alexametrics
27 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Nasabah Tolak Berdamai, KSP GMG Kudus Terancam Dipailitkan

KUDUS – Kreditur atau nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Giri Muria Group (GMG) menolak proposal perdamaian. Dalam sidang perkara di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor 28/Pdt.sus-PKPU/2021/PN.Niaga.Smg. Dengan begitu, koperasi ini terancam dipailitkan.

Sebelumnya, nama GMG mencuat setelah dianggap tidak mampu mengembalikan dana nasabah atau anggota koperasi yang semula tersimpan. Usai adanya masalah itu, akhirnya para kreditur menuntut pengembalian uang dengan menempuh jalur penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang.

Kuasa hukum kreditur GMG Yusuf Istanto menyebut, langkah tersebut diambil menyusul tidak ada kepastian dari GMG terkait pengembalian dana tabungan anggota. Total ada 15 nasabah GMG yang dia diadvokasi. Mereka mengaku mengalami kerugian Rp 13 miliar.


”Di pengadilan niaga GMG diharuskan mengajukan usulan perdamaian baru setelah usulan pertama ditolak. Tetapi, hingga sidang pagi ini (kemarin pagi, Red) GMG tidak mengajukan usulan baru, sehingga rapat secara aklamasi menolak rencana perdamaian GMG,” katanya.

Sebelumnya voting sudah dilakukan. Saat itu, pihaknya sedari awal menolak proposal perdamaian dari GMG, karena dinilai tak masuk akal. Sebab, dijanjikan pengembalian dalam rentang waktu yang sangat panjang. Mencapai delapan tahun. Padahal, pada kesempatan sebelumnya, GMG berjanji menyelesaikan tanggungannya hanya setahun.

”Tawaran ini tidak masuk akal. Nah, atas opsi ini kami tentu menolak. Sehingga langkah kami mendorong agar GMG dipailitkan saja. Namun, waktu itu secara voting saya kalah suara. Sehingga ada perpanjangan perdamaian sampai 7 Januari,” katanya.

Baca Juga :  90 Persen Wisudawan MPD UMK Tembus Jurnal Internasional

Namun hingga rapat pembahasan rencana perdamaian ke-6 dan pemungutan suara kemarin (4/1), pihak GMG tak lagi mengajukan proposal perdamaian. Sehingga para kreditur dan kuasa hukum kreditur yang hadir dalam sidang di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang itu, kompak menolak proposal perdamaian.

”Kami menganggap GMG masih pakai usulan lama, sehingga peserta rapat secara aklamasi menolak usulan perdamaian. Artinya, ke depan kami mendorong agar GMG dipailitkan,” katanya.

Teguh Santoso, kuasa hukum dari kreditur lain menjelaskan, sidang kali ini sifatnya baru rapat kreditur. Setelah diberikan penjelasan oleh hakim pengawas dan tim pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), para kreditur masing-masing memutuskan menolak/menerima proposal perdamaian.

”Hasilnya, semua kreditur maupun kuasa hukum menyatakan menolak proposal perdamaian. Selanjutnya, oleh hakim pengawas akan melaporkan kepada majelis hakim untuk diputuskan terkait pailit,” ujarnya.

Dia mengaku menjadi kuasa hukum dari enam kreditur. Menurutnya para kliennya mengaku dirugikan dengan total mencapai Rp 1 miliar.

”Kamis GMG akan diusulkan untuk kepailitan. Jumatnya ada rapat permusyawaratan majelis,” imbuhnya.

Sementara itu, pemilik KSP GMG Alfi Hidayat saat dimintai keterangan tidak merespon. Saat dihubungi wartawan koran ini, kontak yang bersangkutan tidak aktif. (lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Kreditur atau nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Giri Muria Group (GMG) menolak proposal perdamaian. Dalam sidang perkara di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang Nomor 28/Pdt.sus-PKPU/2021/PN.Niaga.Smg. Dengan begitu, koperasi ini terancam dipailitkan.

Sebelumnya, nama GMG mencuat setelah dianggap tidak mampu mengembalikan dana nasabah atau anggota koperasi yang semula tersimpan. Usai adanya masalah itu, akhirnya para kreditur menuntut pengembalian uang dengan menempuh jalur penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang.

Kuasa hukum kreditur GMG Yusuf Istanto menyebut, langkah tersebut diambil menyusul tidak ada kepastian dari GMG terkait pengembalian dana tabungan anggota. Total ada 15 nasabah GMG yang dia diadvokasi. Mereka mengaku mengalami kerugian Rp 13 miliar.

”Di pengadilan niaga GMG diharuskan mengajukan usulan perdamaian baru setelah usulan pertama ditolak. Tetapi, hingga sidang pagi ini (kemarin pagi, Red) GMG tidak mengajukan usulan baru, sehingga rapat secara aklamasi menolak rencana perdamaian GMG,” katanya.

Sebelumnya voting sudah dilakukan. Saat itu, pihaknya sedari awal menolak proposal perdamaian dari GMG, karena dinilai tak masuk akal. Sebab, dijanjikan pengembalian dalam rentang waktu yang sangat panjang. Mencapai delapan tahun. Padahal, pada kesempatan sebelumnya, GMG berjanji menyelesaikan tanggungannya hanya setahun.

”Tawaran ini tidak masuk akal. Nah, atas opsi ini kami tentu menolak. Sehingga langkah kami mendorong agar GMG dipailitkan saja. Namun, waktu itu secara voting saya kalah suara. Sehingga ada perpanjangan perdamaian sampai 7 Januari,” katanya.

Baca Juga :  Sepuluh SMP Rusak di Kudus segera Direhab, Ini Daftarnya

Namun hingga rapat pembahasan rencana perdamaian ke-6 dan pemungutan suara kemarin (4/1), pihak GMG tak lagi mengajukan proposal perdamaian. Sehingga para kreditur dan kuasa hukum kreditur yang hadir dalam sidang di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang itu, kompak menolak proposal perdamaian.

”Kami menganggap GMG masih pakai usulan lama, sehingga peserta rapat secara aklamasi menolak usulan perdamaian. Artinya, ke depan kami mendorong agar GMG dipailitkan,” katanya.

Teguh Santoso, kuasa hukum dari kreditur lain menjelaskan, sidang kali ini sifatnya baru rapat kreditur. Setelah diberikan penjelasan oleh hakim pengawas dan tim pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), para kreditur masing-masing memutuskan menolak/menerima proposal perdamaian.

”Hasilnya, semua kreditur maupun kuasa hukum menyatakan menolak proposal perdamaian. Selanjutnya, oleh hakim pengawas akan melaporkan kepada majelis hakim untuk diputuskan terkait pailit,” ujarnya.

Dia mengaku menjadi kuasa hukum dari enam kreditur. Menurutnya para kliennya mengaku dirugikan dengan total mencapai Rp 1 miliar.

”Kamis GMG akan diusulkan untuk kepailitan. Jumatnya ada rapat permusyawaratan majelis,” imbuhnya.

Sementara itu, pemilik KSP GMG Alfi Hidayat saat dimintai keterangan tidak merespon. Saat dihubungi wartawan koran ini, kontak yang bersangkutan tidak aktif. (lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/