alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Gegara Masalah Hutang untuk Modal Ikut Pilkades, Rumah di Kudus Hampir disita

KUDUS – Gegara hutang untuk modal ikut pemilihan kepala desa (Pilkades), rumah milik Sutrisno alias Alex hampir disita. Kuasa hukum dari kedua belah pihak berkumpul di rumah Alex RT 05 RW 06 Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus pada (30/6). Namun pengosongan rumah ditunda karena perkara tersebut belum masuk pengadilan.

Mahassin Rochman, kuasa hukum Alex mengatakan Alex sendiri awalnya hendak meminjam uang di sebuah koperasi departemen agama (Depag). Uang tersebut digunakan untuk mengikuti Pilkades. Di saat Alex sudah kepepet dan butuh uang, akhirnya ia pinjam di koperasi.

Paat saat itu, Alex meminjam uang ke koperasi pada 2019. Yang diketahui oleh pegawai koperasi tersebut yakni Shony Wardana, yang mana menjadi salah satu pihak yang bersengketa. “Jadi pinjamnya itu dengan koperasi. Bukan kepada pribadi,” katanya.


Mahassin menerangkan, jika dalam persengketaan tersebut ada beberapa kejanggalan. Berdasarkan data di sertifikat yang dibawa kuasa hukum Shony pada 2020 menerangkan jika ada jual beli antara Sudarsini istri Alex kepada Shony. Padahal peristiwanya pada 2019.

“Alex itu datang ke koperasi pada 2019 itu untuk pinjam uang, tapi kenapa ada akta jual beli pada 2020 di notaris, jaraknya lamanya. Alex tidak merasa menandatangani akta kesepakatan jual beli tersebut.” paparnya.

Ia juga mengatakan jika Alex tidak pernah datang ke notaris, untuk menandatangani surat yang dibawa oleh pihak kuasa hukum Shony. Jadi masih ada perdebatan yang harus diuji di pengadilan. Tidak bisa dieksekusi begitu saja tanpa ada putusan dari pengadilan.

“Datang tanpa ada keikhlasan/kerelaan pemilik asli (Alex) itu kan sama saja dengan pemaksaan. Sementara yang berhak melakukan/memaksa eksekusi itu pihak pengadilan,” imbuhnya.

Anehnya lagi, kata dia, Alex pinjam ke koperasi itu Rp 400 juta. Tapi yang ada di akta jual beli (AJB) jual beli harga Rp 196 juta. “Rumah pinggir jalan seperti itu dengan harga segitu justru tidak wajar. Belum lagi peristiwa terjadi di 2019. AJB nya pada 2020,” terangnya.

Dari kuasa hukum Alex sendiri merasa keberatan. Kalau tetap dilakukan eksekusi diluar putusan pengadilan. itu berarti bertindak tanpa ada koridor hukum yang sepatutnya. Langkah selanjutnya, kata dia, jika tetap diupayakan eksekusi pihaknya akan mengikuti sesuai jalur hukum. Dan akan melakukan persiapkan bukti-bukti dari sekarang.

“Semua akan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti sesuai dengan proses hukum yang seharusnya,” jawabnya.

Gozjali, kuasa hukum Shony Wardana mengatakan pihaknya sudah memegang bukti AJB dan sertifikat hak milik. Atas namanya tercantum nama Shony Wardana. Perubahannya itu di pada 2020.

Baca Juga :  Kasus Eks Tentara Bacok Orang di Kudus Berakhir Damai

Pada 2019, kata dia, Alex itu mau meminjam uang lewat sebuah koperasi departemen agama. Namun Shony menolak untuk meminjamkan uang karena Alex bukan anggota koperasi. Lalu dia berinisiatif untuk beli rumahnya Alex saja. “Shony sendiri selaku pegawai koperasi tersebut. Dan hingga kini masih aktif.” katanya.

Itu uang koperasi, ia pinjam koperasi di pakai untuk beli rumah Alex. Sehingga terjadilah kesepakatan akte jual beli itu. Ketika terjadi akte jual beli lalu ada semacam permintaan Alex untuk mengosongkan rumah setelah tanggal adanya AJB penerimaan uang. Alex minta waktu tiga bulan. Ketika sudah mencapai tiga bulan. Alex minta waktu lagi kepada Shony. Mundur lagi. Alasannya Karena mau lebaran. Jadi belum bisa meninggalkan rumah. Lalu Alex minta waktu lagi lima bulan.

Kemudian Shony coba proses lewat jalur hukum dengan melapor ke pihak kepolisian. Lalu mengikuti mediasi. Terjadilah kesepakatan dengan didampingi dgn kuasa hukum Alex yang sebelumnya yakni Setiadi. Saat itu Alex meminta waktu enam bulan untuk bisa membeli rumahnya lagi. Juga disaksikan oleh pengacara Alex. Setelah itu, Alex disuruh baca juga dengan lengkap. Ia mengaku Alex menandatangani dengan sadar dan sehat tanpa tekanan. Diketahui juga oleh RT RW setempat. Istri Alex juga ikut tanda tangan.

Setelah penandatanganan itu, enam bulan lagi tidak bisa terbayar. Minta lagi waktu satu bulan. Hingga sampai 29/6 masih tidak bisa bayar rumah dengan luas 218 meter persegi itu, ia minta waktu lagi. Terakhir kali 29 Mei kemarin. Alex juga sudah menyatakan jika sampai 29 Mei tidak bisa membeli lagi rumahnya, maka ia akan pergi dengan sendiri bersama istrinya tanpa dipaksa. Maka 29 Juni saat sudah jatuh tempo. “Namun disini tidak ada eksekusi karena perkara belum masuk pengadilan,” jelasnya.

Ia menerangkan, Alex menerima uang Rp 400 juta bukan Rp 196 juta saja. Yakni dari pihak Shony. Ia juga menyanggah, bahwa Alex itu datang ke notaris. Sesuai dengan kesaksian notaris di Polres pada Maret 2022

Selanjutnya sampai pada 30/6 hasil kesepakatan pihak keluarga meminta kesempatan pada tanggal 9 Juli untuk mengeluarkan barang-barang. Kuasa hukum Shony pun mengiyakan demi menghargai kemanusiaan. “Karena disitu ditinggali tidak hanya Sudarsini dan Alex tapi anak dan menantunya disitu,” katanya. (ark)

KUDUS – Gegara hutang untuk modal ikut pemilihan kepala desa (Pilkades), rumah milik Sutrisno alias Alex hampir disita. Kuasa hukum dari kedua belah pihak berkumpul di rumah Alex RT 05 RW 06 Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus pada (30/6). Namun pengosongan rumah ditunda karena perkara tersebut belum masuk pengadilan.

Mahassin Rochman, kuasa hukum Alex mengatakan Alex sendiri awalnya hendak meminjam uang di sebuah koperasi departemen agama (Depag). Uang tersebut digunakan untuk mengikuti Pilkades. Di saat Alex sudah kepepet dan butuh uang, akhirnya ia pinjam di koperasi.

Paat saat itu, Alex meminjam uang ke koperasi pada 2019. Yang diketahui oleh pegawai koperasi tersebut yakni Shony Wardana, yang mana menjadi salah satu pihak yang bersengketa. “Jadi pinjamnya itu dengan koperasi. Bukan kepada pribadi,” katanya.

Mahassin menerangkan, jika dalam persengketaan tersebut ada beberapa kejanggalan. Berdasarkan data di sertifikat yang dibawa kuasa hukum Shony pada 2020 menerangkan jika ada jual beli antara Sudarsini istri Alex kepada Shony. Padahal peristiwanya pada 2019.

“Alex itu datang ke koperasi pada 2019 itu untuk pinjam uang, tapi kenapa ada akta jual beli pada 2020 di notaris, jaraknya lamanya. Alex tidak merasa menandatangani akta kesepakatan jual beli tersebut.” paparnya.

Ia juga mengatakan jika Alex tidak pernah datang ke notaris, untuk menandatangani surat yang dibawa oleh pihak kuasa hukum Shony. Jadi masih ada perdebatan yang harus diuji di pengadilan. Tidak bisa dieksekusi begitu saja tanpa ada putusan dari pengadilan.

“Datang tanpa ada keikhlasan/kerelaan pemilik asli (Alex) itu kan sama saja dengan pemaksaan. Sementara yang berhak melakukan/memaksa eksekusi itu pihak pengadilan,” imbuhnya.

Anehnya lagi, kata dia, Alex pinjam ke koperasi itu Rp 400 juta. Tapi yang ada di akta jual beli (AJB) jual beli harga Rp 196 juta. “Rumah pinggir jalan seperti itu dengan harga segitu justru tidak wajar. Belum lagi peristiwa terjadi di 2019. AJB nya pada 2020,” terangnya.

Dari kuasa hukum Alex sendiri merasa keberatan. Kalau tetap dilakukan eksekusi diluar putusan pengadilan. itu berarti bertindak tanpa ada koridor hukum yang sepatutnya. Langkah selanjutnya, kata dia, jika tetap diupayakan eksekusi pihaknya akan mengikuti sesuai jalur hukum. Dan akan melakukan persiapkan bukti-bukti dari sekarang.

“Semua akan dipertimbangkan dan ditindaklanjuti sesuai dengan proses hukum yang seharusnya,” jawabnya.

Gozjali, kuasa hukum Shony Wardana mengatakan pihaknya sudah memegang bukti AJB dan sertifikat hak milik. Atas namanya tercantum nama Shony Wardana. Perubahannya itu di pada 2020.

Baca Juga :  Raih Penghargaan dan Pengakuan ISSA, BPJAMSOSTEK Junjung Tinggi Integritas

Pada 2019, kata dia, Alex itu mau meminjam uang lewat sebuah koperasi departemen agama. Namun Shony menolak untuk meminjamkan uang karena Alex bukan anggota koperasi. Lalu dia berinisiatif untuk beli rumahnya Alex saja. “Shony sendiri selaku pegawai koperasi tersebut. Dan hingga kini masih aktif.” katanya.

Itu uang koperasi, ia pinjam koperasi di pakai untuk beli rumah Alex. Sehingga terjadilah kesepakatan akte jual beli itu. Ketika terjadi akte jual beli lalu ada semacam permintaan Alex untuk mengosongkan rumah setelah tanggal adanya AJB penerimaan uang. Alex minta waktu tiga bulan. Ketika sudah mencapai tiga bulan. Alex minta waktu lagi kepada Shony. Mundur lagi. Alasannya Karena mau lebaran. Jadi belum bisa meninggalkan rumah. Lalu Alex minta waktu lagi lima bulan.

Kemudian Shony coba proses lewat jalur hukum dengan melapor ke pihak kepolisian. Lalu mengikuti mediasi. Terjadilah kesepakatan dengan didampingi dgn kuasa hukum Alex yang sebelumnya yakni Setiadi. Saat itu Alex meminta waktu enam bulan untuk bisa membeli rumahnya lagi. Juga disaksikan oleh pengacara Alex. Setelah itu, Alex disuruh baca juga dengan lengkap. Ia mengaku Alex menandatangani dengan sadar dan sehat tanpa tekanan. Diketahui juga oleh RT RW setempat. Istri Alex juga ikut tanda tangan.

Setelah penandatanganan itu, enam bulan lagi tidak bisa terbayar. Minta lagi waktu satu bulan. Hingga sampai 29/6 masih tidak bisa bayar rumah dengan luas 218 meter persegi itu, ia minta waktu lagi. Terakhir kali 29 Mei kemarin. Alex juga sudah menyatakan jika sampai 29 Mei tidak bisa membeli lagi rumahnya, maka ia akan pergi dengan sendiri bersama istrinya tanpa dipaksa. Maka 29 Juni saat sudah jatuh tempo. “Namun disini tidak ada eksekusi karena perkara belum masuk pengadilan,” jelasnya.

Ia menerangkan, Alex menerima uang Rp 400 juta bukan Rp 196 juta saja. Yakni dari pihak Shony. Ia juga menyanggah, bahwa Alex itu datang ke notaris. Sesuai dengan kesaksian notaris di Polres pada Maret 2022

Selanjutnya sampai pada 30/6 hasil kesepakatan pihak keluarga meminta kesempatan pada tanggal 9 Juli untuk mengeluarkan barang-barang. Kuasa hukum Shony pun mengiyakan demi menghargai kemanusiaan. “Karena disitu ditinggali tidak hanya Sudarsini dan Alex tapi anak dan menantunya disitu,” katanya. (ark)


Most Read

Artikel Terbaru

/