alexametrics
31.8 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Enam Pasar Tradisional di Kudus Bakal Terapkan E-Retribusi, Mana Saja?

KUDUS – Dinas Perdagangan Kudus saat ini sudah memilah-milah pasar tradisional yang nantinya diterapkan e-retribusi, setelah Pasar Kliwon. Sedikitnya ada enam pasar yang akan menerapkan sistem tersebut. Yakni, Pasar Bitingan, Jember, Brayung, Jekulo, Piji dan Pasar Baru.

Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti melalui Kabid Pengelolaan Pasar Albertus Harys Yunanta mengatakan, dalam waktu dekat ini yang akan diterapkan E-retribusi yakni Pasar Bitingan, yang saat ini proses penyiapkan kartu.

”Ya masih dalam tahap pendataan, Pasar Bitingan Kudus terdiri atas 336 kios dan 2.229 los serta lesehan 43 petak di areal pelataran. Kami usahakan habis Lebaran sudah diterapkan e-retribusi ,” jelasnya.


Ia juga menjelaskan, penerapan e-retribusi ini memudahkan pedagang dalam membayar per bulannya dan antisipasi kecurangan petugas penarik retribusi, yang ada di pasar. Teknisnya, kartu e-retribusi sistemnya top up, seperti kartu e-tol.

”Ya pedagang nantinya mengisi saldo di kartu e-retribusi. Nanti, ada petugas laku pandai keliling untuk membantu pengisian kartu,” jelasnya.

Seperti hasil capaian PAD Pasar Kliwon yang sudah menerapkan e-retribusi. Pada tahun 2019 realisasinya Rp 1,1 miliar, kemudian 2020 naik menjadi Rp 1,3 miliar. Sementara itu, penerapan e-retribusi di Pasar Kliwon memang masih terbatas.

Pedagang yang berjualan di kios dan los, sedangkan pedagang lesehan belum diterapkan, karena jualannya tidak menentu atau pindah-pindah pasar jualannya. Tapi, pihaknya tetap memikirkan cara, agar lesehan bisa diterapkan e-retribusi.

Baca Juga :  Hilang Berbulan-bulan, Ternyata Malah Berduaan di Kos-Kosan

Ia menambahkan, adanya e-retribusi laporan pendapatannya tertata. Dan, meminimalisir kecurangan yang dilakukan petugas penarik retribusi. Harys mengatakan, melihat ada perubahan realisasi retribusi setelah ada e-retribusi maka pasar lainnya akan diterapkan juga.

Salah satu pedagang pakaian di Blok C lantai II Pasar Kliwon Wahdaniyah Ahyana, mengatakan kartu e-retribusi kalau pas jadwal pembayaran dibawa petugas pasar untuk digesek ke mesin yang ada di kantor pasar.

”Biasanya saya sekalian cek saldo yang ada di kartu itu masih cukup untuk membayar atau tidak. Dan, saya biasanya minta bantuan petugas tersebut untuk diisikan saldo. Hampir semua peagang seperti itu, jadi tidak merasa kesulitan,” jelasnya.

Ditambahkan, nominal tagihan retribusi tiap bulan sudah diberi tahu dengan diberikan surat ketetapan retribusi (SKR), Dani panggilan akrabnya sudah tahu nominal yang harus dibayarkan selama satu bulan.

”Berbeda dengan sebelum ada e-retribusi, ditarik setiap hari dan diberi karcis. Sekarang lebih enak, kalau sudah membayar juga diberi kuitansi. Jadi, pembayaran cukup aman,” tandasnya. (san/him)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Dinas Perdagangan Kudus saat ini sudah memilah-milah pasar tradisional yang nantinya diterapkan e-retribusi, setelah Pasar Kliwon. Sedikitnya ada enam pasar yang akan menerapkan sistem tersebut. Yakni, Pasar Bitingan, Jember, Brayung, Jekulo, Piji dan Pasar Baru.

Kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti melalui Kabid Pengelolaan Pasar Albertus Harys Yunanta mengatakan, dalam waktu dekat ini yang akan diterapkan E-retribusi yakni Pasar Bitingan, yang saat ini proses penyiapkan kartu.

”Ya masih dalam tahap pendataan, Pasar Bitingan Kudus terdiri atas 336 kios dan 2.229 los serta lesehan 43 petak di areal pelataran. Kami usahakan habis Lebaran sudah diterapkan e-retribusi ,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, penerapan e-retribusi ini memudahkan pedagang dalam membayar per bulannya dan antisipasi kecurangan petugas penarik retribusi, yang ada di pasar. Teknisnya, kartu e-retribusi sistemnya top up, seperti kartu e-tol.

”Ya pedagang nantinya mengisi saldo di kartu e-retribusi. Nanti, ada petugas laku pandai keliling untuk membantu pengisian kartu,” jelasnya.

Seperti hasil capaian PAD Pasar Kliwon yang sudah menerapkan e-retribusi. Pada tahun 2019 realisasinya Rp 1,1 miliar, kemudian 2020 naik menjadi Rp 1,3 miliar. Sementara itu, penerapan e-retribusi di Pasar Kliwon memang masih terbatas.

Pedagang yang berjualan di kios dan los, sedangkan pedagang lesehan belum diterapkan, karena jualannya tidak menentu atau pindah-pindah pasar jualannya. Tapi, pihaknya tetap memikirkan cara, agar lesehan bisa diterapkan e-retribusi.

Baca Juga :  Sif Pagi, 25 Kendaraan Wisata Diusir Dalam Rangka Pengetatan Nataru

Ia menambahkan, adanya e-retribusi laporan pendapatannya tertata. Dan, meminimalisir kecurangan yang dilakukan petugas penarik retribusi. Harys mengatakan, melihat ada perubahan realisasi retribusi setelah ada e-retribusi maka pasar lainnya akan diterapkan juga.

Salah satu pedagang pakaian di Blok C lantai II Pasar Kliwon Wahdaniyah Ahyana, mengatakan kartu e-retribusi kalau pas jadwal pembayaran dibawa petugas pasar untuk digesek ke mesin yang ada di kantor pasar.

”Biasanya saya sekalian cek saldo yang ada di kartu itu masih cukup untuk membayar atau tidak. Dan, saya biasanya minta bantuan petugas tersebut untuk diisikan saldo. Hampir semua peagang seperti itu, jadi tidak merasa kesulitan,” jelasnya.

Ditambahkan, nominal tagihan retribusi tiap bulan sudah diberi tahu dengan diberikan surat ketetapan retribusi (SKR), Dani panggilan akrabnya sudah tahu nominal yang harus dibayarkan selama satu bulan.

”Berbeda dengan sebelum ada e-retribusi, ditarik setiap hari dan diberi karcis. Sekarang lebih enak, kalau sudah membayar juga diberi kuitansi. Jadi, pembayaran cukup aman,” tandasnya. (san/him)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/