bra 100 pcs di kirim ke Jamaika sekitar 2018. Setelah saya buat dan produknya saya posting, ternyata responnya tambah banyak. Bahkan ada yang pesan sesuai ukuran. Dan, sampai sekarang masih membuat bra dari bahan batok kelapa,” ujarnya.

Roni mengatakan, setelah itu banyak pesanan dari Kalimantan pesan 30 buah bra batok kelapa. Selain produk bra, ia juga membuat teko, gelas, mangkok, piring hingga celengan dengan beragam bentuk seperti gajah dan lainnya.

TEMBUS MANCANEGARA: Kerajinan batok kelapa karya Tiar Bachroni tak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun juga sampai ke luar negeri. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Ia mengaku, piring dan gelas tak kalah banjir orderan. Selain pemenuhan dalam negeri juga pesanan datang dari Australia. Roni mematok harga mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 1 juta per buah tergantung tingkat kerumitan dalam pembuatannya.

Baca Juga :  Kirab Temu Penganten Tebu Awali Musim Giling di PG Rendeng Kudus

Roni mengungkapkan sebenarnya dapat orderan dari luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri karena karyanya diakui sampai tingkat internasional. Namun, kendala yang kerap dialami, pada saat pengiriman barang yang jumlahnya besar dan tarifnya cukup tinggi. Ia khawatir ada unsur penipuan, kemudian ia mencari forwarder yang bisa dipercaya. Karena barang yang dikirim jumlahnya besar.

Sementara itu, dalam pemilihan bahan baku untuk produknya, semua jenis kelapa bisa dipakai menjadi kerajinan. Terutama batok kelapa yang tua dan keras sehingga memberikan hasil jadi yang lebih baik.

Untuk mendapatkan bahan baku, Roni membelinya dari Purworejo dan Jogjakarta. Menurutnya, di Kudus ada batok kelapa tapi kondisinya banyak yang tidak utuh, sehingga kesulitan untuk dibentuk. ”Kalau batok kelapa dari Jogjakarta itu lemir, jadi nggak keras. Makanya saya ambil bahan baku dari Purworejo lebih keras,” katanya.

Bahan baku tersebut biasanya dikirim langsung, namun jika butuh dalam jumlah banyak. Roni memilih untuk datang langsung agar bisa dipastikan kualitasnya baik. Sekali kirim 100 batok, tapi kalau butuh banyak ambil sendiri. Belinya per kilogram.

Adapun omzet rata-ratanya setiap bulan mencapai Rp 5 juta per bulan selama pandemi.
Jumlah itu turun hampir 30 persen dari sebelum pandemi yang bisa mencapai Rp 8 juta per bulan.

Dia berencana ‎akan mengembangkan produk dengan membuat jam tangan dan jam dinding dari batok kelapa. Kemudian kerajinan yang berbentuk maket Masjid Menara Kudus. Pihaknya, sudah mulai rancang, rencana segera realisasikan pada tahun 2022. (san/lid/adv)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/