alexametrics
31.1 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

BPS Sebut Ini Penyebab Kabupaten Kudus Alami Infasi 0,77 Persen

KUDUS – Kabupaten Kudus pada Januari 2022 mengalami inflasi 0,77 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,14.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus Rahmadi Agus Santosa mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga dari beberapa komoditas yang dampaknya sangat terasa di tengah masyarakat.

“Inflasi di Kota Kudus utamanya disebabkan naiknya harga seperti beras, upah tukang (bukan mandor), daging ayam ras, roti manis, mobil, roti manis, dan bawang merah,” katanya.


Naiknya harga beras, kata dia, dipicu karena kenaikan harga gabah, dikarenakan stok menurun akibat sudah berlalunya musim panen raya dan mulai memasuki masa musim tanam (alias tidak ada panen).

Dia menjelaskan, harga daging ayam ras juga turut mempengaruhi inflasi karena dipicu oleh harga pakan ayam yang masih tinggi. Serta rendahnya supply jangung yang tidak sebanding dengan permintaan.

Begitu juga dengan naiknya harga gula yang dijadikan sebagai bahan baku roti manis menyebabkan kenaikan harga pada komoditas roti manis juga ikut naik. Sementara untuk minyak goreng masih dipicu oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) Internasional.

Baca Juga :  Pendapatan Daerah APBD Perubahan Kudus Naik 17,37 Persen
PASOKAN: Beras saat ini menjadi pemicu utama inflasi di Kudus kali ini. (ARIKA KHOIRIYA/RADAR KUDUS)

Ada juga pemicu inflasi karena naiknya harga upah seorang pekerja tukang. Alasannya karena biaya hidup makin hari makin mahal sehingga para tukang menaikkan upah atas jasa yang mereka lakukan.

“Itulah beberapa yang menjadi pemicu terjadinya inflasi bulan Januari. Sebagian besar memang pada kelompok pengeluaran makanan, dengan menyumbang inflasi sebanyak 0,29 persen,” tuturnya.

Dia menambahkan, intinya ada tiga kelompok pengeluaran yang memberikan andil dalam inflasi kali ini. Yakni kelompok makanan (yang soal beras dll). Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,19 persen (yang soal upah tukang). Serta perawatan pribadi dan jasa sebesar 0,10 persen.

“Nah, pada kelompok perawatan pribadi ini ada komoditas yang menjadi pemicu itu karena kenaikan harga sabun mandi dan popok bayi,” ucapnya.

Hal ini memberikan sebuah pesan bahwa inflasi itu menandakan telah bangkitnya perekonomian di Kudus. Dan dengan adanya pelonggaran aturan PPKM masyarakat tambah leluasa untuk berbelanja dan permintaan semakin naik, sehingga menyebabkan pasokan komoditas terbatas. Terutama untuk bahan makanan berupa beras dan sayur-sayuran. (ark)

KUDUS – Kabupaten Kudus pada Januari 2022 mengalami inflasi 0,77 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,14.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus Rahmadi Agus Santosa mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga dari beberapa komoditas yang dampaknya sangat terasa di tengah masyarakat.

“Inflasi di Kota Kudus utamanya disebabkan naiknya harga seperti beras, upah tukang (bukan mandor), daging ayam ras, roti manis, mobil, roti manis, dan bawang merah,” katanya.

Naiknya harga beras, kata dia, dipicu karena kenaikan harga gabah, dikarenakan stok menurun akibat sudah berlalunya musim panen raya dan mulai memasuki masa musim tanam (alias tidak ada panen).

Dia menjelaskan, harga daging ayam ras juga turut mempengaruhi inflasi karena dipicu oleh harga pakan ayam yang masih tinggi. Serta rendahnya supply jangung yang tidak sebanding dengan permintaan.

Begitu juga dengan naiknya harga gula yang dijadikan sebagai bahan baku roti manis menyebabkan kenaikan harga pada komoditas roti manis juga ikut naik. Sementara untuk minyak goreng masih dipicu oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) Internasional.

Baca Juga :  Pasar Hewan di Kudus Ditutup, Pedagang Nekat Berjualan di Luar Pagar
PASOKAN: Beras saat ini menjadi pemicu utama inflasi di Kudus kali ini. (ARIKA KHOIRIYA/RADAR KUDUS)

Ada juga pemicu inflasi karena naiknya harga upah seorang pekerja tukang. Alasannya karena biaya hidup makin hari makin mahal sehingga para tukang menaikkan upah atas jasa yang mereka lakukan.

“Itulah beberapa yang menjadi pemicu terjadinya inflasi bulan Januari. Sebagian besar memang pada kelompok pengeluaran makanan, dengan menyumbang inflasi sebanyak 0,29 persen,” tuturnya.

Dia menambahkan, intinya ada tiga kelompok pengeluaran yang memberikan andil dalam inflasi kali ini. Yakni kelompok makanan (yang soal beras dll). Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,19 persen (yang soal upah tukang). Serta perawatan pribadi dan jasa sebesar 0,10 persen.

“Nah, pada kelompok perawatan pribadi ini ada komoditas yang menjadi pemicu itu karena kenaikan harga sabun mandi dan popok bayi,” ucapnya.

Hal ini memberikan sebuah pesan bahwa inflasi itu menandakan telah bangkitnya perekonomian di Kudus. Dan dengan adanya pelonggaran aturan PPKM masyarakat tambah leluasa untuk berbelanja dan permintaan semakin naik, sehingga menyebabkan pasokan komoditas terbatas. Terutama untuk bahan makanan berupa beras dan sayur-sayuran. (ark)

Most Read

Artikel Terbaru

/