alexametrics
29.6 C
Kudus
Wednesday, May 18, 2022

Janji Perbaikan Jembatan Tak Kunjung Terealisasi, Sampah Numpuk

KUDUS – Perbaikan sejumlah jembatan di Desa Kesambi, Mejobo yang dijanjikan pemkab tak kunjung terealisasi. Dampaknya, usai hujan deras dan banjir, sampah menumpuk di kaki jembatan.

Saat wartawan koran ini ke lokasi, tumpukan sampah di bawah jembatan itu ada di empat titik. Di jembatan satu hingga empat. Di jembatan satu tumpukan sampah hingga satu meter. Sampah itu terdiri dari kayu, bambu, hingga plastik. Letaknya tepat di depan balai Desa Kesambi. Sampah itu menumpuk sejak kemarin malam.

Kepala Desa Kesambi Mokhamad Masri menyebut kejadian seperti itu terjadi tiap tahun. Sehingga pihaknya hanya pasrah. Sebab berkali-kali mengajukan bantuan dan permohonan tak pernah terealisasi.


“Sudah kami sampaikan kepada bupati. Gubernur juga sudah datang ke sini. Kami dijanjikan normalisasi, peremajaan tanggul, hingga bantuan pembangunan jembatan. Tapi sampai sekarang tak ada realisasinya,” katanya.

Masri mengatakan, sempat dijanjikan perombakan pembangunan jembatan tanpa pilar agar tak lagi ada sampah menumpuk. Dengan tujuan meminimalisasi banjir dan tanggul bocor. Rencananya ada empat jembatan yang dijanjikan pemerintah daerah untuk dibangun pada 2021. Sayang hingga kini tak terealisasi dengan dalih refocusing.

“Empat itu yang kami prioritaskan sebagai penghubung antardesa. Yakni jembatan satu, tiga, sembilan, serta jembatan baru yang jadi jalur transportasi pertanian JOT,” katanya.

Baca Juga :  Dua Rumah di Kudus Disatroni Maling, Uang-Emas Rp 700 Juta Raib

Menyikapi tumpukan sampah itu Masri menyebut akan berupaya berkirim surat ke BBWS agar ada pembersihan menggunakan alat berat. Karena sampah sudah menebal sehingga mustahil dilakukan pembersihan konvensional oleh warga dengan tangan.

“Secepatnya kami kirim surat untuk pembersihan. Tapi ini belum ada jawaban. Kami kejar, katanya mau dibarengi dengan Desa Temulus saat pembersihan. Kemarin belum bisa karena hanya satu jembatan. Kalau ini sudah banyak,” imbuhnya.

Warga sudah jenuh dengan hal ini. Karena gotong-royong kerap dilakukan. Tetapi sampah terus berdatangan.

“Kerja bakti sudah jenuh. Ganjar sendiri pernah ke sini. Semua jalan sudah kami tempuh. Semua sudah menjanjikan. Kami menunggu. Kemarin ada inisiatif dari pemdes untuk normalisasi. Bila tak ada anggaran dari BBWS,” jelasnya.

Tetapi upaya itu tidak dibenarkan BBWS. Sebab wewenang sungai memang di BBWS. Sehinggga langkah pemdes untuk menormalisasi sungai itu dilarang.

“Sempat ada alternatif sungai dikeruk, tanahnya ditaruh di area pertanian warga. Sebab lahan pertanian memang rendah sehingga mudah kebanjiran. Warga siap mengganti uang transportasi,” tambahnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Perbaikan sejumlah jembatan di Desa Kesambi, Mejobo yang dijanjikan pemkab tak kunjung terealisasi. Dampaknya, usai hujan deras dan banjir, sampah menumpuk di kaki jembatan.

Saat wartawan koran ini ke lokasi, tumpukan sampah di bawah jembatan itu ada di empat titik. Di jembatan satu hingga empat. Di jembatan satu tumpukan sampah hingga satu meter. Sampah itu terdiri dari kayu, bambu, hingga plastik. Letaknya tepat di depan balai Desa Kesambi. Sampah itu menumpuk sejak kemarin malam.

Kepala Desa Kesambi Mokhamad Masri menyebut kejadian seperti itu terjadi tiap tahun. Sehingga pihaknya hanya pasrah. Sebab berkali-kali mengajukan bantuan dan permohonan tak pernah terealisasi.

“Sudah kami sampaikan kepada bupati. Gubernur juga sudah datang ke sini. Kami dijanjikan normalisasi, peremajaan tanggul, hingga bantuan pembangunan jembatan. Tapi sampai sekarang tak ada realisasinya,” katanya.

Masri mengatakan, sempat dijanjikan perombakan pembangunan jembatan tanpa pilar agar tak lagi ada sampah menumpuk. Dengan tujuan meminimalisasi banjir dan tanggul bocor. Rencananya ada empat jembatan yang dijanjikan pemerintah daerah untuk dibangun pada 2021. Sayang hingga kini tak terealisasi dengan dalih refocusing.

“Empat itu yang kami prioritaskan sebagai penghubung antardesa. Yakni jembatan satu, tiga, sembilan, serta jembatan baru yang jadi jalur transportasi pertanian JOT,” katanya.

Baca Juga :  Resmi! Dukcapil Kudus Launching Gerakan Bersama Pelayanan Administrasi Penduduk Bagi Difabel

Menyikapi tumpukan sampah itu Masri menyebut akan berupaya berkirim surat ke BBWS agar ada pembersihan menggunakan alat berat. Karena sampah sudah menebal sehingga mustahil dilakukan pembersihan konvensional oleh warga dengan tangan.

“Secepatnya kami kirim surat untuk pembersihan. Tapi ini belum ada jawaban. Kami kejar, katanya mau dibarengi dengan Desa Temulus saat pembersihan. Kemarin belum bisa karena hanya satu jembatan. Kalau ini sudah banyak,” imbuhnya.

Warga sudah jenuh dengan hal ini. Karena gotong-royong kerap dilakukan. Tetapi sampah terus berdatangan.

“Kerja bakti sudah jenuh. Ganjar sendiri pernah ke sini. Semua jalan sudah kami tempuh. Semua sudah menjanjikan. Kami menunggu. Kemarin ada inisiatif dari pemdes untuk normalisasi. Bila tak ada anggaran dari BBWS,” jelasnya.

Tetapi upaya itu tidak dibenarkan BBWS. Sebab wewenang sungai memang di BBWS. Sehinggga langkah pemdes untuk menormalisasi sungai itu dilarang.

“Sempat ada alternatif sungai dikeruk, tanahnya ditaruh di area pertanian warga. Sebab lahan pertanian memang rendah sehingga mudah kebanjiran. Warga siap mengganti uang transportasi,” tambahnya. (mal)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/