alexametrics
31.8 C
Kudus
Tuesday, July 26, 2022

Ngetren, Jumlah Perajin Ecoprint di Kudus Semakin Meningkat

KUDUS – Ecoprint saat ini mulai dilirik perajin batik. Hal tersebut, dibuktikan dari meningkatnya jumlah perajin serius menekuni batik ecoprint tersebut.

Komunitas ecoprint selaku wadah dari para pembatik mencatatkan kenaikan jumlah pembatik. Kenaikan jumlah pembatik, bahkan telah mencapai tiga kali lipat. Ecoprint mulai dikenalkan di Kudus 2020 lalu, dari yang hanya sembilan orang perajin, kini sudah ada 33 orang yang serius menekuni dunia ecoprint.

Founder Komunitas Batik Ecoprint Kudus Helma Susanti mengatakan mayoritas perajin batik ecoprint seorang penjahit. Ini satu hal baik untuk kemajuan batik ecoprint.


“Mereka membuat batik ecoprint, kemudian menjahitnya menjadi komoditas baju hingga produk lainnya seperti tas, sandal, hingga dompet. Langkah bagus untuk lebih mengenalkan batik ecoprint di masyarakat,” imbuhnya.

Baca Juga :  Peringati Harlah Ke-52, SMA NU Al Ma’ruf Kudus Resmikan Al Ma’ruf Mart
DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS

Helma mengungkapkan, sistem seperti ini juga bisa menguntungkan para pembatik. Mereka akan mendapat nilai lebih atas komoditas yang mereka ciptakan. Ecoprint ini sebenarnya sangat potensial, hampir sama seperti batik tulis.

“Satu kain ecoprint sepanjang dua meteran itu bernilai Rp 250 ribu. Semisal telah dibuat produk jadi seperti pakaian, harganya bisa naik sampai dua kali lipat,” kata Helma.

Batik ecoprint hanya menggunakan pewarna dari alam dan tanpa campuran bahan pewarna tekstil pabrikan. Biasanya, warna-warna diambil dari daun seperti betadine, daun jati, jambu, hingga daun lanang. Masing-masing daun, akan memiliki warna yang berbeda-beda. Untuk daun pohon jati, akan berwarna ungu. Sementara daun jambu biasanya berwarna kehitaman. (san/mal)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Ecoprint saat ini mulai dilirik perajin batik. Hal tersebut, dibuktikan dari meningkatnya jumlah perajin serius menekuni batik ecoprint tersebut.

Komunitas ecoprint selaku wadah dari para pembatik mencatatkan kenaikan jumlah pembatik. Kenaikan jumlah pembatik, bahkan telah mencapai tiga kali lipat. Ecoprint mulai dikenalkan di Kudus 2020 lalu, dari yang hanya sembilan orang perajin, kini sudah ada 33 orang yang serius menekuni dunia ecoprint.

Founder Komunitas Batik Ecoprint Kudus Helma Susanti mengatakan mayoritas perajin batik ecoprint seorang penjahit. Ini satu hal baik untuk kemajuan batik ecoprint.

“Mereka membuat batik ecoprint, kemudian menjahitnya menjadi komoditas baju hingga produk lainnya seperti tas, sandal, hingga dompet. Langkah bagus untuk lebih mengenalkan batik ecoprint di masyarakat,” imbuhnya.

Baca Juga :  Alquran Termini Bisa Terbaca dengan Kaca Pembesar
DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS

Helma mengungkapkan, sistem seperti ini juga bisa menguntungkan para pembatik. Mereka akan mendapat nilai lebih atas komoditas yang mereka ciptakan. Ecoprint ini sebenarnya sangat potensial, hampir sama seperti batik tulis.

“Satu kain ecoprint sepanjang dua meteran itu bernilai Rp 250 ribu. Semisal telah dibuat produk jadi seperti pakaian, harganya bisa naik sampai dua kali lipat,” kata Helma.

Batik ecoprint hanya menggunakan pewarna dari alam dan tanpa campuran bahan pewarna tekstil pabrikan. Biasanya, warna-warna diambil dari daun seperti betadine, daun jati, jambu, hingga daun lanang. Masing-masing daun, akan memiliki warna yang berbeda-beda. Untuk daun pohon jati, akan berwarna ungu. Sementara daun jambu biasanya berwarna kehitaman. (san/mal)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/