alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Normalnya Rp 6 Juta, Kios Taman Bojana Disewakan Rp 15 Juta

KUDUS – Banyak pedagang Taman Bojana yang menyewakan kios tanpa sepengetahuan Dinas Perdagangan. Harga sewanya lumayan, Rp 15 juta per tahun. Padahal normalnya Rp 6 juta. Sedangkan status kios Taman Bojana bukan lagi hak guna bangunan (HGB) sejak 2012. Tetapi sistem sewa.

Tercatat, 50 persen dari 117 kios sudah berpindah tangan.

Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti, mengatakan, seharusnya sistemnya sewa kios seperti Pasar Kliwon. Jadi masuk pemakaian kekayaan daerah (PKD). Namun yang terjadi malah pemilik kios sudah berpindah tangan. Jadi susah.


“Jadi pindah tangannya tidak melalui kami. Kalau sekarang, saya tarik PKD banyak pedagang sudah bayar sewa, ada yang sampai Rp 15 juta. Kalau sewa dengan kami sesuai Perda, per tahun hanya Rp 6 juta,” terangnya.

Lucunya, kata dia, ada pedagang tidak pernah bayar sewa ke dinas, tetapi tiba-tiba meminta keringanan. “Jadi nyewa ke pemilik lama, tetapi meminta biaya sewa didiskon,” terangnya.

Dia mengatakan, ada beberapa pedagang masih atas nama sendiri sampai sekarang. Pihaknya hanya menarik biaya PKD dan sampah. Tidak ada retribusi lain.

Baca Juga :  PPKM Turun ke Level 3, Pemkab Longgarkan Penyekatan dan Hidupkan LPJU

Sementara ini, tentang perbaikan gedung, Sudiharti mengaku tidak sanggup. Sebab tidak ada anggaran perbaikan.

Apalagi hingga sekarang belum ada investor yang mau membangun. Kemarin (5/6) perwakilan pedagang Taman Bojana sekitar 10 orang di aula kantor ditawari pindah ke lantai III Pasar Kliwon.

“Kondisi gedung Taman Bojana sudah tua, kami koordinasi dengan ahlinya tentang kelayakannya. Kalau dinyatakan membahayakan dan tidak bisa ditempati lagi, pedagang Taman Bojana memang harus pindah,” jelasnya.

Namun, pedadang belum bisa menerima karena beberapa pertimbangan, di antaranya sanitasi atau saluran pembuangan untuk yang berjualan kuliner belum memadai. Belum ada sanitasi yang memadai.

“Akses ke lantai III jarang di rambah orang. Saya pernah sewa di lantai II saja sepi. Kalau memang masih bisa diperbaiki, a pedagang bisa berdiskusi untuk iuran memperbaiki plafon,” ungkapnya salah satu pedagang bernama Zainal.






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Banyak pedagang Taman Bojana yang menyewakan kios tanpa sepengetahuan Dinas Perdagangan. Harga sewanya lumayan, Rp 15 juta per tahun. Padahal normalnya Rp 6 juta. Sedangkan status kios Taman Bojana bukan lagi hak guna bangunan (HGB) sejak 2012. Tetapi sistem sewa.

Tercatat, 50 persen dari 117 kios sudah berpindah tangan.

Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti, mengatakan, seharusnya sistemnya sewa kios seperti Pasar Kliwon. Jadi masuk pemakaian kekayaan daerah (PKD). Namun yang terjadi malah pemilik kios sudah berpindah tangan. Jadi susah.

“Jadi pindah tangannya tidak melalui kami. Kalau sekarang, saya tarik PKD banyak pedagang sudah bayar sewa, ada yang sampai Rp 15 juta. Kalau sewa dengan kami sesuai Perda, per tahun hanya Rp 6 juta,” terangnya.

Lucunya, kata dia, ada pedagang tidak pernah bayar sewa ke dinas, tetapi tiba-tiba meminta keringanan. “Jadi nyewa ke pemilik lama, tetapi meminta biaya sewa didiskon,” terangnya.

Dia mengatakan, ada beberapa pedagang masih atas nama sendiri sampai sekarang. Pihaknya hanya menarik biaya PKD dan sampah. Tidak ada retribusi lain.

Baca Juga :  Liburan Nataru, Siap-Siap Dites Antigen

Sementara ini, tentang perbaikan gedung, Sudiharti mengaku tidak sanggup. Sebab tidak ada anggaran perbaikan.

Apalagi hingga sekarang belum ada investor yang mau membangun. Kemarin (5/6) perwakilan pedagang Taman Bojana sekitar 10 orang di aula kantor ditawari pindah ke lantai III Pasar Kliwon.

“Kondisi gedung Taman Bojana sudah tua, kami koordinasi dengan ahlinya tentang kelayakannya. Kalau dinyatakan membahayakan dan tidak bisa ditempati lagi, pedagang Taman Bojana memang harus pindah,” jelasnya.

Namun, pedadang belum bisa menerima karena beberapa pertimbangan, di antaranya sanitasi atau saluran pembuangan untuk yang berjualan kuliner belum memadai. Belum ada sanitasi yang memadai.

“Akses ke lantai III jarang di rambah orang. Saya pernah sewa di lantai II saja sepi. Kalau memang masih bisa diperbaiki, a pedagang bisa berdiskusi untuk iuran memperbaiki plafon,” ungkapnya salah satu pedagang bernama Zainal.






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/