alexametrics
29.4 C
Kudus
Friday, May 13, 2022

Tradisi Bulusan di Kudus Kembali Digelar, Pedagang Padati Pinggir Jalan

KUDUS – Dua tahun digelar secara terbatas, tradisi Bulusan tahun ini kembali diperuntukkan bagi masyarakat umum. Tradisi syawalan di Desa Hadipolo, Jekulo, itu bakal digelar pada Lebaran ketujuh atau Senin (9/5) nanti. Namun, keriuhan sudah terlihat. Para pedagang mulai memadati akses masuk dari Jalur Pantura menuju Makam Mbah Dudo yang terletak di Dukuh Sumber.

Para pedagang tersebut mendirikan lapak dengan membuat tenda di kanan dan kiri jalan sepanjang sekitar 600 meter. Sebagian telah menjajakan dagangannya. Lainnya belum. Beberapa dagangan yang dijual, seperti mainan miniatur truk, miniatur bulus, makanan, minuman, hingga pakaian.

Tak hanya itu, tampak pula wahana permainan, seperti komidi putar hingga pancing-pancingan. Meski siang hari, wahana permainan dan para pedagang itu, ramai dikunjungi warga. Selain mereka yang berbelanja atau bermain di wahana, beberapa warga terlihat antusias langsung menuju Makam Mbh Dudo. Mereka menengok bulus yang ada di sebelah barat makam.


Total ada tiga hewan mirip kura-kura dengan ukuran besar dan enam berukuran kecil. Terletak di sebuah kolam yang dipagari keliling. Di dalamnya juga ada tiga ikan lele yang menemani bulus-bulus itu. Ada beberapa warga yang melihat bulus sembari melempar uang.

Salah satu pedagang Tardi menyambut senang dengan kembali digelarnya tradisi Bulusan ini. Sebab, dia bisa kembali berdagang. Setelah dua tahun sebelumnya tak bisa berjualan, akibat adanya pembatasan pada tradisi Bulusan.

”Saya tak sengaja melihat mulai ramai dan ikut jualan. Sudah sejak dua hari ini. Kalau bulusannya hari ke-7 Lebaran. Tapi ini sudah mulai ramai. Terutama saat malam,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dukuh Sumber Fatoni mengatakan, tradisi Bulusan akan diadakan secara umum. Sebelumnya, selama dua tahun terakhir tradisi ini, hanya digelar terbatas. Tidak ada acara apa-apa. ”Rencananya tradisi Bulusan tahun ini akan diadakan lagi,” katanya.

Baca Juga :  Ribuan Warga Geruduk Makodim Kudus untuk Dapatkan Sembako Murah

Meski digelar untuk umum, panitia akan menerapkan sejumlah batasan bagi pengunjung. Batasan ini untuk memastikan protokol kesehatan tetap dilaksanakan selama tradisi berlangsung. Puncak acara tradisi bulusan ditandai kirab menuju Makam Mbah Dudo. Namun, tahun ini iring-iringan kirab hanya akan membawa satu gunungan.

Sementara itu, Desi, warga Desa Mejobo yang berkunjung menyebut, konon cerita bulus-bulus itu merupakan santri-santri Mbah Dudo yang disabda Sunan Muria menjadi bulus. Mbah Dudo pun meminta pertanggungjawaban atas sabda dari Sunan Muria. Disebutkan pada akhirnya Sunan Muria membawa bulus-bulus tersebut ke Dukuh Sumber.

Menurutnya, Sunan Muria berkata; kelak bulus-bulus tersebut akan diberi makan masyarakat. Oleh karenanya, hingga sekarang bagi masyarakat Dukuh Sumber ada tradisi Bulusan atau memberi makan bulus.

”Ini cerita orang tua secara turun-temurun. Mbah Buyut Dudo minta tanggung jawab. Dia tanya ke Kanjeng Sunan Muria bagaimana nanti makannya dan tempat tinggal bulus-bulus ini. Kemudian atas perintah Kanjeng Sunan Muria, mereka melakukan perjalanan sampai di sekitar sini. Lantas Mbh Dudo menancapkan kayu ini. Ternyata nyumber, inilah cikal bakal Dukuh Sumber. Hingga akhirnya santri yang menjadi bulus berada di sini,” terangnya.

”Selain itu, menurut Kanjeng Sunan Muria; kelak yang akan memberikan makan bulus-bulus itu masyarakat. Dari situlah ternyata secara tidak langsung masyarakat yang punya hajat mengirim bungkusan makanan untuk diberikan ke bulus,” ceritanya.

Dia menambahkan, dulunya bulusnya tidak di kolam. Namun, di sungai. Di bawah pohon yang terdapat kubangan. Tetapi karena pohonnnya tumbang, bulus dipindah di kolam. Saat tradisi bulusan, ketupat akan dilempar ke sungai. ”Bulus-bulus yang sebelumnya bersembunyi di bawah pohon dipanggil, lalu keluar makan ketupat,” imbuhnya. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Dua tahun digelar secara terbatas, tradisi Bulusan tahun ini kembali diperuntukkan bagi masyarakat umum. Tradisi syawalan di Desa Hadipolo, Jekulo, itu bakal digelar pada Lebaran ketujuh atau Senin (9/5) nanti. Namun, keriuhan sudah terlihat. Para pedagang mulai memadati akses masuk dari Jalur Pantura menuju Makam Mbah Dudo yang terletak di Dukuh Sumber.

Para pedagang tersebut mendirikan lapak dengan membuat tenda di kanan dan kiri jalan sepanjang sekitar 600 meter. Sebagian telah menjajakan dagangannya. Lainnya belum. Beberapa dagangan yang dijual, seperti mainan miniatur truk, miniatur bulus, makanan, minuman, hingga pakaian.

Tak hanya itu, tampak pula wahana permainan, seperti komidi putar hingga pancing-pancingan. Meski siang hari, wahana permainan dan para pedagang itu, ramai dikunjungi warga. Selain mereka yang berbelanja atau bermain di wahana, beberapa warga terlihat antusias langsung menuju Makam Mbh Dudo. Mereka menengok bulus yang ada di sebelah barat makam.

Total ada tiga hewan mirip kura-kura dengan ukuran besar dan enam berukuran kecil. Terletak di sebuah kolam yang dipagari keliling. Di dalamnya juga ada tiga ikan lele yang menemani bulus-bulus itu. Ada beberapa warga yang melihat bulus sembari melempar uang.

Salah satu pedagang Tardi menyambut senang dengan kembali digelarnya tradisi Bulusan ini. Sebab, dia bisa kembali berdagang. Setelah dua tahun sebelumnya tak bisa berjualan, akibat adanya pembatasan pada tradisi Bulusan.

”Saya tak sengaja melihat mulai ramai dan ikut jualan. Sudah sejak dua hari ini. Kalau bulusannya hari ke-7 Lebaran. Tapi ini sudah mulai ramai. Terutama saat malam,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dukuh Sumber Fatoni mengatakan, tradisi Bulusan akan diadakan secara umum. Sebelumnya, selama dua tahun terakhir tradisi ini, hanya digelar terbatas. Tidak ada acara apa-apa. ”Rencananya tradisi Bulusan tahun ini akan diadakan lagi,” katanya.

Baca Juga :  Gas Nonsubsidi Turun, Pembeli Kini Beralih ke Subsidi 3 Kilogram

Meski digelar untuk umum, panitia akan menerapkan sejumlah batasan bagi pengunjung. Batasan ini untuk memastikan protokol kesehatan tetap dilaksanakan selama tradisi berlangsung. Puncak acara tradisi bulusan ditandai kirab menuju Makam Mbah Dudo. Namun, tahun ini iring-iringan kirab hanya akan membawa satu gunungan.

Sementara itu, Desi, warga Desa Mejobo yang berkunjung menyebut, konon cerita bulus-bulus itu merupakan santri-santri Mbah Dudo yang disabda Sunan Muria menjadi bulus. Mbah Dudo pun meminta pertanggungjawaban atas sabda dari Sunan Muria. Disebutkan pada akhirnya Sunan Muria membawa bulus-bulus tersebut ke Dukuh Sumber.

Menurutnya, Sunan Muria berkata; kelak bulus-bulus tersebut akan diberi makan masyarakat. Oleh karenanya, hingga sekarang bagi masyarakat Dukuh Sumber ada tradisi Bulusan atau memberi makan bulus.

”Ini cerita orang tua secara turun-temurun. Mbah Buyut Dudo minta tanggung jawab. Dia tanya ke Kanjeng Sunan Muria bagaimana nanti makannya dan tempat tinggal bulus-bulus ini. Kemudian atas perintah Kanjeng Sunan Muria, mereka melakukan perjalanan sampai di sekitar sini. Lantas Mbh Dudo menancapkan kayu ini. Ternyata nyumber, inilah cikal bakal Dukuh Sumber. Hingga akhirnya santri yang menjadi bulus berada di sini,” terangnya.

”Selain itu, menurut Kanjeng Sunan Muria; kelak yang akan memberikan makan bulus-bulus itu masyarakat. Dari situlah ternyata secara tidak langsung masyarakat yang punya hajat mengirim bungkusan makanan untuk diberikan ke bulus,” ceritanya.

Dia menambahkan, dulunya bulusnya tidak di kolam. Namun, di sungai. Di bawah pohon yang terdapat kubangan. Tetapi karena pohonnnya tumbang, bulus dipindah di kolam. Saat tradisi bulusan, ketupat akan dilempar ke sungai. ”Bulus-bulus yang sebelumnya bersembunyi di bawah pohon dipanggil, lalu keluar makan ketupat,” imbuhnya. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/