Akses Beli BBM Sulit, Nelayan dan Warga Kemujan Karimunjawa Menjerit

KARIMUNJAWA — Warga Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Jepara mengeluhkan sulitnya akses bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Hal tersebut sudah terjadi lebih dari sepekan terakhir.
Sulitnya akses pembelian ini tidak hanya berdampak pada aktivitas nelayan. Namun juga mengganggu mobilitas masyarakat umum, termasuk pelajar.
Salah satu warga Desa Kemujan, Bambang Zakaria, mengungkapkan bahwa perubahan aturan pembelian BBM di SPBU diduga menjadi penyebab utama kesulitan tersebut.
Saat ini, masyarakat tidak lagi diperbolehkan membeli bensin menggunakan jerigen. Sehingga distribusi eceran di tingkat desa praktis terhenti.
“Kalau mau beli harus antre langsung pakai motor di SPBU. Tidak boleh pakai jerigen. Akhirnya masyarakat kesulitan, karena sebelumnya banyak bergantung pada pengecer,” ujarnya pada Senin (30/3).
Menurutnya, kondisi ini membuat warga harus menempuh perjalanan ke SPBU di Karimunjawa dengan membawa sepeda motor, meski kapasitas tangki terbatas.
Dalam sekali pengisian, motor bebek rata-rata hanya mampu menampung 3–4 liter bensin. Padahal, jarak Desa Kemujan dengan SPBU yang berada di Desa Karimunjawa mencapai 20 kilometer.
Berbeda dengan motor dengan tangki yang besar, BBM motor bebek pun habis di jalan.
“Kalau motor tangki besar seperti Yamaha Byson (kapasitas 12 liter, red) memang dilayani, tapi dibatasi maksimal Rp 100 ribu. Hari ini pun antrean mengular panjang,” tambahnya.
Dampak sulitnya akses BBM ini juga dirasakan oleh sektor pendidikan.
