alexametrics
21.9 C
Kudus
Thursday, June 30, 2022

Ci Swak, Ritual Tolak Balak Diawali Doa Bersama, Diakhiri Pembagian Jeruk

KUDUS – Kelenteng Hoek Hien Bio Kudus menyelenggarakan sembahyang ci swak untuk umat Tri Dharma pada (6/2). Ritual itu diyakini bisa menjauhkan umat dari segala malapetaka pada 2022. Ritual ini dimulai dari doa bersama dan diakhiri dengan pembagian jeruk kepada umat.

Lay Sin Moy, pembina Kelenteng Kenanga dari Semarang mengatakan ritual ini dilakukan sekali dalam setahun. Biasanya setiap awal tahun baru Imlek.

“Tujuan dari ci swak untuk meminta keselamatan bersama serta melindungi dari segala keburukan atau malapetaka selama satu tahun ke depan,” katanya.


Sembahyang tersebut dilaksanakan secara sederhana, hanya ada 12 umat. Di depan altar ada patung Dewa Bumi, dupa, dan aneka buah serta makanan.

Ci swak dilaksanakan dua sesi. Pertama pada pukul 08.00- pukul 09.00 dan pukul 09.00- pukul 10.00. Selama kurang lebih satu jam mereka berdoa. Dalam ritual ini, selama kurang lebih setengah jam, mereka menabuh alat sembari melantunkan doa. Para umat kelenteng juga membawa dupa tiga biji. Sesekali mereka menundukkan kepalanya, sesuai yang diarahkan pemimpin.

Baca Juga :  Cicipi Produk di Pasar Winong Sari Joyo, Mawar Hartopo Acungkan Jempol

“Tiga dupa yang dibawa umat melambangkan langit, bumi serta manusia, ” ucap  Liong Kuo Tjun, selaku penasihat Kelenteng Hok Hien Bio Kudus.

Pada sesi-sesi terakhir pergelaran Cio swak Lay Sin Moy juga tampak memberi dua buah jeruk pada tiap umat. “Itu mengandung doa agar orang yang diberi itu bisa menanjak sukses tahun ini,” tambahnya. (ark/mal)

KUDUS – Kelenteng Hoek Hien Bio Kudus menyelenggarakan sembahyang ci swak untuk umat Tri Dharma pada (6/2). Ritual itu diyakini bisa menjauhkan umat dari segala malapetaka pada 2022. Ritual ini dimulai dari doa bersama dan diakhiri dengan pembagian jeruk kepada umat.

Lay Sin Moy, pembina Kelenteng Kenanga dari Semarang mengatakan ritual ini dilakukan sekali dalam setahun. Biasanya setiap awal tahun baru Imlek.

“Tujuan dari ci swak untuk meminta keselamatan bersama serta melindungi dari segala keburukan atau malapetaka selama satu tahun ke depan,” katanya.

Sembahyang tersebut dilaksanakan secara sederhana, hanya ada 12 umat. Di depan altar ada patung Dewa Bumi, dupa, dan aneka buah serta makanan.

Ci swak dilaksanakan dua sesi. Pertama pada pukul 08.00- pukul 09.00 dan pukul 09.00- pukul 10.00. Selama kurang lebih satu jam mereka berdoa. Dalam ritual ini, selama kurang lebih setengah jam, mereka menabuh alat sembari melantunkan doa. Para umat kelenteng juga membawa dupa tiga biji. Sesekali mereka menundukkan kepalanya, sesuai yang diarahkan pemimpin.

Baca Juga :  Museum Patiayam Gaet Wisatawan Mancanegara

“Tiga dupa yang dibawa umat melambangkan langit, bumi serta manusia, ” ucap  Liong Kuo Tjun, selaku penasihat Kelenteng Hok Hien Bio Kudus.

Pada sesi-sesi terakhir pergelaran Cio swak Lay Sin Moy juga tampak memberi dua buah jeruk pada tiap umat. “Itu mengandung doa agar orang yang diberi itu bisa menanjak sukses tahun ini,” tambahnya. (ark/mal)

Most Read

Artikel Terbaru

/