alexametrics
25.6 C
Kudus
Thursday, July 28, 2022

Membanggakan! Komunitas Seni Samar Asal Kudus Terpilih Pentas di Galeri Indonesia Kaya

KUDUS – Komunitas Seni Samar terbentuk 1998, yang beranggotakan beragam latar belakang, dari anak sekolah, mahasiswa, petani, pedagang, security, tukang jahit, buruh pabrik, dan buruh bangunan. Mereka secara rutin berproses kreatif, menghasilkan karya-karya yang dapat diapreasiasikan pada masyarakat.

Awal mula, Komunitas Teater Samar yang beralamat di Omahe Mae, Desa Besito, Gebog, Kudus, kini dalam perkembangannya berubah menjadi Komunitas Seni Samar. Alamatnya di Omah Pencu, Jalan Anggrek, Panjang Kidul, Desa Panjang, Kecamatan Bae.

Dalam proses kreatifnya, Komunitas Seni Samar banyak menggunakan karya-karya sendiri namun sering juga menggunakan beberapa karya dari penulis lakon terkenal lainnya.
Pendiri Komunitas Seni Samar sekaligus Dewan Pembina Gunadi Siswo Nugroho mengatakan pandemi tetap berkarya dan latihan dengan disiplin.


”Komunitas Seni Samar keanggotaannya lebih dari 300 orang. Kami tidak ada senioritas. Semua sama. Kalau gabung belajar seni teater boleh tapi kalau diakui sebagai anggota itu harus mengikuti tiga kali garapan atau pentas teater,” ungkapnya.

Komunitas Seni Samar sering mendapatkan undangan atau lawatan pentas diberbagai daerah seperti di Semarang, Magelang, Kendal, Tegal, Pati dan Jepara.


Gunadi mengatakan, komunitas yang dibinanya ini tidak diperkenankan untuk ikut kompetisi, karya-karya Komunitas Seni Samar ini hanya untuk lawatan.

Terakhir pentas di Batealit, Jepara dalam rangka Artsotika Muria ke-3 membawakan cerita Rananggana. Gunadi mengatakan, selama pandemi masih beberapa kali pertunjukan meski secara virtual dan sebelum pandemi pentas di TVRI.

Karya Komunitas Seni Samar pentas daring Ruang Kreatif di http://www.indonesiakaya.com 2019 karya Leo Katarsis bertajuk ”Bregada Merudhandha”. Bregada Manyura adalah pasukan pilihan Medhang Bhumi Mataram. Pengabdi setia Ratu Sanjaya. Gunadi menerangkan, lebih suka menggarap lakon-lakon sendiri, artinya persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, didiskusikan, dan dikerucutkan.

”Ada beberapa teman yang bertugas membuat naskah. Salah satunya saya. Menggali ruang yang lebih mendasar. Ingin menggali ruang metologis yang ada di lingkungan sekitar. Selama ini sering Legenda itu hanya dipotret dasarnya saja, tapi asal muasal kenapa bisa muncul cerita itu dan sebagainya tidak pernah digali lebih jauh,” jelasnya.

Misalnya, Gunung Muria, ketika membaca berita di koran keprihatinan masyarakat terkait kerusakan muria, kekurangan air, dan lainnya. Teman-teman diminta Gunadi untuk surve, mengumpulkan data dan melihat langsung kondisi masyarakat. Dari ruang itu berpikir apa yang harus dilakukan.

Baca Juga :  Gus Mus Pamerkan Empat Karya Cerita Perjalan Istigotsah

”Kami kampayekan menjaga lingkungan sehingga muncul Rananggana di tahun 2018. Ketika mereka pentas di atas panggung, tidak hanya menyuarakan teks yang mereka hafalkan, tapi lebih menyuarakan kegelisahan yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, itulah alasannya memilih lakon sendiri, jadi apa yang Komunitas Seni Samar potret di masyarakat, kondisi sosial masyarakat kemudian disampaikan lewat pertujukan teater.

”Rananggana tiga tahun ternyata masih bertahan dengan karya yang berbeda-beda. Rencana Juli 2022, diminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus untuk mengisi acara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),” jelasnya.

Dalam pewayangan Rananggana dikatakan sebagai palagan (medan pertempuran). Tapi, pernah mendapatkan beberapa tulisan tentang Rananggana adalah awal keberangkatan Kudus, jauh sebelum bernama Kudus, daerah tersebut bernama Rananggana.

Lanjut, Gunadi membaca dari kronik (catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya). Diambil dari cucu dari Ratu Shima, yang disebut Hang Anggana, terakhir bermukim kawasan Kudus.

Sebetulnya gagasan dari kegelisahan terhadap kawasan Muria dan mencoba ruang metologisnya, kenapa bernama Muria, termasuk cari tahu benarkah Muria itu terpisah dari Jawa, kenapa kebudayaan berbeda.

”Ini kegelisahan kami bersama teman-teman yang berada di Jepara, Pati, diskusi panjang dari 2005 sampai mucul gagasan Artsotika Muria, sekarang ini memasuki tahun keempat,” jelasnya.

Komitmen Gandeng Seniman Kudus ke Pentas Nasional

Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus terus berkomitmen menggandeng seniman di Kudus. Yakni dengan berkomunikasi serta berdiskusi dengan mereka, karena karya-karyanya juga mampu membawa nama Kudus ke kancah kebudayaan sampai nasional.

Plt Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah mengatakan seperti Komunitas Seni Samar yang baru-baru ini pentas di Kudus Festival.

”Ya ada seni barongan, kemudian seni tari dari sanggar-sanggar yang ada di Kudus. Kami hanya bisa berkontribusinya seperti itu (mengkomunikasikan). Kami tetap mendukung. Kondisi anggaran di kami adalah bukan anggaran wajib tapi anggaran pilihan, belum memberikan kepuasan pada seluruh masyarakat untuk support. Apapun itu Disbudpar ini sebagai pembinanya,” jelasnya.

Misalkan, kalau Disbudpar belum sempat komunikasi dengan semua seniman, maka agar bisa inisiatif untuk melakukan komunikasi lebih dulu dengan Disbudpar. Ia mengaku, kekurangan anggaran sehingga bisa membantu dengan suport memberikan informasi dan mengajak pentas ke nasional. (san/zen)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Komunitas Seni Samar terbentuk 1998, yang beranggotakan beragam latar belakang, dari anak sekolah, mahasiswa, petani, pedagang, security, tukang jahit, buruh pabrik, dan buruh bangunan. Mereka secara rutin berproses kreatif, menghasilkan karya-karya yang dapat diapreasiasikan pada masyarakat.

Awal mula, Komunitas Teater Samar yang beralamat di Omahe Mae, Desa Besito, Gebog, Kudus, kini dalam perkembangannya berubah menjadi Komunitas Seni Samar. Alamatnya di Omah Pencu, Jalan Anggrek, Panjang Kidul, Desa Panjang, Kecamatan Bae.

Dalam proses kreatifnya, Komunitas Seni Samar banyak menggunakan karya-karya sendiri namun sering juga menggunakan beberapa karya dari penulis lakon terkenal lainnya.
Pendiri Komunitas Seni Samar sekaligus Dewan Pembina Gunadi Siswo Nugroho mengatakan pandemi tetap berkarya dan latihan dengan disiplin.

”Komunitas Seni Samar keanggotaannya lebih dari 300 orang. Kami tidak ada senioritas. Semua sama. Kalau gabung belajar seni teater boleh tapi kalau diakui sebagai anggota itu harus mengikuti tiga kali garapan atau pentas teater,” ungkapnya.

Komunitas Seni Samar sering mendapatkan undangan atau lawatan pentas diberbagai daerah seperti di Semarang, Magelang, Kendal, Tegal, Pati dan Jepara.


Gunadi mengatakan, komunitas yang dibinanya ini tidak diperkenankan untuk ikut kompetisi, karya-karya Komunitas Seni Samar ini hanya untuk lawatan.

Terakhir pentas di Batealit, Jepara dalam rangka Artsotika Muria ke-3 membawakan cerita Rananggana. Gunadi mengatakan, selama pandemi masih beberapa kali pertunjukan meski secara virtual dan sebelum pandemi pentas di TVRI.

Karya Komunitas Seni Samar pentas daring Ruang Kreatif di http://www.indonesiakaya.com 2019 karya Leo Katarsis bertajuk ”Bregada Merudhandha”. Bregada Manyura adalah pasukan pilihan Medhang Bhumi Mataram. Pengabdi setia Ratu Sanjaya. Gunadi menerangkan, lebih suka menggarap lakon-lakon sendiri, artinya persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, didiskusikan, dan dikerucutkan.

”Ada beberapa teman yang bertugas membuat naskah. Salah satunya saya. Menggali ruang yang lebih mendasar. Ingin menggali ruang metologis yang ada di lingkungan sekitar. Selama ini sering Legenda itu hanya dipotret dasarnya saja, tapi asal muasal kenapa bisa muncul cerita itu dan sebagainya tidak pernah digali lebih jauh,” jelasnya.

Misalnya, Gunung Muria, ketika membaca berita di koran keprihatinan masyarakat terkait kerusakan muria, kekurangan air, dan lainnya. Teman-teman diminta Gunadi untuk surve, mengumpulkan data dan melihat langsung kondisi masyarakat. Dari ruang itu berpikir apa yang harus dilakukan.

Baca Juga :  Meski Waswas, Siswa SD di Kudus Ini Terpaksa Bertahan di Bawah Atap Rusak

”Kami kampayekan menjaga lingkungan sehingga muncul Rananggana di tahun 2018. Ketika mereka pentas di atas panggung, tidak hanya menyuarakan teks yang mereka hafalkan, tapi lebih menyuarakan kegelisahan yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, itulah alasannya memilih lakon sendiri, jadi apa yang Komunitas Seni Samar potret di masyarakat, kondisi sosial masyarakat kemudian disampaikan lewat pertujukan teater.

”Rananggana tiga tahun ternyata masih bertahan dengan karya yang berbeda-beda. Rencana Juli 2022, diminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus untuk mengisi acara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),” jelasnya.

Dalam pewayangan Rananggana dikatakan sebagai palagan (medan pertempuran). Tapi, pernah mendapatkan beberapa tulisan tentang Rananggana adalah awal keberangkatan Kudus, jauh sebelum bernama Kudus, daerah tersebut bernama Rananggana.

Lanjut, Gunadi membaca dari kronik (catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya). Diambil dari cucu dari Ratu Shima, yang disebut Hang Anggana, terakhir bermukim kawasan Kudus.

Sebetulnya gagasan dari kegelisahan terhadap kawasan Muria dan mencoba ruang metologisnya, kenapa bernama Muria, termasuk cari tahu benarkah Muria itu terpisah dari Jawa, kenapa kebudayaan berbeda.

”Ini kegelisahan kami bersama teman-teman yang berada di Jepara, Pati, diskusi panjang dari 2005 sampai mucul gagasan Artsotika Muria, sekarang ini memasuki tahun keempat,” jelasnya.

Komitmen Gandeng Seniman Kudus ke Pentas Nasional

Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus terus berkomitmen menggandeng seniman di Kudus. Yakni dengan berkomunikasi serta berdiskusi dengan mereka, karena karya-karyanya juga mampu membawa nama Kudus ke kancah kebudayaan sampai nasional.

Plt Kepala Disbudpar Kudus Mutrikah mengatakan seperti Komunitas Seni Samar yang baru-baru ini pentas di Kudus Festival.

”Ya ada seni barongan, kemudian seni tari dari sanggar-sanggar yang ada di Kudus. Kami hanya bisa berkontribusinya seperti itu (mengkomunikasikan). Kami tetap mendukung. Kondisi anggaran di kami adalah bukan anggaran wajib tapi anggaran pilihan, belum memberikan kepuasan pada seluruh masyarakat untuk support. Apapun itu Disbudpar ini sebagai pembinanya,” jelasnya.

Misalkan, kalau Disbudpar belum sempat komunikasi dengan semua seniman, maka agar bisa inisiatif untuk melakukan komunikasi lebih dulu dengan Disbudpar. Ia mengaku, kekurangan anggaran sehingga bisa membantu dengan suport memberikan informasi dan mengajak pentas ke nasional. (san/zen)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/