alexametrics
29.3 C
Kudus
Thursday, August 4, 2022

Bikin Sanak Kadang, Pemkab Kudus Komitmen untuk Cegah Stunting

KUDUS – Pemkab Kudus terus berkomitmen menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Stunting. Keseriusan ini ditunjukkan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melalui inovasi program Selamatkan Ibu dan Anak, Kawal dengan Aksi Pelayanan Optimal Berkesinambungan (Sanak Kadang).

Plt Kepala DKK Kudus dokter Andini Aridewi menjelaskan, upaya penurunan AKI, AKB dan stunting menjadi program prioritas pemerintah. Program ini menjadi PR bersama yang membutuhkan sinergi dari seluruh stakeholder. Maka dari itu melalui inovasi Cegah Stunting dengan Aksi Deteksi Unggul (Candu) Pengantin dilaksanakan melalui edukasi kepada calon pengantin.

“Candu Pengantin adalah salah satu inovasi dari sebelas inovasi program Sanak Kadang oleh DKK. Belum lagi tiap Puskesmas juga memiliki inovasi program masing-masing untuk menurunkan tiga kasus (red AKI, AKB dan stunting) tersebut,” jelasnya.


Dia juga menyampaikan, jumlah kasus kematian ibu 2021 mencapai 21 kasus. Angka tersebut terpicu akibat pandemi yang terjadi, sehingga 16 kematian karena Covid-19, dan lima kasus lainnya akibat penyakit bawaan. Sementara, tahun 2022 sampai Juli tercatat sebanyak 10 kasus.

Baca Juga :  PPP Kudus Rayakan Puncak Harlah ke-49 dengan Ziarah dan Doa Bersama

Untuk mendukung program tersebut, maka digelar penandatanganan komitmen dan nota kesepakatan dari DKK dengan TP PKK Kabupaten Kudus di At Hom Hotel Kudus, kemarin (3/8).

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Mawar Anggraeni mengatakan kegiatan PKK memiliki peran dalam memberikan edukasi pada perempuan di desa. Pihaknya, membantu menggerakkan program dari DKK, yang berkaitan edukasi kesehatan dalam mempersiapkan masa pra nikah hingga pascamelahirkan.

“Inovasi yang luar biasa dari DKK, ada aplikasi edukasi kesehatan ibu dari hamil sampai melahirkan semua ada di situ. Dengan komitmen bersama-sama menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan angka stunting,” kata Mawar.

Dia mengaku turut prihatin dengan adanya kasus kematian ibu melahirkan. Dari hasil pengamatannya di lapangan, beberapa kematian ibu di Kudus disebabkan karena penyakit bawaan.

“Mari bersama-sama berupaya nihilkan angka kematian ibu/bayi. Semua dapat dicegah dengan edukasi kepada pasangan sebelum pernikahan sampai melahirkan,” katanya. (san/mal)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Pemkab Kudus terus berkomitmen menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Stunting. Keseriusan ini ditunjukkan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melalui inovasi program Selamatkan Ibu dan Anak, Kawal dengan Aksi Pelayanan Optimal Berkesinambungan (Sanak Kadang).

Plt Kepala DKK Kudus dokter Andini Aridewi menjelaskan, upaya penurunan AKI, AKB dan stunting menjadi program prioritas pemerintah. Program ini menjadi PR bersama yang membutuhkan sinergi dari seluruh stakeholder. Maka dari itu melalui inovasi Cegah Stunting dengan Aksi Deteksi Unggul (Candu) Pengantin dilaksanakan melalui edukasi kepada calon pengantin.

“Candu Pengantin adalah salah satu inovasi dari sebelas inovasi program Sanak Kadang oleh DKK. Belum lagi tiap Puskesmas juga memiliki inovasi program masing-masing untuk menurunkan tiga kasus (red AKI, AKB dan stunting) tersebut,” jelasnya.

Dia juga menyampaikan, jumlah kasus kematian ibu 2021 mencapai 21 kasus. Angka tersebut terpicu akibat pandemi yang terjadi, sehingga 16 kematian karena Covid-19, dan lima kasus lainnya akibat penyakit bawaan. Sementara, tahun 2022 sampai Juli tercatat sebanyak 10 kasus.

Baca Juga :  Pertama di Indonesia, Mushaf Akbar Diresmikan di Hari Museum Nasional

Untuk mendukung program tersebut, maka digelar penandatanganan komitmen dan nota kesepakatan dari DKK dengan TP PKK Kabupaten Kudus di At Hom Hotel Kudus, kemarin (3/8).

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Mawar Anggraeni mengatakan kegiatan PKK memiliki peran dalam memberikan edukasi pada perempuan di desa. Pihaknya, membantu menggerakkan program dari DKK, yang berkaitan edukasi kesehatan dalam mempersiapkan masa pra nikah hingga pascamelahirkan.

“Inovasi yang luar biasa dari DKK, ada aplikasi edukasi kesehatan ibu dari hamil sampai melahirkan semua ada di situ. Dengan komitmen bersama-sama menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan angka stunting,” kata Mawar.

Dia mengaku turut prihatin dengan adanya kasus kematian ibu melahirkan. Dari hasil pengamatannya di lapangan, beberapa kematian ibu di Kudus disebabkan karena penyakit bawaan.

“Mari bersama-sama berupaya nihilkan angka kematian ibu/bayi. Semua dapat dicegah dengan edukasi kepada pasangan sebelum pernikahan sampai melahirkan,” katanya. (san/mal)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/