alexametrics
24.6 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

Bupati Hartopo Dorong Tanaman Khas Kudus Dipatenkan

KUDUS – Pencapaian Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus untuk membantu hak patenkan tanaman lokal yang dibudidayakan di desa dinilai efektif. Hal itu bertujuan untuk melindungi asal muasal buah yang menjadi ciri khas dari desa terkait.

Bupati Kudus Hartopo mengatakan program hak paten tersebut memang perlu ditindaklanjuti dan bagus untuk melindungi tanaman dari daerah ia berasal. Karena itu merupakan ciri khas dan budidayanya hanya berada di desa tertentu (Kudus).

”Jangan sampai nanti kedahuluan dengan tetangga sebelah. Di mana yang seharusnya buah itu asli dari Kudus malah menjadi hak milik daerah lain,” katanya.


Dia juga mengatakan budi daya tersebut tentu perlu dilindungi dikarenakan banyak produk suatu varietas tanaman berstatus sebagai public domain. Sehingga kelegalan hak paten itu sangat diperlukan untuk melindungi apa yang menjadi kepemilikan Kota Kudus

Kepala Dispertan Sunardi mengatakan hak paten tersebut dilakukan sebagai bentuk aspek pengangkatan kekayaan lokal dan diakui secara legal formal. Dengan adanya tanda varitas lokal itu menjadi jalan pembuka bahwa hak paten itu ada di Kudus.

Dia menjelaskan hal itu menjadi tujuan keabsahan legalitas, bukti kalau memang membudidayakan jenis buah di daerah Kudus. Menurutnya, itu juga menjadi pintu awal untuk pengembangan bibit berlabel atau bersertifikat. Dan bisa menjadi peluang usaha bagi petani daerah Kudus untuk membudidayakan buah yang sudah memiliki hak paten tersebut.

Baca Juga :  Tiga Saksi Diperiksa Polisi Terkait Kasus Pembegalan Sadis di Kudus

Contohnya Alpukat Japan yang ada di Desa Japan itu sudah memiliki tanda varitas lokal, sudah bersertifikat atau sudah memiliki hak paten. Ada lagi Duku Sumber yang berasal dari Desa Tenggeles, Mejobo. ”Dan itu masih dalam proses observasi lebih lanjut,” ujarnya.

Hingga kini pihaknya berupaya agar kekayaan lokal (tanaman/buah) di Kudus itu bisa terlegalitaskan. Jadi tidak hanya pengadaan saja. ”Jangan sampai seperti kasus parijoto kemarin. Kudus kalah cepat dengan tetangga sebelah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata dia, untuk bantuan bibit buah, pada 2021 Dispertan sudah mengalokasikan 124 hektare, yang 60 hektare didukung oleh anggaran APBN dan 64 hektare dari APBD Kabupaten Kudus. Bentuk bantuannya yang bibit 60 hektare itu di isi durian. Ada di enam desa, di Kecamatan Dawe. Yang tahap satu itu di Piji, Lau, Puyoh, Margorejo, Kandang Mas, dan Kajar.

Sementara untuk 64 hektare itu ada kelengkeng di Kecamatan Kota yakni, Desa Purwosari. Kemudian Durian Musang King di Rejosari, alpukat di Desa Kuwukan, kemudian jambu air citra di Desa Menawan.

Prinsipnya pada 2021 dalam rangka mengakomodasi visi misi bupati dalam hal ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memiliki produk berdaya saing. “Yang pada ujungnya dapat menigkatkan kesejahteraan,” jelasnya. (ark/zen)

KUDUS – Pencapaian Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus untuk membantu hak patenkan tanaman lokal yang dibudidayakan di desa dinilai efektif. Hal itu bertujuan untuk melindungi asal muasal buah yang menjadi ciri khas dari desa terkait.

Bupati Kudus Hartopo mengatakan program hak paten tersebut memang perlu ditindaklanjuti dan bagus untuk melindungi tanaman dari daerah ia berasal. Karena itu merupakan ciri khas dan budidayanya hanya berada di desa tertentu (Kudus).

”Jangan sampai nanti kedahuluan dengan tetangga sebelah. Di mana yang seharusnya buah itu asli dari Kudus malah menjadi hak milik daerah lain,” katanya.

Dia juga mengatakan budi daya tersebut tentu perlu dilindungi dikarenakan banyak produk suatu varietas tanaman berstatus sebagai public domain. Sehingga kelegalan hak paten itu sangat diperlukan untuk melindungi apa yang menjadi kepemilikan Kota Kudus

Kepala Dispertan Sunardi mengatakan hak paten tersebut dilakukan sebagai bentuk aspek pengangkatan kekayaan lokal dan diakui secara legal formal. Dengan adanya tanda varitas lokal itu menjadi jalan pembuka bahwa hak paten itu ada di Kudus.

Dia menjelaskan hal itu menjadi tujuan keabsahan legalitas, bukti kalau memang membudidayakan jenis buah di daerah Kudus. Menurutnya, itu juga menjadi pintu awal untuk pengembangan bibit berlabel atau bersertifikat. Dan bisa menjadi peluang usaha bagi petani daerah Kudus untuk membudidayakan buah yang sudah memiliki hak paten tersebut.

Baca Juga :  Jumlah Santri Dibatasi, Fokus Hafalkan Alquran

Contohnya Alpukat Japan yang ada di Desa Japan itu sudah memiliki tanda varitas lokal, sudah bersertifikat atau sudah memiliki hak paten. Ada lagi Duku Sumber yang berasal dari Desa Tenggeles, Mejobo. ”Dan itu masih dalam proses observasi lebih lanjut,” ujarnya.

Hingga kini pihaknya berupaya agar kekayaan lokal (tanaman/buah) di Kudus itu bisa terlegalitaskan. Jadi tidak hanya pengadaan saja. ”Jangan sampai seperti kasus parijoto kemarin. Kudus kalah cepat dengan tetangga sebelah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata dia, untuk bantuan bibit buah, pada 2021 Dispertan sudah mengalokasikan 124 hektare, yang 60 hektare didukung oleh anggaran APBN dan 64 hektare dari APBD Kabupaten Kudus. Bentuk bantuannya yang bibit 60 hektare itu di isi durian. Ada di enam desa, di Kecamatan Dawe. Yang tahap satu itu di Piji, Lau, Puyoh, Margorejo, Kandang Mas, dan Kajar.

Sementara untuk 64 hektare itu ada kelengkeng di Kecamatan Kota yakni, Desa Purwosari. Kemudian Durian Musang King di Rejosari, alpukat di Desa Kuwukan, kemudian jambu air citra di Desa Menawan.

Prinsipnya pada 2021 dalam rangka mengakomodasi visi misi bupati dalam hal ini untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memiliki produk berdaya saing. “Yang pada ujungnya dapat menigkatkan kesejahteraan,” jelasnya. (ark/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/