alexametrics
26.2 C
Kudus
Friday, May 13, 2022

Inovatif, Bumdes Gondosari Atasi Sampah dengan Bioreaktor Kapal Selam

KUDUS – Atasi persoalan sampah, Bumdes Gondosari berinovasi. Membuat bioreaktor kapal selam pengolah sampah. Dengan alat itu, sampah dari warga baik organik maupun anorganik diolah menjadi biogas, kompos, pupuk, hingga pestisida.

Kepala Desa Gondosari Aliya Himawati menyebut penggarapan alat dan sistem pengolah sampah dimulai sejak tahun lalu. Menghabiskan dana sekitar 1,2 milyar. Memanfaatkan dana desa hingga bantuan CSR.

“Tujuan pembuatan ini karena Bumdes kami bergerak pada bidang sampah sejak dulu. Kemudian sempat suatu ketika kami dikompain warga akibat sampah ini bau. Dari situ kami ada terobosan untuk mengolah sampah itu,” jelasnya.


Dengan rangkaian alat itu, menurutnya sehari pihaknya bisa mengolah 3-4 ton sampah. Itu berasal dari 1.100 rumah tangga yang kini telah menjadi pelanggan.

“Kami sudah tidak diperbolehkan untuk membuang sampah di TPA Tanjungrejo. Sehingga kami berupa mengelola sampah sendiri. Warga cukup membayar Rp 20 ribu/bulan. Nanti sampah mereka akan kami ambil,” terangnya.

Bambang Supriyanto pelaksana operasional Bumdes Gondosari Mukarabi  menjelaskan sampah-sampah yang diambil itu beragam. Baik organik hingga anorganik. Dari plastik, kardus, besi, kaleng, hingga kotoran hewan.

Dari jenis-jenis sampah itu dipilah. Sampah yang hernilai seperti botol dipilah untuk dijual. Sementara sampah organik dan kotoran ternak diolah menjadi biogas.

Baca Juga :  Kerap Cekcok, Bapak di Kudus Tega Bakar Istri dan Bayinya Hidup-hidup

“Biogas ini yang difungsikan untuk menggerakkan alat pencacah sampah. Alat tersebut yang nantinya mencacah sampah lain seperti plastik, pampers, kardus. Itu semua digiling sampai halus,” imbuhnya.

Setelah dicacah sampah itu dialirkan ke bioreaktor P 2. Itu merupakan kolam berbentuk persegi panjang. Ada delapan buah. Tiap satu kolam berukuran panjang lima meter dengan lebar dua meter. Dan tinggi 1,35 meter.

Di tempat itu sampah dipilah. Seperti sampah bekas industri tembakau, pampers, plastik dan organik. Kemudian dicampur dengan mikroba yang dialirkan dari bioreaktor P 1.

“Di kapal selam itulah proses pembuatan hasil akhir. Perlu waktu 24 hari. Sampai nantinya menghasilkan beberapa produk,” tambahnya.

Khusus di bioreaktor P 2 akan menghasilkan kompos padat, pupuk organik padat.  Sementara air dan gas yang dihasilkan dari bioreaktor hasil pengolahan di bioreaktor P 2 akan dialirkan ke bioreaktor P 3. Pada bioreaktor P3 inilah yang akan menjadi pupuk cair dan pestisida.

Bambang menambahkan hasil dari pengolahan tersebut akan dijual sehingga memiliki nilai ekonomis. Dan menjadi pemasukan bagi Bumdes.

“Intinya kami mengolah sampah untuk kepentingan lingkungan agar itu terurai. Dan kedua, menjadikan sampah ini bermanfaat. Serta memiliki nilai ekonomis,” katanya. (tos/him)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Atasi persoalan sampah, Bumdes Gondosari berinovasi. Membuat bioreaktor kapal selam pengolah sampah. Dengan alat itu, sampah dari warga baik organik maupun anorganik diolah menjadi biogas, kompos, pupuk, hingga pestisida.

Kepala Desa Gondosari Aliya Himawati menyebut penggarapan alat dan sistem pengolah sampah dimulai sejak tahun lalu. Menghabiskan dana sekitar 1,2 milyar. Memanfaatkan dana desa hingga bantuan CSR.

“Tujuan pembuatan ini karena Bumdes kami bergerak pada bidang sampah sejak dulu. Kemudian sempat suatu ketika kami dikompain warga akibat sampah ini bau. Dari situ kami ada terobosan untuk mengolah sampah itu,” jelasnya.

Dengan rangkaian alat itu, menurutnya sehari pihaknya bisa mengolah 3-4 ton sampah. Itu berasal dari 1.100 rumah tangga yang kini telah menjadi pelanggan.

“Kami sudah tidak diperbolehkan untuk membuang sampah di TPA Tanjungrejo. Sehingga kami berupa mengelola sampah sendiri. Warga cukup membayar Rp 20 ribu/bulan. Nanti sampah mereka akan kami ambil,” terangnya.

Bambang Supriyanto pelaksana operasional Bumdes Gondosari Mukarabi  menjelaskan sampah-sampah yang diambil itu beragam. Baik organik hingga anorganik. Dari plastik, kardus, besi, kaleng, hingga kotoran hewan.

Dari jenis-jenis sampah itu dipilah. Sampah yang hernilai seperti botol dipilah untuk dijual. Sementara sampah organik dan kotoran ternak diolah menjadi biogas.

Baca Juga :  Kurang Armada, Pemudik Terlunta-lunta hingga 10 Jam di Terminal Kudus

“Biogas ini yang difungsikan untuk menggerakkan alat pencacah sampah. Alat tersebut yang nantinya mencacah sampah lain seperti plastik, pampers, kardus. Itu semua digiling sampai halus,” imbuhnya.

Setelah dicacah sampah itu dialirkan ke bioreaktor P 2. Itu merupakan kolam berbentuk persegi panjang. Ada delapan buah. Tiap satu kolam berukuran panjang lima meter dengan lebar dua meter. Dan tinggi 1,35 meter.

Di tempat itu sampah dipilah. Seperti sampah bekas industri tembakau, pampers, plastik dan organik. Kemudian dicampur dengan mikroba yang dialirkan dari bioreaktor P 1.

“Di kapal selam itulah proses pembuatan hasil akhir. Perlu waktu 24 hari. Sampai nantinya menghasilkan beberapa produk,” tambahnya.

Khusus di bioreaktor P 2 akan menghasilkan kompos padat, pupuk organik padat.  Sementara air dan gas yang dihasilkan dari bioreaktor hasil pengolahan di bioreaktor P 2 akan dialirkan ke bioreaktor P 3. Pada bioreaktor P3 inilah yang akan menjadi pupuk cair dan pestisida.

Bambang menambahkan hasil dari pengolahan tersebut akan dijual sehingga memiliki nilai ekonomis. Dan menjadi pemasukan bagi Bumdes.

“Intinya kami mengolah sampah untuk kepentingan lingkungan agar itu terurai. Dan kedua, menjadikan sampah ini bermanfaat. Serta memiliki nilai ekonomis,” katanya. (tos/him)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/