alexametrics
31.1 C
Kudus
Monday, July 4, 2022

Cerita Warga Kudus Pamit Mundur sebagai Penerima Bansos PKH

KUDUS – Siti Nurhayati, 43, warga RT 05 RW 01 Desa Klumpit, Gebog, Kudus adalah salah satu KPM yang mengundurkan diri dari anggota keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH) di Kabupaten Kudus.

Siti, yang hanya memiliki satu anak itu menjadi anggota PKH pada 2018. Selama menjadi KPM PKH dia mengaku selalu diberikan motivasi oleh pendamping PKH desa untuk tak melulu bergantung pada bantuan sosial (bansos).

Dia mengatakan setiap tiga bulan sekali mendapatkan jatah dari PKH sebesar Rp 375 ribu. Sejak saat itu, bansos yang diterimanya selalu disisihkan untuk ditabung guna keperluan ke depan keluarganya.


Menurut pantauan wartawan koran ini rumah Siti sebenarnya masih tergolong sangat sederhana, lantai rumah masih berlantai semen, tembok juga masi berbentuk batu bata. Tak ada tanda-tanda simbol materi yang menimbulkan dia mengundurkan diri.

Suaminya juga hanya seorang pekerja buruh bangunan yang setiap harinya mendapat gaji Rp 115 ribu. Dia merasa penghasilan seadanya itu sudah cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.

“Sejak menjadi KPM PKH, saya juga bekerja di pabrik rokok, setiap hainya saya mendapatkan gaji Rp 80 ribu,” kata ibu anak satu itu.

Uang dari hasil kerja dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangga, tiap hari dia tak begitu besar pengeluarannya. Hanya sekisar Rp 35 ribu saja untuk bahan makanan.

Baca Juga :  Terpincut KIHT Kudus, DPMPTSP Karanganyar Kaget

Siti mengundurkan diri (graduasi mandiri) secara sukarela pada Februari 2020 dia memutuskan untuk berhenti menjadi anggota KPM PKH. Dia juga mengaku keputusan itu tanpa ada paksaan dari siapa pun. Dia berharap, bantuan sosial yang sebelumnya ia terima bisa diberikan kepada keluarga yang lebih membutuhkan.

Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH Kudus Habib Rifa’I yang turut serta mengunjungi rumah Siti Nurhayati mengatakan anggota KPM PKH yang merasa sudah mampu memberdayakan diri, naik level, dan sudah merasa mampu sebaiknya dengan kesadaran penuh dirinya mengundurkan diri. Haknya nanti diberikan kepada warga lainnya yang lebih berhak.

Meskipun, jika dilihat dari keadaan rumah, Siti sebenarnya masih berhak untuk mendapatkan bansos PKH. Tetapi karena hal itu sudah menjadi keinginan murni dari Siti, dia merasa ada yang lebih berhak mendapatkan bansos. Dan pihaknya sudah merasa cukup.

“Mampu tidak harus kaya, yang tahu ukuran kan hati mereka sendiri, ketika dicek di lapangan dengan keadaan seperti itu seharusnya masih berhak mendapatkan PKH,” ucapnya. Tetapi menurutnya, hal itu bisa dijadikan contoh, karena untuk memutuskan untuk mundur dari PKH juga tidak mudah. Butuh kesadaran tinggi untuk tidak melulu terperangkap pada bansos. (ark)

KUDUS – Siti Nurhayati, 43, warga RT 05 RW 01 Desa Klumpit, Gebog, Kudus adalah salah satu KPM yang mengundurkan diri dari anggota keluarga penerima manfaat (KPM) program keluarga harapan (PKH) di Kabupaten Kudus.

Siti, yang hanya memiliki satu anak itu menjadi anggota PKH pada 2018. Selama menjadi KPM PKH dia mengaku selalu diberikan motivasi oleh pendamping PKH desa untuk tak melulu bergantung pada bantuan sosial (bansos).

Dia mengatakan setiap tiga bulan sekali mendapatkan jatah dari PKH sebesar Rp 375 ribu. Sejak saat itu, bansos yang diterimanya selalu disisihkan untuk ditabung guna keperluan ke depan keluarganya.

Menurut pantauan wartawan koran ini rumah Siti sebenarnya masih tergolong sangat sederhana, lantai rumah masih berlantai semen, tembok juga masi berbentuk batu bata. Tak ada tanda-tanda simbol materi yang menimbulkan dia mengundurkan diri.

Suaminya juga hanya seorang pekerja buruh bangunan yang setiap harinya mendapat gaji Rp 115 ribu. Dia merasa penghasilan seadanya itu sudah cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.

“Sejak menjadi KPM PKH, saya juga bekerja di pabrik rokok, setiap hainya saya mendapatkan gaji Rp 80 ribu,” kata ibu anak satu itu.

Uang dari hasil kerja dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangga, tiap hari dia tak begitu besar pengeluarannya. Hanya sekisar Rp 35 ribu saja untuk bahan makanan.

Baca Juga :  Setahun, Dua Ribu Warga Kudus Mundur dari PKH

Siti mengundurkan diri (graduasi mandiri) secara sukarela pada Februari 2020 dia memutuskan untuk berhenti menjadi anggota KPM PKH. Dia juga mengaku keputusan itu tanpa ada paksaan dari siapa pun. Dia berharap, bantuan sosial yang sebelumnya ia terima bisa diberikan kepada keluarga yang lebih membutuhkan.

Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH Kudus Habib Rifa’I yang turut serta mengunjungi rumah Siti Nurhayati mengatakan anggota KPM PKH yang merasa sudah mampu memberdayakan diri, naik level, dan sudah merasa mampu sebaiknya dengan kesadaran penuh dirinya mengundurkan diri. Haknya nanti diberikan kepada warga lainnya yang lebih berhak.

Meskipun, jika dilihat dari keadaan rumah, Siti sebenarnya masih berhak untuk mendapatkan bansos PKH. Tetapi karena hal itu sudah menjadi keinginan murni dari Siti, dia merasa ada yang lebih berhak mendapatkan bansos. Dan pihaknya sudah merasa cukup.

“Mampu tidak harus kaya, yang tahu ukuran kan hati mereka sendiri, ketika dicek di lapangan dengan keadaan seperti itu seharusnya masih berhak mendapatkan PKH,” ucapnya. Tetapi menurutnya, hal itu bisa dijadikan contoh, karena untuk memutuskan untuk mundur dari PKH juga tidak mudah. Butuh kesadaran tinggi untuk tidak melulu terperangkap pada bansos. (ark)

Most Read

Artikel Terbaru

/