JEPARA — Konflik di Timur Tengah kian memanas. Menyusul invasi Israel dan Amerika Serikat ke Iran, yang memicu kekhawatiran serius di sektor logistik global.
Isu penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian utama pelaku usaha. Termasuk jasa pengiriman kontainer di Indonesia.
Direktur Unique Cargo Indonesia, Ajar Tri Raharjo, menilai apabila perang Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya benar-benar meluas, dampaknya terhadap ekonomi dunia akan signifikan.
Indonesia tidak akan luput dari imbasnya.
“Selat Hormuz itu jalur yang sangat vital, baik untuk kapal kontainer maupun tanker. Minyak mentah dari Timur Tengah hampir semuanya melewati rute tersebut karena paling efektif dan efisien,” ungkapnya pada Minggu (1/3).
Menurut Ajar, penutupan Selat Hormuz membawa dampak yang tidak sepele.
Jika eskalasi konflik meningkat dan jalur pelayaran terganggu, perusahaan pelayaran akan mengalihkan rute. Atau menangguhkan pengiriman barang.
Pengalihan rute menjadi skenario yang paling mungkin.
Kapal-kapal dari Asia menuju Eropa atau Timur Tengah dapat dipaksa memutar lebih jauh. Melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan apabila kawasan Laut Merah dan Teluk tidak lagi aman.
“Kalau harus memutar lewat Afrika, biaya bisa naik dua sampai tiga kali lipat. Waktu tempuh yang biasanya tiga sampai empat minggu bisa molor sampai dua bulan,” jelasnya.
Baru-baru ini, ongkos kirim kontainer 40 feet ke Timur Tengah masih berada di kisaran 1.600–2.000 dolar.
Namun jika terjadi lonjakan akibat konflik, biaya bisa naik menjadi 3.000 dolar lebih.
Bahkan dalam skenario kenaikan 80 persen, tarif bisa menembus 3.800 dolar.
“Kenaikan itu terjadi karena semua harga freight ikut terdorong naik. Begitu rute terganggu dan kapal harus memutar, biaya operasional otomatis meningkat,” tambahnya.
Ia menyebutkan, pada Maret ini telah diinformasikan potensi kenaikan tarif dari pihak principal kapal, dengan estimasi kenaikan antara 50 hingga 80 persen apabila situasi memburuk.
Dari sisi permintaan, sebelumnya dampak konflik mulai terasa. Sejumlah buyer memilih menunda pemesanan baru, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
“Buyer di Timteng banyak yang pending. Kami hanya kirim sisa order lama yang sudah dimuat lebih awal. Untuk order baru, mereka belum berani ambil risiko,” katanya.
Menurutnya, kekhawatiran utama adalah tambahan waktu produksi, serta pengiriman yang bisa mencapai dua bulan jika jalur pelayaran terganggu akibat perang.
Meski demikian, Ajar menyebut, pengiriman ke Eropa masih relatif stabil, terutama untuk produk furniture garden.
Dalam dua bulan terakhir, permintaan dari Eropa tercatat masih tinggi. Pengiriman ke beberapa wilayah Afrika juga dinilai masih cukup baik.
Ajar menegaskan bahwa momen Idul Fitri tidak terlalu berpengaruh terhadap pengiriman internasional.
Faktor utama tetap pada kelancaran pelayaran dan sistem transhipment. Selama jalur aman dan distribusi lancar, harga cenderung stabil.
Terkait regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR), Ajar menyebut implementasinya masih tertunda di Uni Eropa karena mempertimbangkan kesiapan pengekspor. Termasuk dari Indonesia.
Aturan yang semula direncanakan berlaku awal tahun ini, belum diterapkan secara resmi.
“Kalau ada buyer yang benar-benar butuh sertifikat EUDR, kami bantu siapkan bukti, termasuk dokumentasi bahwa bahan baku tidak berasal dari kawasan lindung,” jelasnya.
Di tengah ketidakpastian global, pihaknya turut berharap konflik di Timur Tengah segera berakhir.
Ketegangan geopolitik yang memanas kembali mengingatkan, rentannya rantai pasok global terhadap konflik kawasan.
Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di sekitar Teluk, tetapi juga hingga ke pelaku usaha di daerah seperti Jepara.
“Harapan kami perang ini bisa segera selesai dan damai. Supaya ekonomi dunia, termasuk Indonesia, bisa kembali bergerak dan tumbuh dengan baik,” tutup Ajar.(fik)
Editor : Mahendra Aditya