alexametrics
29.3 C
Kudus
Wednesday, August 3, 2022

Dispertan Kudus Akui Sulit Patenkan Kopi Muria, Ini Kendalanya

KUDUS – Sertifikasi indikasi geografis untuk mematenkan kopi Muria berasal tidak mudah. Sebab untuk memastikan kopi tersebut benar-benar asli Kudus harus dapat menemukan pohon kopi indukan di wilayah Muria Kudus bukan bibit yang dibeli dari luar daerah.

Sub Koordinator Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus Arin Nikmah mengatakan untuk mematenkan komoditas kopi ini termasuk sertifikasi indikasi geografis yakni komoditas yang disertifikasi berdasarkan wilayah geografisnya.

Sertifikasi itu dapat memberi perlindungan hukum terhadap nama geografis asal produk, maupun jaminan keaslian asal suatu produk.


Di Indonesia sendiri ada 17 jenis kopi yang sudah dipatenkan. Kopi tersebut dari berbagai daerah, contohnya saja seperti Kopi Robusta Lampung. Sertifikasi itu dipatenkan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI).

Kudus sendiri belum ada pengajuan untuk kopi Muria karena ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seperti harus menemukan titik pohon yang diunggulkan, serta harus melalui observasi selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  Persiku Junior Butuh Rp 350 Juta, Siapa Mau Jadi Sponsor?
DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS

Pihaknya sendiri mengaku pernah mengusulkan ke Dirjen HAKI untuk masalah kopi muria tersebut, namun ada masalah dengan tagline muria. Sebab pegunungan muria bisa Pati, Jepara, dan Kudus. Jadi harus lebih spesifik lagi. Misalnya Kopi Japan atau Colo.

Pihak Dispertan sendiri sangat tebuka jika untuk masalah pengusulan, namun demikian juga harus dapat memenuhi beberapa persyaratan yang menentukan keaslian tanaman asal daerah.

Di antaranya dia menjelaskan, pertama, harus benar-benar menemukan pohon kopi muria indukan yang tumbuh sekitar 10-15 tahun lamanya. Kedua, ditelaah secara fisiologis beserta letak geografisnya. Ketiga, harus memiliki keunggulan tersendiri dari 17 kopi yang sudah terdaftar atau tersertifikasi oleh Dirjen HAKI. Jika ada yang sama, maka susah untuk dapat dipatenkan.

Maka dari itu, pihaknya juga meminta partisipasi para petani kopi untuk mengetahui kondisi lahan atau pohon indukan. Dan dipastikan tidak beli bibit dari luar daerah, namun murni tumbuh dari wilayah tersebut. (ark/mal)

KUDUS – Sertifikasi indikasi geografis untuk mematenkan kopi Muria berasal tidak mudah. Sebab untuk memastikan kopi tersebut benar-benar asli Kudus harus dapat menemukan pohon kopi indukan di wilayah Muria Kudus bukan bibit yang dibeli dari luar daerah.

Sub Koordinator Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus Arin Nikmah mengatakan untuk mematenkan komoditas kopi ini termasuk sertifikasi indikasi geografis yakni komoditas yang disertifikasi berdasarkan wilayah geografisnya.

Sertifikasi itu dapat memberi perlindungan hukum terhadap nama geografis asal produk, maupun jaminan keaslian asal suatu produk.

Di Indonesia sendiri ada 17 jenis kopi yang sudah dipatenkan. Kopi tersebut dari berbagai daerah, contohnya saja seperti Kopi Robusta Lampung. Sertifikasi itu dipatenkan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI).

Kudus sendiri belum ada pengajuan untuk kopi Muria karena ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seperti harus menemukan titik pohon yang diunggulkan, serta harus melalui observasi selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  Kasir Kafe di Kudus Diamankan Polisi karena Terbukti Nyabu
DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS

Pihaknya sendiri mengaku pernah mengusulkan ke Dirjen HAKI untuk masalah kopi muria tersebut, namun ada masalah dengan tagline muria. Sebab pegunungan muria bisa Pati, Jepara, dan Kudus. Jadi harus lebih spesifik lagi. Misalnya Kopi Japan atau Colo.

Pihak Dispertan sendiri sangat tebuka jika untuk masalah pengusulan, namun demikian juga harus dapat memenuhi beberapa persyaratan yang menentukan keaslian tanaman asal daerah.

Di antaranya dia menjelaskan, pertama, harus benar-benar menemukan pohon kopi muria indukan yang tumbuh sekitar 10-15 tahun lamanya. Kedua, ditelaah secara fisiologis beserta letak geografisnya. Ketiga, harus memiliki keunggulan tersendiri dari 17 kopi yang sudah terdaftar atau tersertifikasi oleh Dirjen HAKI. Jika ada yang sama, maka susah untuk dapat dipatenkan.

Maka dari itu, pihaknya juga meminta partisipasi para petani kopi untuk mengetahui kondisi lahan atau pohon indukan. Dan dipastikan tidak beli bibit dari luar daerah, namun murni tumbuh dari wilayah tersebut. (ark/mal)


Most Read

Artikel Terbaru

/