Menjadi seorang Muslim tak mesti Jawa. Namun keturunan Cina pun juga memiliki hak yang sama. Memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Islam, termasuk di Jepara, kini dianut oleh masyarakat keturunan Tionghoa juga. Dengan ekspresi keberagamaan yang luwes, moderat dan membaur.
Terlebih bertepatan dengan momen Imlek 2577 Kongzili serta jelang Ramadan 1447 H.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus
SATU saf karpet digelar di serambi Masjid Besar Walisongo pada Selasa (17/2) siang.
Sederet jemaah yang merupakan Muslim Tionghoa maupun mualaf tampak khidmat. Menyimak tausiah yang dibawakan oleh ustaz asal Magelang.
Mereka tampak fokus, meresapi kalimat demi kalimat yang disampaikan pria keturunan Tionghoa tersebut.
Sosok itu dikenal sebagai Ustaz Mahdi atau Kwee Giok Yong. Ia merupakan mualaf yang kini aktif berdakwah dan membina komunitas Muslim Tionghoa.
Ustaz Mahdi menjadi sosok di balik berdirinya masjid di tepi Jalan Delima, kompleks Armada Estate, Magelang Utara, Kota Magelang.
Tempat ibadah di Kota Sejuta Bunga itu dirancang dengan sentuhan arsitektur bernuansa Tionghoa, fasadnya menyerupai kelenteng, namun fungsinya sepenuhnya sebagai masjid.
Perpaduan budaya dan akidah itu menjadi simbol bahwa identitas etnis dan keyakinan bisa berjalan selaras.
“Iman itu bisa naik dan turun. Agama seseorang sangat tergantung siapa teman dekatnya, lingkungannya yang selalu mengingatkan kepada Allah dan Rasul-Nya,” tutur Ustaz Mahdi pada Selasa (17/2).
Momentum Imlek yang berdekatan dengan Ramadan, menurutnya, menjadi kesempatan memperbaiki kualitas dan kuantitas keimanan.
Ia mengajak jemaah untuk mencari majelis taklim dan lingkungan yang bisa saling menguatkan.
Apalagi seorang mualaf memulai kehidupan spiritualnya mulai dari nol. Sehingga upaya-upaya dalam perkuatan keimanan amatlah penting.
“Kalau tahun baru Imlek itu kan bentuk syukur, semacam sedekah bumi. Mensyukuri hasil rezeki, berkumpul keluarga, makan bersama. Tasyakuran tidak masalah, selama tetap dalam koridor syariat,” ujarnya.
Ustaz Mahdi juga mengaku terkesan, meskipun jemaah tak lebih dari 20 tahun namun hal tersebut menunjukkan gairah yang tinggi. Khususnya bagi Muslim Tionghoa maupun kalangan mualaf.
Pihaknya menjelaskan, dulu saat awal-awal Nabi Muhammad menerima wahyu pun, istri Nabilah yang menjadi mad'u (orang yang diajak menuju jalan Allah dengan ajaran Islam), baru keluarga, kerabat dan masyarakat secara umum.
Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, Maria Leoni atau Tan Swan Chu (38). Ia memeluk Islam setidaknya sejak usia 17 tahun.
Ia menyebut, kegiatan serupa sejatinya lebih banyak terpusat di Semarang. Namun di Jepara, silaturahmi tetap dirawat meski jumlahnya belum besar.
“Chinese Muslim di sini kebanyakan pendatang. Tapi komunikasi tetap berusaha kami jalin. Silaturahmi dan saling mengenal itu penting,” katanya.
Ia bercerita, komunitas Muslim Tionghoa di Jepara sudah ada sekitar tahun 1970-an. Kini pihaknya berupaya terus mengeratkan tali persaudaraan tersebut.
Sehingga digelarlah pengajian tersebut di hari perayaan Imlek, yang juga bertepatan dengan momentum datangnya Ramadan. Kini, komunitas tersebut semakin terbuka dan membaur.
Dalam momen Imlek, mereka juga berbagi angpao tanpa memandang usia. Baik kalangan muda maupun tua menerima, amplop merah sebagai simbol berbagi rezeki.
“Ada istilah dalam tradisi Tionghoa, semakin banyak memberi angpao, semakin berkah. Saya pribadi merasakan, semakin banyak memberi, urusan semakin dimudahkan. Rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” sambungnya.
Selain angpao, dalam tradisi Imlek tak jarang kue keranjang pun turut dihidangkan.
Bukan sekadar sajian khas, tetapi simbol harapan akan rezeki yang lengket dan hubungan keluarga yang erat.
Salah satu jemaah, Peng Bun Khiong atau Hartono (58), mengaku memeluk Islam sejak 1996.
Ah Cay sapaan akrab Hartono menceritakan, sejak kecil ia besar di Singapura. Namun setelah menikah dengan warga Jepara, ia kini menetap di Kelurahan Pengkol, Jepara, bersama istri dan empat anaknya.
“Dalam penanggalan Tionghoa ada 12 shio, tahun ini shio kuda api. Katanya panas. Ya kami bikin tenang saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, tetapi momentum memperbaiki diri. Prinsip hidup yang ia pegang sejak kecil adalah bekerja cepat dan tepat, tidak menunda-nunda pekerjaan.
“Harapannya setiap tahun sehat, panjang umur, anak-anak sejahtera, semakin istiqamah,” tuturnya.
Ia menilai Jepara sebagai daerah yang terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang baik membuat masyarakat memiliki pekerjaan dan mengurangi tingkat stres sosial.
“Jepara sekarang bagus. Banyak investor masuk, anak muda dapat pekerjaan. Ekonomi berkembang. Semoga damai dan sejahtera,” katanya.
Menutup perbincangan, Hartono mengaku rutin berziarah ke Makam Mantingan (Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin) sebagai bentuk penghormatan sejarah, tradisi dan leluhur.
Menjadi Muslim bagi Ah Cay di Jepara bukan soal perbedaan, melainkan harmoni, antara iman, budaya, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
"Kami sekeluarga juga bercita-cita mau ziarah ke Tanah Suci (Makah dan Madinah, red)," pungkasnya.(*)
Editor : Ali Mustofa