alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Pencairan Dana Hibah Terlambat, Tiga Madrasah di Kudus Mangkrak

KUDUS – Pembangunan tiga madrasah dari dana hibah mangkrak. Hal itu disebabkan karena anggaran tak kunjung cair. Padahal seharusnya anggaran cair pada akhir Mei lalu.

KH Shodiqun selaku yang mewakili dari pihak MI NU Miftahul Falah Pasuruhan Kidul menyatakan setidaknya ada 45 lembaga yang diberikan dana hibah pada tahun ini. Namun ada tiga madrasah dananya tiba-tiba mandek. Hal itu berdampak pada mangkraknya kelar pembangunannya.

Tiga madrasah itu, di antaranya MI Miftahul Falah Pasuruhan Kidul, Jati (pembangunan tiga kelas mangkrak), Madrasah Diniyyah Roudlotul Ulum Tanjungrejo (enam kelas mangkrak), dan MI Miftahul Huda Bulung Kulon juga mengalami hal yang sama, tiga kelas mangkrak. Padahal jadwal  kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah dimulai, namun pelajar terpaksa masuk kelas dengan cara bergiliran.


“Semua wali murid dan masyarakat mempertanyakan kelanjutan pembangunan kelas tersebut,” katanya.

Dari semua pihak tiga madrasah itu, kata dia, sudah mencoba meminta klarifikasi dengan anggaran dana hibah yang tak kunjung cair tersebut. Dia menjelaskan setelah pertemuan pada (11/5) lalu, semua lembaga memang sudah diberi pengarahan sosialisasi dana hibah.

Setelah diberi arahan tersebut, pihaknya langsung membuat kerangka acuan kerja (KAK) untuk mengajukan pembangunan madrasah. Kurang lebih pada pertengahan Mei, karena anggaran cair pada akhir Mei. Namun sudah ditunggu sampai pada akhir Juni, dana tersebut tak kunjung cair, padahal lembaga lain sudah. Hanya tiga madrasah itu yang masih bermasalah.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Bikin Paguyuban, Malah Diminta Urus SP Sendiri

“Pada akhir Juni itu pun kami langsung membuat surat permohonan kepada Pemkab  sesuai arahan dari kepala bagian kesra,” ungkapnya.

Surat permohonan ditujukan agar dana hibah yang mandek itu segera dicairkan. Akhirnya pada (12/7) lalu, pihaknya dipanggil untuk bertemu dengan bupati, namun karena dana tersebut usulan legislatif, pihaknya diminta untuk mengkonfirmasi kepada Mukhosiron, selaku ketua DPC PKB Kudus.

“Kami sudah berulang kali menghubungi ketua DPC PKB Kudus itu, namun belum ada jawaban,” ungkapnya.

Listyanah dan Kholili selaku yang mewakili dari dua madrasah, yakni Madin Roudlotul Ulum Tanjungrejo dan MI Miftahul Huda Bulung Kulon meminta agar dana hibah segera dicairkan. Mereka butuh kejelasan agar anak didik mereka tak mengalami kesusahan saat KBM berlangsung. Mereka menduga adanya keterlambatan pencairan  itu karena ulah Mukhosiron.

Tercatat dana itu dari APBD 2022. Anggaran untuk pembangunan di tiga madrasah berebda-beda. Untuk MI Miftahul Falah Pasurunan Kidul Jati sebanyak Rp 600 juta, MI Miftahul Huda Bulung Kulon Rp 675 juta, dan Madrasah Diniyyah Tanjungrejo Rp 750 juta. Selama ini pembangunan yang berjalan menggunakan dana utangan.  (ark/mal)

KUDUS – Pembangunan tiga madrasah dari dana hibah mangkrak. Hal itu disebabkan karena anggaran tak kunjung cair. Padahal seharusnya anggaran cair pada akhir Mei lalu.

KH Shodiqun selaku yang mewakili dari pihak MI NU Miftahul Falah Pasuruhan Kidul menyatakan setidaknya ada 45 lembaga yang diberikan dana hibah pada tahun ini. Namun ada tiga madrasah dananya tiba-tiba mandek. Hal itu berdampak pada mangkraknya kelar pembangunannya.

Tiga madrasah itu, di antaranya MI Miftahul Falah Pasuruhan Kidul, Jati (pembangunan tiga kelas mangkrak), Madrasah Diniyyah Roudlotul Ulum Tanjungrejo (enam kelas mangkrak), dan MI Miftahul Huda Bulung Kulon juga mengalami hal yang sama, tiga kelas mangkrak. Padahal jadwal  kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah dimulai, namun pelajar terpaksa masuk kelas dengan cara bergiliran.

“Semua wali murid dan masyarakat mempertanyakan kelanjutan pembangunan kelas tersebut,” katanya.

Dari semua pihak tiga madrasah itu, kata dia, sudah mencoba meminta klarifikasi dengan anggaran dana hibah yang tak kunjung cair tersebut. Dia menjelaskan setelah pertemuan pada (11/5) lalu, semua lembaga memang sudah diberi pengarahan sosialisasi dana hibah.

Setelah diberi arahan tersebut, pihaknya langsung membuat kerangka acuan kerja (KAK) untuk mengajukan pembangunan madrasah. Kurang lebih pada pertengahan Mei, karena anggaran cair pada akhir Mei. Namun sudah ditunggu sampai pada akhir Juni, dana tersebut tak kunjung cair, padahal lembaga lain sudah. Hanya tiga madrasah itu yang masih bermasalah.

Baca Juga :  Anggota Polres Kudus Dibegal Dini Hari Tadi di Jalan Kudus-Pati

“Pada akhir Juni itu pun kami langsung membuat surat permohonan kepada Pemkab  sesuai arahan dari kepala bagian kesra,” ungkapnya.

Surat permohonan ditujukan agar dana hibah yang mandek itu segera dicairkan. Akhirnya pada (12/7) lalu, pihaknya dipanggil untuk bertemu dengan bupati, namun karena dana tersebut usulan legislatif, pihaknya diminta untuk mengkonfirmasi kepada Mukhosiron, selaku ketua DPC PKB Kudus.

“Kami sudah berulang kali menghubungi ketua DPC PKB Kudus itu, namun belum ada jawaban,” ungkapnya.

Listyanah dan Kholili selaku yang mewakili dari dua madrasah, yakni Madin Roudlotul Ulum Tanjungrejo dan MI Miftahul Huda Bulung Kulon meminta agar dana hibah segera dicairkan. Mereka butuh kejelasan agar anak didik mereka tak mengalami kesusahan saat KBM berlangsung. Mereka menduga adanya keterlambatan pencairan  itu karena ulah Mukhosiron.

Tercatat dana itu dari APBD 2022. Anggaran untuk pembangunan di tiga madrasah berebda-beda. Untuk MI Miftahul Falah Pasurunan Kidul Jati sebanyak Rp 600 juta, MI Miftahul Huda Bulung Kulon Rp 675 juta, dan Madrasah Diniyyah Tanjungrejo Rp 750 juta. Selama ini pembangunan yang berjalan menggunakan dana utangan.  (ark/mal)


Most Read

Artikel Terbaru