alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Melihat Cara Kerja Petugas Tilang Elektronik

KUDUS – Sistem tilang sekarang memang sudah canggih. Menggunakan tilang elektronik (E-TLE). Namun, pengerjaan menangkap pelanggar lalu lintas masih manual.

Di traffic managemen center (TMC) Satlantas Polres Kudus ada tiga petugas yang selalu memelototi tiga layar monitor yang terpampang di tembok. Mereka bersiap apabila dari pantauan monitor terlihat ada pelanggar lalu lintas.

Cara ini memang sudah menggunakan piranti komputer yang terhubung dengan CCTV di sejumlah titik. Namun, cara kerjanya masih manual. Petugas akan men-screenshoot tiap pengendara yang melanggar. Jadi, tidak bisa otomatis bisa mendeteksi pelanggar lalu lintas.


Hasil dari screenshoot itu, kemudian akan jadi barang bukti penilangan. Yang kemudian dicetak bersama surat keterangan tilang. Lengkap dengan identitas pemilik kendaraan. Yang datanya diperoleh dari pelat nomor. Dan diketahui nama pemilik serta identitasnya di database yang berbasis online.

Surat tilang bersama bukti itu, kemudian dikemas dalam amplop dan dikirim ke alamat pemilik kendaraan melalui Kantor Pos. Itu biasanya terakumulasi tiap sore. Dan paginya dari pihak Pos akan langsung mengantarkan surat tilang itu.

Itulah cara kerja Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE). Di Kudus ada lima titik E-TLE. Yang berada di traffic light Bejagan, traffic light Penthol, traffic light Barongan, traffic light Simpang Tujuh, dan traffic light DPRD. Lima titik itulah yang dipantau di layar monitor di TMC Satlantas Polres Kudus.

Pantauan wartawan koran ini, di TMC tersebut sejak sekitar pukul 14.00 sampai 15.00 terlihat ada lima pelanggar. Di antaranya, tidak memakai helm, melanggar marka jalan, dan sengaja tidak memakai pelat nomor.

Menurut Briptu Firmanzah, petugas pemantauan E-TLE memang ada yang sengaja tidak memasang atau mencopot pelat nomor. Dengan kondisi demikian, meski terekam E-TLE pelanggaran tersebut tak dapat diproses. Terkecuali jika itu terekam oleh Kopek. Maka petugas akan langsung menilang secara langsung di tempat.

”Karena jika cuma direkam dan tak ada pelat nomor, kami tak tahu datanya. Siapa pemiliknya dan ke mana mengirim surat tilangnya,” ujarnya.

Baca Juga :  SDN 2 Tenggeles Kudus Kemalingan, Laptop dan Uang BOS Raib

Selama diterapkan sejak 23 Maret hingga kini, total ada sekitar 600-an pelanggar yang terekam. Dari jumlah itu, 70 persen telah dikirimi surat tilang. Namun hanya 50 persen dari total itu yang mengonfirmasi. Sementara sisanya, sekitar 150 pengendara yang tak konfirmasi diblokir STNK-nya.

Selain ada pelanggar yang sengaja tidak memasang pelat, juga ada pelanggar yang kaget menerima surat tilang di rumah. Mereka biasanya tidak sadar atau mengabaikan jika sistem penilangan dengan E-TLE dan KOPEK memang ada.

”Mereka mengira itu (E-TLE, Red) tidak jalan. Jadi, terkadang kaget ketika STNK-nya kami blokir. Ada yang marah-marah. Biasanya mereka akan langsung datang ke kantor (Satlantas, Red) untuk meminta penjelasan. Kami arahkan untuk mengurus di pengadilan atau pas nanti perpanjangan pajak,” imbuhnya.

Selain pantauan melalui lima titik itu, penilangan juga memakai inovasi Kopek (Kamera Portable Penindakan Pelanggaran Kendaraan Bermotor). Inovasi Kopek bertujuan untuk meng-cover wilayah yang belum terpasang kamera E-TLE.

Cara yang diterapkan dengan memasang kamera itu, di helm milik polisi lalu lintas (polantas). Kamera yang terpasang di helm polisi akan memotret pelanggar lalu lintas beserta nomor kendaraannya. Bukti foto pelanggaran itu, kemudan akan terekam. Selanjutnya dicetak.

”Cara kerjanya kurang lebih sama dengan E-TLE. Memotret dan merekam, lalu dicetak. Dan dikirim ke alamat pelanggar,” ungkapnya Briptu Firmanzah, petugas pemantauan E-TLE.

Di Kudus total ada 145 Kopek. Biasanya polisi akan berkeliling di jalan-jalan yang tidak ter-cover oleh E-TLE untuk menertibkan pengendara. Patroli menggunakan Kopek dilakukan secara bergilir oleh anggota kepolisian.

”Kamera Kopek terpasang pada helm kendaraan patroli roda dua untuk merekam pelanggaran lalu lintas. Kameranya tersambung dengan handphone petugas. Kalau ada pelanggaran, petugas tinggal meng-klik HP-nya,” terangnya. (tos)

KUDUS – Sistem tilang sekarang memang sudah canggih. Menggunakan tilang elektronik (E-TLE). Namun, pengerjaan menangkap pelanggar lalu lintas masih manual.

Di traffic managemen center (TMC) Satlantas Polres Kudus ada tiga petugas yang selalu memelototi tiga layar monitor yang terpampang di tembok. Mereka bersiap apabila dari pantauan monitor terlihat ada pelanggar lalu lintas.

Cara ini memang sudah menggunakan piranti komputer yang terhubung dengan CCTV di sejumlah titik. Namun, cara kerjanya masih manual. Petugas akan men-screenshoot tiap pengendara yang melanggar. Jadi, tidak bisa otomatis bisa mendeteksi pelanggar lalu lintas.

Hasil dari screenshoot itu, kemudian akan jadi barang bukti penilangan. Yang kemudian dicetak bersama surat keterangan tilang. Lengkap dengan identitas pemilik kendaraan. Yang datanya diperoleh dari pelat nomor. Dan diketahui nama pemilik serta identitasnya di database yang berbasis online.

Surat tilang bersama bukti itu, kemudian dikemas dalam amplop dan dikirim ke alamat pemilik kendaraan melalui Kantor Pos. Itu biasanya terakumulasi tiap sore. Dan paginya dari pihak Pos akan langsung mengantarkan surat tilang itu.

Itulah cara kerja Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE). Di Kudus ada lima titik E-TLE. Yang berada di traffic light Bejagan, traffic light Penthol, traffic light Barongan, traffic light Simpang Tujuh, dan traffic light DPRD. Lima titik itulah yang dipantau di layar monitor di TMC Satlantas Polres Kudus.

Pantauan wartawan koran ini, di TMC tersebut sejak sekitar pukul 14.00 sampai 15.00 terlihat ada lima pelanggar. Di antaranya, tidak memakai helm, melanggar marka jalan, dan sengaja tidak memakai pelat nomor.

Menurut Briptu Firmanzah, petugas pemantauan E-TLE memang ada yang sengaja tidak memasang atau mencopot pelat nomor. Dengan kondisi demikian, meski terekam E-TLE pelanggaran tersebut tak dapat diproses. Terkecuali jika itu terekam oleh Kopek. Maka petugas akan langsung menilang secara langsung di tempat.

”Karena jika cuma direkam dan tak ada pelat nomor, kami tak tahu datanya. Siapa pemiliknya dan ke mana mengirim surat tilangnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Seratus SD di Kudus Tak Memiliki Kepala Sekolah

Selama diterapkan sejak 23 Maret hingga kini, total ada sekitar 600-an pelanggar yang terekam. Dari jumlah itu, 70 persen telah dikirimi surat tilang. Namun hanya 50 persen dari total itu yang mengonfirmasi. Sementara sisanya, sekitar 150 pengendara yang tak konfirmasi diblokir STNK-nya.

Selain ada pelanggar yang sengaja tidak memasang pelat, juga ada pelanggar yang kaget menerima surat tilang di rumah. Mereka biasanya tidak sadar atau mengabaikan jika sistem penilangan dengan E-TLE dan KOPEK memang ada.

”Mereka mengira itu (E-TLE, Red) tidak jalan. Jadi, terkadang kaget ketika STNK-nya kami blokir. Ada yang marah-marah. Biasanya mereka akan langsung datang ke kantor (Satlantas, Red) untuk meminta penjelasan. Kami arahkan untuk mengurus di pengadilan atau pas nanti perpanjangan pajak,” imbuhnya.

Selain pantauan melalui lima titik itu, penilangan juga memakai inovasi Kopek (Kamera Portable Penindakan Pelanggaran Kendaraan Bermotor). Inovasi Kopek bertujuan untuk meng-cover wilayah yang belum terpasang kamera E-TLE.

Cara yang diterapkan dengan memasang kamera itu, di helm milik polisi lalu lintas (polantas). Kamera yang terpasang di helm polisi akan memotret pelanggar lalu lintas beserta nomor kendaraannya. Bukti foto pelanggaran itu, kemudan akan terekam. Selanjutnya dicetak.

”Cara kerjanya kurang lebih sama dengan E-TLE. Memotret dan merekam, lalu dicetak. Dan dikirim ke alamat pelanggar,” ungkapnya Briptu Firmanzah, petugas pemantauan E-TLE.

Di Kudus total ada 145 Kopek. Biasanya polisi akan berkeliling di jalan-jalan yang tidak ter-cover oleh E-TLE untuk menertibkan pengendara. Patroli menggunakan Kopek dilakukan secara bergilir oleh anggota kepolisian.

”Kamera Kopek terpasang pada helm kendaraan patroli roda dua untuk merekam pelanggaran lalu lintas. Kameranya tersambung dengan handphone petugas. Kalau ada pelanggaran, petugas tinggal meng-klik HP-nya,” terangnya. (tos)

Most Read

Artikel Terbaru

/