RADAR KUDUS - Wacana mengenai pengelompokan atau “kasta” ikan berdasarkan kandungan proteinnya tengah ramai diperbincangkan publik.
Data yang dirilis Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui tabel Kandungan Gizi Pangan Ikan menunjukkan fakta mengejutkan: ikan lokal Indonesia memiliki kandungan protein yang sangat kompetitif, bahkan mampu melampaui ikan impor yang selama ini dianggap unggulan.
Selama bertahun-tahun, ikan salmon kerap dipersepsikan sebagai sumber protein dan omega-3 terbaik.
Namun, data Bapanas justru menempatkan ikan kembung sebagai salah satu jenis ikan dengan kandungan protein tertinggi, yakni sekitar 22 gram per 100 gram daging ikan.
Angka ini menempatkan ikan kembung di posisi teratas atau kategori “protein sangat tinggi”.
Pengelompokan tersebut disusun berdasarkan jumlah protein per 100 gram ikan konsumsi.
Hasilnya menunjukkan variasi kandungan protein yang cukup signifikan antarjenis ikan, lalu dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan.
Pada kategori teratas, ikan kembung dan ikan layang sama-sama mencatat kandungan protein sekitar 22 persen.
Sementara itu, ikan bandeng, ekor kuning, dan kakap masuk kategori protein tinggi dengan kisaran 20 persen.
Di kelompok protein cukup tinggi, tercatat ikan tawes, salmon, mujair, dan selar dengan kandungan protein antara 18 hingga 19 persen.
Adapun ikan mas dan lele berada di kelompok protein sedang, meskipun kandungannya tetap bermanfaat sebagai sumber protein hewani harian.
Keunggulan ikan kembung tidak berhenti pada kandungan protein. Ikan ini juga kaya akan vitamin B kompleks, vitamin D, serta mineral penting seperti selenium dan yodium.
Selain itu, ikan kembung dikenal memiliki kandungan asam lemak omega-3, terutama DHA dan EPA, yang sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan perkembangan otak.
Temuan ini menjadi sorotan karena ikan kembung tergolong mudah didapat dan harganya relatif terjangkau di pasar tradisional.
Fakta bahwa ikan lokal mampu menyaingi, bahkan melampaui, ikan impor dari sisi gizi diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat dalam memilih sumber protein.
Bapanas menilai edukasi ini penting untuk mendorong konsumsi ikan nasional dan memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal.
Dengan memilih ikan kembung, bandeng, atau kakap, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan protein harian secara lebih efisien sekaligus mendukung nelayan dalam negeri.
Selain itu, protein ikan yang mudah dicerna juga dinilai ideal untuk mendukung pertumbuhan anak dan membantu upaya pencegahan stunting.
Melalui pemanfaatan potensi ikan lokal, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat tanpa bergantung pada bahan pangan impor. (rani)
Editor : Ali Mustofa